Kamis, 2 Oktober 2014

/ Bisnis & Keuangan

TDL

Dampak bagi Industri adalah Daya Beli Masyarakat

Senin, 19 Juli 2010 | 15:49 WIB

KOMPAS.com - Industri masih memberi kesan "menerima" kenaikan tarif dasar listrik (TDL) di angka maksimal 18 persen andai hal itu dikaitkan dengan ongkos produksi. Sebagaimana warta Harian Kompas pada Sabtu (17/7/2010), pemerintah memutuskan kenaikan itu adalah kenaikan yang paling mendekati level yang diterima dunia usaha.

Sementara itu, menurut catatan kenaikan tarif listrik versi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang juga dilansir koran tersebut, ada tujuh sektor industri yang mengalami kenaikan biaya produksi. Berturut-turut dari yang tertinggi adalah kenaikan biaya produksi di industri kosmetik 50,85 persen. Menyusul di belakangnya adalah industri jamu (37,27 persen). Selanjutnya, industri tekstil dan industri sepatu masing-masing menorehkan kenaikan biaya produksi sama yakni 35-47 persen.

Pada urutan di bawahnya adalah industri besi dan baja yang membubuhkan kenaikan biaya 34,4 persen dan pusat perbelanjaan 31,6 persen. Kemudian, urutan paling buncit kenaikan ongkos tersebut dibukukan industri makanan di angka 30 persen.

Berkenaan dengan itu, menjawab pertanyaan Kompas.com pada Senin (19/7/2010), Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan, industri jamu memang tidak terkena langsung dampak TDL itu. "Saya sudah hitung, tarif listrik lamanya, misalnya, Rp 500, ya, naiknya cuma 25 sen. Jadi memang enggak pengaruh," katanya di sela-sela peluncuran iklan layanan masyarakat produk Tolak Angin yang menganjurkan perilaku berobat ke dokter sebelum terlambat serta simposium bertemakan penggunaan obat herbal.

Kendati begitu, industri jamu, juga industri di sektor-sektor lainnya, aku Irwan, terkena dampak TDL tidak langsung. "Maksudnya, dampak karena daya beli masyarakat," katanya.

Meski belum memiliki data yang akurat, Irwan meyakini, kenaikan TDL akan berpengaruh pada daya beli masyarakat. Artinya, daya beli tersebut dipastikan bakal menurun lantaran masyarakat berhitung ulang untuk memetakan secara kritis prioritas kebutuhan-kebutuhannya. "Itu dampak TDL bagi industri," katanya menegaskan.

Kembali, dalam kesempatan tersebut, Sido Muncul bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) terkait kampanye berobat tersebut. Khusus dengan IDI, Jakarta adalah kota kesepuluh dari program sosialisasi dimaksud setelah Bogor, Semarang, Banjarmasin, Yogyakarta, Medan, Lampung, Bandung, Pekanbaru, dan Padang.

Sementara, dalam acara yang berlangsung di Rumah Sakit Kanker Dharmais tersebut, Sido Muncul memberikan bantuan Rp 150 juta untuk pasien tidak mampu secara finansial yang dirawat di rumah sakit tersebut.

Hingga akhir 2009, ada 600 juta sachet Tolak Angin yang diproduksi. Pada 2010, Tolak Angin dipatok target produksi 800 juta sachet.

 


Editor : Josephus Primus