JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai wanita pensiunan, Cicih (65) mengaku kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank. Sudah berkali-kali ia mencoba dan selalu ditolak karena tidak memiliki penghasilan yang tetap. Menjadikan rumah untuk jaminan pun terlampau berisiko.
"Susah kalau di bank karena kita pensiunan. Kalau ngejamin rumah, saya takut risikonya gede, dan takut nggak mampu bayar bunganya," ujar Cicih, Senin (23/8/2010), saat ditemui Kompas.com di Pegadaian Senen.
Cicih yang ditemani anak bungsunya siang itu tengah memperpanjang pinjamannya di Pegadaian. Karena sulit mendapatkan pinjaman dari bank, Cicih memang akhirnya beralih ke Pegadaian. "Yah walaupun nggak seberapa, tapi di sini enak kalau kita masih belum ada uang kayak saya ini, saya bisa perpanjang lagi cukup bayar bunganya saja. Walaupun saya paling pinjam 1-3 juta," ujar ibu dengan delapan orang anak ini.
Bagi para nasabah Pegadaian, memang diberikan keluasan untuk mengembalikan pinjaman. Misalnya, apabila nasabah menjaminkan perhiasan emas, berlian, atau logam mulia untuk mendapat kredit, maka akan diberikan tempo empat bulan. Apabila pada tanggal jatuh tempo tidak memiliki uang untuk menebus barang yang dijaminkan, nasabah masih bisa memperpanjangnya lagi dengan hanya membayar bunga sebelumnya.
Perpanjangan pun bisa dilakukan beberapa kali, tanpa batas. Menggadaikan emas kesayangannya, bagi Cicih bukan berarti tanpa beban. Namun, melihat kenyataan di mana dirinya harus berjuang seorang diri untuk anak-anaknya setelah ditinggal meninggal suami, Cicih mau tidak mau harus bangkit dan berjuang menyambung hidupnya.
"Saya gadaikan ini emas saja, mau apa lagi? Untuk usaha supaya tetap jalan jadi bisa bantu anak juga," ujar Cicih yang kini berjualan pakaian jadi di Cempaka Putih tersebut.
Baginya, bulan Ramadhan atau kini menjelang lebaran sama saja dengan hari biasanya. "Saya ke sini bukan khusus untuk menggadaikan apa jelang lebaran. Buat saya sama saja, kalau memang lagi butuh saya akan ke sini. Dan kebetulan sekarang saya mau perpanjang karena uangnya belum terkumpul," ujar Cicih.
Ia mengaku, meski sudah menjelang lebaran, usahanya di bidang garmen pakaian jadi pun tidak juga menunjukkan keuntungan yang berlimpah. "Semoga saja nanti pas seminggu sebelum lebaran, ramai, jadi saya bisa tebus jaminannya," ungkap Cicih.
Meski sudah tampak lanjut usia dengan mata cekung, rambut putih, dan kerut di seluruh permukaan kulitnya, Cicih mengaku tidak ingin mengeluh akan keadaanya. Ia menyebut, meski sudah uzur, tidak bisa berdiam diri dan menggantungkan nasibnya pada anak-anak.
Sebaliknya, ia justru tetap berkeinginan membantu anak-anaknya yang semuanya kini sudah berkeluarga. Berjualan sendirian pun tak masalah buatnya. "Lihat nih KTP saya sudah tidak ada batas waktunya, sudah seumur hidup. Tinggal nunggu dipanggil Tuhan saja. Tapi selagi bisa, saya tidak bisa diam," ucap Cicih dengan nada pelan meski ada kemantapan yang tersorot dari matanya.
Usaha garmen memang menjadi tumpuannya sekarang. Barang-barang berharga seperti emas pun sudah digadaikan demi kelangsungan usaha tersebut. Cicih tidak mempersoalkan dirinya tidak lagi disinari kilauan emas sebagaimana perempuan lainnya.
Masa depan dan kelangsungan hidup membuatnya lupa memikirkan hal tersebut. Maklum, fenomena yang biasanya terjadi di Pegadaian jelang lebaran adalah masyarakat yang datang berbondong-bondong untuk menebus emas yang selama ini digadaikan. Emas menjadi simbol kesuksesan saat pulang kampung nanti, meski kenyataannya tidak selalu demikian.
