Minggu, 23 November 2014

/ Bisnis & Keuangan

Inspirasi Usaha

Mencecap Usaha Es Krim yang Maknyuss

Rabu, 16 Februari 2011 | 14:47 WIB

KOMPAS.com — Camilan beku berbahan dasar susu ini memang banyak peminatnya. Seiring dengan citra produk yang makin umum untuk semua usia, para pemain bisnis baru di usaha es krim pun makin banyak bermunculan.

Mereka pun mengaku persaingan kian sengit. Karena itu, inovasi rasa dan patokan harga murah menjadi strategi untuk menggapai pasar yang lebih luas.

Melalui tulisan ini, KONTAN mencoba mengulas bisnis es krim dengan membandingkan kondisi saat kami wawancara setahun lalu dengan perkembangannya sekarang.

 

• Mr Cool

PT Mudamas Intan Samudera mulai menawarkan waralaba Mr Cool sejak September 2009. KONTAN pernah meliputnya pada Juli 2010.

Saat itu, sudah berdiri ratusan gerai yang tersebar di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Di tiap kota juga berdiri agen yang berfungsi sebagai master franchise.

Meski kini jumlah master franchise belum bertambah, jumlah mitra di tiap kota terus meningkat. "Rata-rata ada lima mitra baru di tiap kota," kata Adhitya Susilo, Marketing Mudamas Intan Samudera tanpa memerinci.

Bahan dasar es krim ala Mr Cool berbentuk bubuk instan dalam kemasan dengan metode water injection. "Produk es krim ini dibuat dalam bentuk bubuk instan agar mudah dan murah dalam pendistribusiannya," ujar Adhitya.

Biaya kemitraan Mr Cool cukup murah, yakni cukup dengan Rp 1,05 juta saja. Mitra akan mendapatkan paket perdana sebanyak 10 pak bahan baku es krim. Bahan baku sebanyak ini bisa menghasilkan 2.400 bungkus es krim.

Selain itu, mitra juga akan memperoleh fasilitas dua buah alat suntik air dan satu alat pengelem plastik. Sementara itu, peralatan seperti freezer atau kulkas harus disiapkan sendiri oleh mitra.

Karena menggunakan konsep kemitraan, Mr Cool tidak mengenakan biaya tambahan apa pun. Tak ada franchise fee maupun royalty fee. Namun, selama menggunakan merek dagang itu, mitra usaha wajib membeli bahan baku dari Mudamas Intan Samudera. Pengiriman akan dilakukan sebulan dua kali.

Balik modal diperkirakan dalam waktu dua bulan. "Namun, belum memperhitungkan investasi peralatan produksi," ujar Adhitya. Asumsinya, mitra mampu menjual 100 bungkus per hari.

Mudamas Intan mematok harga setiap bungkus es krim Mr Cool Rp 437. Mitra menjual ke konsumen sebesar Rp 1.000 per bungkus. Dari harga tersebut, mitra mendapat margin lebih dari 50 persen.

 

• Baltic Ice Cream

Produk es krim merek Baltic Ice Cream berbeda dengan produk es krim merek lain. Semua bahan bakunya bersifat alami. Misalnya, Baltic Ice Cream selalu memakai susu sapi murni sehingga tekstur es krimnya lembut, tapi tak cepat lumer.

Baltic Ice Cream menawarkan tiga jenis kemitraan. Yakni, bentuk booth, mini kafe, dan kafe. Saat KONTAN mengupas tawaran kemitraan Baltic Ice Cream pada Mei 2009, jumlah gerai mereka baru ada di empat lokasi di seputaran Jakarta dan Tangerang, yakni di Kramat Raya, Meruya, Cibubur, dan BSD City. Rata-rata omzet gerai-gerai itu Rp 102 juta sebulan.

Sejak membuka sistem waralaba April 2009, perkembangan bisnis Baltic Ice Cream cukup baik. Lantaran namanya sudah dikenal, mereka pun berhasil menjaring lima terwaralaba baru.

Dengan sistem waralaba, investor juga punya kewajiban membayar biaya royalti sebesar 5 persen dari total omzet saban tahun. Adapun, investasi awal usaha ini Rp 75 juta. Investasi awal ini sudah termasuk franchise fee Rp 25 juta untuk lima tahun.

