JAKARTA, KOMPAS.com — Diskon besar-besaran yang gencar dipromosikan sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta sepertinya tidak begitu dihiraukan oleh Rusmini (39). Pasalnya, wanita yang sehari-hari berjualan gorengan di kawasan Senen, Jakarta Pusat, ini tidak sanggup membeli pakaian di pusat perbelanjaan modern.
"Biarpun sudah didiskon sampai 100 persen tetap saja harganya mahal," katanya.
"Penghasilan saya sehari-hari cuma cukup untuk makan, jadi untuk beli baju lebaran di mal sepertinya sangat tidak mungkin," ujarnya.
Rusmini tinggal bersama dengan lima anaknya di sebuah kontrakan kecil di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Kelima anak Rusmini hanya tamatan sekolah dasar karena suaminya yang bekerja sebagai tukang ojek tidak dapat membiayai sekolah mereka.
Menjelang hari raya Idul Fitri, keluarga Rusmini hanya bisa membeli baju lebaran di pasar loak Poncol di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Saat ditemui Kompas.com, Senin (30/8/2010), Rusmini tengah sibuk memilih baju.
"Sebenarnya ingin sekali membelikan baju baru untuk anak-anak saya, tapi keadaan tidak memungkinkan," tutur wanita asal Purworejo ini.
Dengan uang Rp 50.000, Rusmini bisa mendapatkan empat pakaian bekas. "Saya cuma punya uang Rp 75.000 untuk beli baju lebaran dan itu juga harus dicukup-cukupkan supaya semua anak saya kebagian jatah," katanya.
Masalah kualitas baju seperti ukuran yang tidak pas, warna yang sudah pudar, dan model pakaian yang sudah ketinggalan zaman tidak diperhitungkan Rusmini.
"Biasanya sebelum dipakai, baju-baju bekas ini saya wantek dulu supaya warnanya tidak terlalu pudar," ujarnya.
"Sedih memang melihat anak-anak lain memakai baju baru yang bagus, sedangkan anak-anak saya minder karena bajunya lusuh," sambungnya menahan air mata.
Rusmini berharap, Lebaran tahun depan dia dan suaminya bisa membeli baju lebaran yang layak untuk anak-anaknya. "Tahun depan akan saya usahakan meskipun harus dengan jalan meminjam uang agar bisa lihat anak-anak saya senang," ucapnya.
