Kamis, 9 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 9 Februari 2012 | 02:23 WIB
Upal
Belum Ada Tren Kenaikan Uang Palsu
Sandro Gatra | I Made Asdhiana | Jumat, 3 September 2010 | 21:08 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Mokhammad Dakhalan, Direktur Pengedaran Uang Bank Indonesia, mengatakan, belum ada kenaikan jumlah uang palsu atau upal yang beredar di masyarakat dibanding tahun 2010. Data per Juni 2010, jumlah yang beredar masih sama dengan tahun lalu.

Rasio uang palsu terhadap uang yang diedarkan secara keseluruhan 8 lembar per 1 juta lembar. Ini artinya masih sama yang terjadi ditahun 2009.
-- Dakhalan

"Rasio uang palsu terhadap uang yang diedarkan secara keseluruhan 8 lembar per 1 juta lembar. Ini artinya masih sama yang terjadi ditahun 2009. Ini posisi per Juni. Tidak ada peningkatan, mudah-mudahan memang demikian," kata Dakhalan saat memberi keterangan terkait pengungkapan sejumlah kasus upal di Mabes Polri, Jumat (3/9/2010).

Terkait terus beredarnya upal di Indonesia, kata Dakhalan, fenomena itu tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga terjadi di berbagai negara lain. Menurut dia, BI secara terus menerus memperbaiki pengaman di lembaran uang. "Hal yang lebih penting, BI terus sosialisasikan kepada masyarakat. Yang paling gampang gunakan 3 D, dilihat, diraba, diterawang. Itu level pertama yang harus dilakukan masyarakat," katanya.

Saat rilis bersama Polri yang diwakili Kanit IV Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Kombes Darmawan Suta W, kedua lembaga mengumumkan telah menyita upal senilai Rp 9.203.426.000 sejak Januari 2010 hingga Agustus 2010. Upal itu dalam berbagai pecahan mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 1.000. Pecahan yang paling banyak dipalsukan yakni Rp 100.000.

Hingga saat ini Polri telah menetapkan 79 tersangka. Beberapa diantaranya residivis dalam kasus yang sama.