Minggu, 26 Oktober 2014

/ Bisnis & Keuangan

Kisruh TPI

TPI: Ada Intimidasi dari Pemilik Saham Lama

Senin, 28 Juni 2010 | 17:34 WIB

JAKARTA , KOMPAS.com -  Klaim Mbak Tutut atas peralihan kepemilikan saham PT Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dari PT Berkah Karya Bersama menuai tanggapan dari direksi. Direktur utama TPI, Sang Nyoman Suwisma mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan langkah hukum atas segala tindakan yang dilakukan pemilik saham lama itu, termasuk dengan melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib." Jangan sampai posisi TPI yang sudah kembali baik terganggu dengan masalah ini,” tegasnya, Senin (28/6/2010).

Nyoman bilang apa yang dilakukan Mbak Tutut tidak berdasar hukum. Karena dasar hukum yang mereka sampaikan bukan merupakan Surat Keputusan (SK) Kementerian Hukum dan HAM. Surat tersebut juga tidak sesuai dengan kaidah hukum di mana surat Pelaksana Harian Direktur Perdata No. AHU.2AH.03.04-114A tanggal 8 Juni 2010, dengan mengatasnamakan Kementerian Hukum dan HAM, dapat membatalkan Surat Keputusan Menteri. "Tentunya hal ini menjadi preseden buruk bagi kepastian hukum di Indonesia karena tidak menghormati lembaga peradilan yang ada," tegasnya.

Pihak TPI juga menegaskan tindakan intimidasi yang dilakukan oleh kelompok tersebut sudah di luar ketentuan hukum yang berlaku. Seperti diketahui, dasar yang digunakan untuk pengambilalihan manajemen secara paksa sebagaimana dimaksud dalam butir a di atas adalah tembusan surat tersebut seharusnya disampaikan pula kepada TPI namun TPI tidak pernah menerima surat tersebut.

Sekadar catatan, pada Sabtu (26/6) malam, Japto S. Soerjosoemarsono, direktur utama TPI dari kubu Mbak Tutut, mendatangi kantor TPI. Tapi, tokoh ormas Pemuda Pancasila itu membantah kunjungan tersebut sebagai langkah pendudukan. "Yang datang hanya tujuh orang direktur hasil RUPSLB 23 Juni. Kami datang untuk memberitahu perkembangan masalah ini," katanya.

Japto ditunjuk menjadi dirut TPI dalam RUPSLB yang digelar kubu Mbak Tutut pada 23 Juni silam.

Andi F Simangunsong, kuasa hukum Berkah Karya, bilang sudah melaporkan "kedatangan" kubu lawannya itu ke polisi. "Yang datang sekitar 150 orang berkendaraan motor dan langsung melakukan pengumuman direksi baru. Ini teror," katanya. (Epung Saepudin/Kontan)


Editor : Erlangga Djumena