Jumat, 1 Agustus 2014

/ Bisnis & Keuangan

ARISAN RUMAH

Dari Geribik ke Rumah Gedong

Rabu, 13 Oktober 2010 | 07:30 WIB

Baca juga

Oleh Yulvianus Harjono

KOMPAS.com - Budi Rahardjo dari Heifer International Indonesia tertegun saat berkunjung ke rumah Iwan Darmawan, penyuluh kehutanan di Lampung Tengah. ”Wah, beberapa bulan lalu masih geribik, sekarang sudah jadi gedong,” kata Budi Rahardjo.

Merasa penasaran, tamu lainnya pun bertanya, ”Dari mana dananya? Kok hebat betul bisa langsung bangun rumah?” Tak ingin membuat tamunya kian penasaran, Iwan yang bekerja sebagai penyuluh kehutanan tanpa digaji ini pun menjawab, ”Dari uang kocokan arisan. Kalau tidak, mana bisa.”

Iwan tidak sedang bercanda. Rumah berdinding bata tapi belum diplester itu, dan beratap genteng tapi belum berplafon itu, memang dibiayai dari hasil arisan rumah yang sejak lama membudaya di kalangan warga di Kecamatan Sendang Agung, Lampung Tengah.

Bagi warga di perkotaan, arisan identik ajang para ibu rumah tangga berkumpul. Terkadang juga begitu lekat dengan hal-hal berbau negatif, macam wadah gosip dan pemicu konsumerisme. Bahkan, tak sedikit arisan dijadikan ladang mencari duit oleh mereka yang licik. Media tidak jarang memberitakan bagaimana uang arisan dibawa lari oleh oknum pengelolanya.

Di Sendang Agung justru sebaliknya. Arisan betul-betul dimanfaatkan untuk tujuan bersama dan kebaikan anggotanya. ”Kami ini sadar kalau serba kekurangan secara ekonomi. Untuk bangun rumah sendiri, tidak mungkin. Satu-satunya cara, ya, saling percaya, kumpulkan modal lewat arisan ini,” ujar Iwan yang juga ketua arisan rumah di kampungnya di Desa Sendang Asih, Lampung Tengah.

Di kelompoknya, jumlah peserta arisan rumah ada 22 keluarga. Iuran arisan bukanlah uang, tapi berupa natura. Tiap kali penarikan, anggota menyerahkan iuran wajib berupa 3 zak semen, 10 kilogram beras, 3 kantong paku, dan 1 pak rokok.

Dengan pola iuran berbentuk natura, warga yang mendapat kesempatan ”narik” terakhir tak perlu khawatir nilai materinya menyusut akibat inflasi. Berbeda jika iuran dalam bentuk uang, yang nilainya akan terus menyusut dari tahun ke tahun.

Belasan tahun

Pola arisan rumah ini telah berlangsung selama belasan tahun. Dari 23 anggotanya, kini semuanya sudah memiliki rumah gedong, bukan lagi geribik—rumah dari bilik-bilik bambu—seperti dulu. ”Putaran pertama sudah clear. Sekarang jalan putaran kedua untuk renovasi dapur dan tambahan kamar,” ujar Sunarti (34), warga Desa Sendang Mulyo, yang juga peserta arisan.

Tidak pernah sekali pun ada kasus warga kabur atau mangkir dari kewajiban meneruskan arisan. Pola arisan rumah ini jadi pemandangan umum di Kecamatan Sendang Agung, Lampung Tengah. Setidaknya— dari hasil pemantauan Kompas— ada tiga desa yang melakukannya, yaitu Sendang Asih, Sendang Agung, dan Sendang Baru. Ratusan warga terlibat di dalamnya.

Dalam setahun, penarikan dilakukan dua kali, yaitu seusai panen padi. Jadi, dalam setahun setidaknya dua rumah bisa dibangun dari arisan ini. ”Yang ’narik’ terserah siapa yang sudah siap lebih dulu,” ujar Sunarti.

Sebelum ”narik”, peserta menyiapkan dahulu bahan-bahan pendukung material lainnya, seperti batu bata dan genteng. Batu batu-batu bata buatan sendiri ini biasanya ditaruh berjajar di samping rumah-rumah lama yang masih berwujud geribik atau bilik-bilik bambu. Hal ini menjadi pemandangan umum di kampung ini.

Pertanyaan berikutnya, dari mana tenaga pengerjaannya? ”Ya, kami-kami inilah (anggota arisan). Kalau tidak, dari mana lagi?” ujar Suratman (53), warga Dusun II, Desa Sendang Mulyo, di sela-sela pengerjaan rumah baru milik tetangganya yang baru saja menikah.

Ia dan sembilan warga lainnya saat itu bekerja sebagai ”tukang dadakan” membangun rumah. Ada yang bertugas mengaduk semen, ada yang mengantar hasil adukan, sisanya menyusun batu bata menjadi dinding-dinding bangunan. Satu orang, si ketua arisan di dusun setempat, Suparman (52), bertugas mengomandoi pekerjaan ini.

Kurang dari seminggu, bangunan 9 meter x 10 meter, terdiri atas lima kamar berukuran besar, hampir selesai. Hal yang tidak mungkin terjadi jika dikerjakan oleh segelintir tukang.

Semua pekerjaan dilakukan secara sukarela tanpa bayaran sepeser pun. Makan dan rokok didapat dari iuran arisan yang telah dikumpulkan sebelumnya. ”Kami mau melakukan ini karena ingin punya rumah gedong, tidak lagi geribik. Kalau ingin dibantu, harus membantu dahulu,” ujar Suparman.

Rumah gedong adalah istilah warga sekitar untuk bangunan rumah berupa batu bata dan semen. Belasan tahun lalu, mayoritas rumah warga di Sendang Mulyo masih berupa geribik. Namun, jika dilihat sekarang, hampir semuanya telah berganti wajah: rumah gedong!

”Masih sih ada segelintir yang berupa geribik. Mereka inilah yang biasanya tidak ikut arisan. Jadinya gitu-gitu aja rumahnya,” ungkap Jumeri, salah seorang tokoh desa di Kampung Sendang Mulyo. Modal sosial

Ke depan, saat semua warga sudah memiliki rumah yang memadai untuk tinggal, mereka berancang-ancang untuk meningkatkan fungsi arisan. Tidak hanya untuk membangun rumah, tapi juga untuk membeli motor atau pinjaman biaya sekolah.

”Jadi tidak perlu lagi ada bunga-bunga segala dan harus puyeng berurusan dengan bank,” ungkap Sunarti.

Warga di Kecamatan Sendang Agung mayoritas adalah buruh tani, sebagian kecil jadi petani kakao. Mereka mayoritas perantau asal Jawa. Hidup di daerah ini tidaklah mudah karena sebagian besar wilayahnya berada di kawasan hutan register yang dilindungi.

Penghasilan mereka pun tidak menentu, rata-rata di bawah Rp 400.000 per bulan. Bagi mereka yang sangat miskin, tidak sanggup ikut arisan, warga tidak begitu saja menutup mata. ”Kami tetap bergotong royong membangun rumah dengan sumbangan material seadanya. Tidak bagus memang, tapi yang penting uyup (tidak bocor),” ungkap Nud Sucipto, Kepala Desa Sendang Baru.

Kuatnya kebersamaan warga Kecamatan Sendang Agung yang dimodali kesamaan nasib ini membuat banyak LSM dan pihak luar terkesan. Mereka telah memberikan contoh nyata bahwa modal sosial gerakan masyarakat madani bisa jadi modal paling berharga, mengalahkan modal finansial sekalipun.


Editor : Jimmy Hitipeuw
Sumber: