LAUT JAWA, KOMPAS.com — Moda transportasi kapal laut lebih diminati para pemudik yang berasal dari Sulawesi. Mudik dengan kapal laut diyakini lebih hemat karena tiket pesawat menuju ke Sulawesi menjelang Lebaran sangat melambung.
"Biasanya memang kita pulang ke Palu naik pesawat, tapi karena jelang Lebaran ini sangat mahal, jadi lebih murah kalau pakai kapal sampai Makassar lalu lanjut lagi bus," ujar Syahril (39), salah seorang peserta mudik bareng TelkomselSiaga, Senin (6/9/2010) di KM Gunung Dempo.
Menurutnya, harga tiket pesawat ke Palu bisa dua kali lipat harganya jika dibandingkan hari biasa. Untuk keperluan mudik ini, Syahril yang datang bersama enam anggota keluarganya yang lain ini memperkirakan biaya mudiknya bisa mencapai Rp 10.000.000 untuk ongkos pulang pergi.
"Kalau mudik untuk satu keluarga istri dan dua anak bisa, belum lagi tambah sepupu juga ikut itu pasti lebih dari Rp 2.000.000. Jadi, kalau bolak-balik ongkos dan lain-lain bisa sampai Rp 10.000.000," ujarnya kepada Kompas.com.
Jika dibandingkan dengan pesawat, Syahril mengaku lebih nyaman menggunakan pesawat. Pasalnya, kapal laut memakan waktu sampai tiga hari perjalanan, sedangkan pesawat hanya tiga jam.
Selain itu, ia dan tiga anggota keluarga yang lain juga tidak kebagian tempat tidur sehingga harus terpaksa tidur di kolong tangga. "Tapi ini masih mending daripada dulu tahun 2000 saya pulang naik kapal, saya sekeluarga sampai harus tidur di luar kapal karena ramai sekali. Kalau hujan harus cari tempat berlindung. Kalau sekarang jauh lebih enak," kenang Syahril.
Meski demikian, ia mengaku menikmati perjalanan kapal laut bersama keluarga, bahkan anak-anaknya antusias berkeliling bermain di kapal. "Yang penting sampai kampung, lagian di sini selalu ramean jadi happy-happy saja," ujar pria yang berwirausaha di bidang peralatan cuci mobil tersebut.
Serupa dengan Syahril, Tuti (31), pemudik asal Makassar, juga mengaku lebih senang menggunakan kapal laut daripada pesawat ataupun bus. "Kalau naik kapal minimal pas hari biasa ke Makassar Rp 400.000 pas Lebaran ini bisa dua kali lipat," ujarnya saat ditemui Kompas.com di ruang kelas ekonomi KM Gunung Dempo. Namun, karena Tuti ikut program mudik bareng TelkomselSiaga, ia pun hanya membayar Rp 216.000 untuk sampai ke Makassar.
Selain masalah biaya, mudik dengan kapal laut juga dirasakan menyenangkan karena adanya jalinan silaturahim antar-sesama penumpang. "Berhari-hari kita di laut, mau enggak mau pasti kenalan, ngobrol, akhirnya tukar-tukaran makanan, udah kayak saudara sekampung," ungkap Tuti.
Berdasarkan pantauan, sebagian besar pemudik di KM Gunung Dempo merupakan pemudik asal Sulawesi, terutama Makassar. Pemudik asal Jawa di mana kapal ini bersandar di Tanjung Perak (Surbaya) tidak banyak ditemui.
Hal tersebut diakui Corporate Account Management Telkomsel Veronica Endah, selaku penyelenggara mudik bareng kapal laut Telkomsel Siaga di KM Gunung Dempo. "Saat kita survei ternyata pemudik asal Jawa lebih memilih jalur darat karena rutenya lebih dekat dan tiket-tiket moda transportasi yang lain juga masih terjangkau," ungkapnya.
Hingga H-4, penggunaan kapal laut untuk mudik masih belum mencapai puncaknya. Di KM Gunung Dempo sendiri, sebagian besar penumpang masih bisa teratasi dengan jumlah tempat tidur yang ada, yakni sebanyak 1.580 buah.
