JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Rakyat Indonesia (BRI) berencana menambah modal PT Bank Agroniaga (Bank Agro) sekitar Rp 300 miliar usai proses akuisisi bank itu oleh BRI selesai. "Kita lihat berapa modal yang dibutuhkan. Dari hasil perhitungan butuh sekitar Rp 300 miliar menyesuaikan dengan perkembangan bisnis saat ini," kata Dirut BRI Sofyan Basyir di Jakarta, Jumat (3/9/2010). Dikatakannya, setelah menjadi pemilik mayoritas bank Agro, BRI tentu ingin agar bank itu tumbuh berkembang pesat dari segi pendanaan dan permodalan. "Bank Agro nantinya tidak hanya memberi kredit kepada PTPN saja harus lebih luas, sehingga perlu tambahan modal," katanya. Sebelumnya BRI telah berhasil membeli 88,85 persen saham milik PT Dana Pensiun Perkebunan (Dapenbun) di Bank Agro dan pengesahannya tinggal menunggu RUPSLB pada akhir tahun ini. Jumlah saham yang dibeli BRI itu telah memperhitungkan adanya waran I yang belum dieksekusi oleh pemegang saham lain. Sehingga nantinya posisi saham di Bank Agro adalah BRI 76 persen, Dapenbun 14 persen, dan publik 10 persen. Sekretaris Perusahaan BRI Muhammad Ali mengatakan pembelian Bank Agro bertujuan untuk memperkuat posisi UMKM BRI di bidang agribisnis sehingga fokus dalam mengembangkan usaha tani. Pada akhir bulan lalu, Muhammad Ali mengatakan bahwa mengenai rencana stock split atau pemecahan nilai saham BRI masih dalam kajian tim di BRI, dan belum diketahui rencana waktu serta besaran pemecahan nilainya. "Ini masih kajian, kita belum tahu kapan dilakukan," katanya. Ali juga mengatakan, rencana stock split ini tidak harus menunggu saham BRI mencapai nilai Rp10.000 per saham, karena yang penting nilai saham setelah dipecah masih menarik bagi investor. "Kita lihat kondisi pasar, sekarang memang masih bagus. Mudah-mudahan triwulan IV ini bisa dilakukan," katanya.