Dari biaya investasi ini, terwaralaba akan mendapatkan perlengkapan pembuatan es krim, seperti freezer, booth untuk usaha, dan bahan baku pembuatan es krim. Selain menjual es krim, Baltic Ice Cream juga membolehkan para mitra untuk menjual kopi, teh, bahkan kentang goreng di rombongnya.

Dalam hitungan Baltic Ice Cream, terwaralaba bisa balik modal dalam waktu 10 bulan. Ini dengan asumsi mitra mampu menjual sekitar 80 hingga 125 cup es krim yang harganya mulai Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per cup. "Jika omzet per hari Rp 1 juta, mereka bisa balik modal kurang dari setahun," kata Janto Tan, Manajer Pemasaran Baltic.

Namun, mitra barunya di Radio Dalam, Jakarta Selatan, mampu meraup omzet per bulan sebesar Rp 150 juta. Sedangkan, omzet Baltic pusat di Meruya, Jakarta Barat Rp 250 juta sebulan.

Hanya, hingga saat ini, Baltic Ice Cream belum memutuskan untuk memperluas waralabanya ke daerah luar Pulau Jawa. "Kami masih fokus menggarap di Jabodetabek," ujar Janto.

 

• Revo Es Krim

Pertumbuhan yang baik terlihat dari waralaba es krim PT Revo Indonesia. Lantaran menyasar pasar kelas menengah ke atas, Hendra Barokah, pemilik Revo Es Krim, mengaku usahanya bisa berkembang sangat cepat.

Sejak awal berdiri pada 2008 dan mulai menawarkan waralaba Mei 2009, Revo Es Krim lebih fokus di pasar ini dengan menawarkan harga jual mulai Rp 2.500 hingga Rp 6.000. Kurang dari setahun, gerai mereka bertambah menjadi 125 outlet dan tersebar di seluruh Jabodetabek.

Usaha ini hanya bermodalkan booth kecil sebagai tempat berjualan. Peralatannya juga tak beda dengan gerai usaha minuman lain, yakni teko listrik, shaker minuman, termos, freezer, penyimpan es, serta es krim.

Konsepnya cukup sederhana, calon mitra cukup menyediakan tenaga kerja serta tempat berusaha. Khusus untuk tempat, Hendra menyarankan agar mitra memilih tempat-tempat yang ramai dilalui orang. Seperti mal, pasar, lokasi sekitar kampus, kantin perkantoran, stasiun kereta api, serta terminal bus.

Menurut Hendra, lokasi menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis ini. "Harus dekat dengan tempat bermain anak-anak dan orang tua yang menunggunya," ujarnya.

Mitra tentu harus menyetorkan modal sebagai pengganti biaya peralatan,  perlengkapan usaha, dan bahan baku, serta pelatihan pembuatan minuman. Adapun modal awal Revo Es Krim mencapai Rp 7 juta. Khusus untuk bahan baku selanjutnya, mitra harus membeli di Revo Es Krim pusat. "Bahan dasar kami berbeda dan tidak dijual di tempat lain," tegas Hendra.

Revo Es Krim berani menjamin mitra bakal balik modal dalam waktu minimal dua bulan. Dengan catatan, mitra bisa menjual es krim minimal 50 hingga 60 cup per menu atau sekitar 150 sampai 200 cup sehari. Hebatnya, dalam menjalankan usahanya, Hendra tidak membutuhkan promosi besar-besaran. "Lebih mengandalkan promosi antarmitra saja," ujar dia.

Agar promosi dari mulut ke mulut efektif, Hendra menawarkan hadiah Rp 500.000 serta potongan 20 persen dari pembelian bahan baku saban bulan bagi mitra yang berhasil mengajak investor.

Ketika KONTAN terakhir meliput Revo pada Juni 2009, ada 65 calon terwaralaba yang mengajukan tawaran. "Saat ini sudah ada tambahan 50 waralaba," ujarnya. Mereka tersebar di Jabodetabek, Riau, Palembang, dan Medan.

Menurut Hendra, perkembangan waralabanya lebih diakibatkan harga es krimnya terjangkau tapi kualitasnya tak kalah. "Karena secara umum, daya beli masyarakat cenderung melemah dua tahun belakangan," ujarnya.


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: