Jakarta, Kompas
”Sosialisasi yang perlu diperkuat pertama-tama menyangkut peralatan komponen kompor gas, seperti kompor, selang, klep, dan regulatornya,” kata Jusuf Kalla dalam wawancara dengan Kompas di ruang kerjanya di Jakarta, Kamis (8/7), menanggapi adanya sejumlah peristiwa ledakan akibat bocornya tabung elpiji di Tanah Air.
Jusuf Kalla adalah penggagas program konversi energi yang telah dimulai sejak Maret 2006, yang pelaksanaan di lapangan dimulai tahun 2007. Kalla menyatakan, secara moril, dirinya harus menjelaskan ihwal program konversi energi dan tantangan ke depan yang harus dilakukan pemerintah, terutama Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Berdasarkan ihwal penyelenggaraan program konversi energi, kata Kalla, Kementerian ESDM semestinya yang memimpin proses sosialisasi ini. Pasalnya, semua anggaran program konversi, termasuk pengadaan tabung elpiji oleh Pertamina, berada di Kementerian ESDM.
Peristiwa ledakan tabung elpiji tiga kilogram haruslah menjadi introspeksi semua pihak, termasuk masyarakat pengguna. Bisa saja, menurut Kalla, sewaktu sosialisasi dilakukan, orangtua menyuruh anak-anaknya mendengarkan sosialisasi tersebut.
Padahal, dulu, proses sosialisasi menelan biaya ratusan miliar rupiah dan melibatkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Kalla juga menyebutkan, sosialisasi diperlukan untuk menyadarkan masyarakat pengguna bahwa tabung elpiji tiga kilogram sesungguhnya memiliki ”alarm” berupa bau yang menyengat ketika terjadi kebocoran gas.
Pertamina harus memperbaiki kualitas produknya supaya bau gas dipertajam. Umur tabung elpiji adalah lima tahun, sedangkan selang, regulator, dan katup bisa bertahan hingga dua tahun.
”Ingat, tabung gas bukan milik masyarakat, tetapi milik Pertamina yang setiap minggu harus diisi; sehingga Pertamina juga harus memeriksa betul-betul masa pakainya. Bahkan, kalau memang sudah rusak sebelum berakhir masa pakainya, ya, dihancurkan saja,” papar Kalla.
Sejak program diluncurkan, produksi tabung elpiji, baik kapasitas tiga kilogram maupun 12 kilogram, secara total mencapai 70 juta tabung. Pertamina harus kian menjaga mutu produknya, terutama tabung elpiji yang banyak dipakai masyarakat.
Selain itu, sosialisasi juga dilakukan terhadap penggunaan produk ber-Standar Nasional Indonesia (SNI). Masa teknis produk yang menjadi paket program konversi energi haruslah diketahui masyarakat.
Kalla meminta masyarakat juga menyadari masa penggantian meskipun produk yang dipakai sudah ber-SNI. Sosialisasi yang perlu diperkuat lagi adalah cara penggunaan kompor gas, terutama menyangkut program konversi energi.
Kalla juga meminta penegak hukum bertindak tegas terhadap pengoplos gas. Hal itu dinilai sudah perbuatan kriminal. ”Biasanya, tabung yang sudah dioplos mengalami kerusakan di bagian seal-nya. Pertamina semestinya juga aware memusnahkan tabung gas itu,” kata Kalla.
Ia menampik apabila kasus ledakan tabung elpiji itu kemudian bakal dipolitisasi. ”Tidak ada politisasi karena media menyajikan fakta-fakta. Kita tidak mungkin menghentikan program ini,” kata Kalla.
Menurut Kalla, program konversi energi sejak pertengahan tahun 2006 ini semestinya selesai akhir tahun 2010.
