Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 10:17 WIB
Elpiji
JK: Ledakan Tabung Bukan karena Konversi
Caroline Damanik | Erlangga Djumena | Kamis, 8 Juli 2010 | 17:49 WIB
|
Share:

KOMPAS.com/Caroline Damanik
Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ketika berbincang tentang konversi minyak tanah ke gas dengan KOMPAS, KOMPAS.com dan KOMPAS TV di kantornya, Kamis (8/7/2010)..

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menampik maraknya fenomena ledakan tabung gas semata-mata disebabkan karena tidak tepatnya kebijakan konversi minyak tanah ke gas.

Menurut Kalla, ledakan tabung gas merupakan fenomena umum dalam penggunaan gas. "Ini masalah umum dari gas, bukan karena konversi ke tabung gas 3 kg," tuturnya di Gedung Cyber 2, Kamis (8/7/2010).

Merujuk pada data Kompas 27 Juni lalu, Kalla mengatakan, sekitar 30 persen peristiwa ledakan tabung gas terjadi pada pengguna tabung gas 3 kg dan sekitar 11 persen terjadi pada pengguna tabung 12 kg dengan 36 peristiwa ledakan dalam tiga tahun belakangan.

Memang lebih banyak terjadi pada pengguna tabung gas 3 kg. Namun, persentase itu tinggi karena tabung gas 3 kg yang beredar di tengah masyarakat juga meningkat 10 kali lipat. Jumlah tabung gas 3 kg yang beredar di masyarakat hingga kini sekitar 60 juta, sedangkan tabung 12 kg sekitar 7 juta.

"Artinya, setiap dua juta tabung ada satu insiden selama tiga tahun. Saya tak mau mengatakan ini sebenarnya, tapi dari segi jumlah memang tidak terlalu besar. Tapi, apa pun harus kita perbaiki," ungkapnya.

Menurut Kalla, penyebab utamanya justru berada di unsur teknis di lapangan terkait tabung dan aksesorinya, umur peralatan, elpiji, dan cara pemakaiannya. Kualitas tabung dan aksesorinya tidak boleh ditawar.

Kalla mengatakan, ketika awal konversi, dia sudah menekankan pentingnya kualitas tabung dan aksesorinya agar sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Umur peralatan juga harus menjadi perhatian masyarakat. Umur tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik. Oleh karena itu, lanjutnya, masyarakat harus mengingat selang gas hanya berumur sekitar 1-2 tahun. Setelah itu, selang harus diganti.

Kalla melanjutkan, elpiji pun bisa menjadi faktor penyebab ledakan, yaitu jika kebocoran gas tidak menimbulkan bau menyengat yang ditimbulkan oleh bau kandungan Merkaptan. Oleh karena itu, kandungan ini harus ditambahkan dalam elpiji.

Terakhir merupakan faktor cara pemakaian. Kalla mengatakan, pemerintah harus mengambil tanggung jawab dalam untuk melakukan sosialisasi dengan ketat.