Selasa, 2 September 2014

/ Bisnis & Keuangan

Kerajinan Tangan

Agar Kain Sasirangan Banjar Berkibar

Kamis, 3 Maret 2011 | 07:01 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS.com - Perajin kain khas Banjar di Sasirangan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, harus memutar otak agar kain sasirangan tetap berkibar, mengalahkan buatan pabrik yang setahun belakangan marak di pasaran.

Upaya itu diwujudkan dengan memerbanyak motif, mengkolaborasikan dengan batik, hingga membuat dalam bentuk kerajinan lain.

Salah satu perajin yang sudah menerapkan inovasi adalah Sasirangan Kayuh Baimbai di Jalan Pahlawan, Kampung Melayu. Adis, perajin dari Kayuh Baimbai, Rabu (2/3/2011), mengemukakan, pihaknya mengkolaborasikan warna-warna baru di luar warna yang ada. Selama ini sasirangan didominasi satu warna homogin dengan warna lain pada motif.

Begitu pula bentuk motifnya, saat ini dipadu dengan batik Jawa dan daerah lain. Bentuknya juga diperbanyak, tidak hanya sebatas kain, kaos, dan kemeja.

"Sekarang ada sandal, bungkus stoples, dan hiasan lampu yang mengadopsi unsur kain sasirangan. Semua dilakukan agar konsumen memiliki pilihan lain dan tidak perlu repot membuat sendiri," ujarnya.

Selama ini, Kampung Melayu dikenal sebagai sentra Sasirangan di Banjarmasin. Saat ini ada puluhan perajin yang masih bertahan. Dalam membuat kerajinan, mereka merangkul warga sekitar, terutama ibu-ibu untuk proses jerujut (penjahitan). Pembuatan sasirangan hampir sama dengan batik, semua menggunakan tangan.

Prosesnya diawali penyediaan bahan (biasanya kain katun), membuat pola, penjahitan, pencelupan, dan penjemuran. Motif yang dibuat satu perajin berbeda dengan perajin lainnya.

Berbeda dengan produk printing, motif produk sasirangan buatan tangan tidak ada yang sama meski dibuat oleh satu perajin. Ada sekitar 30-an motif sasirangan, antara lain bayam raja, naga balimbur, kulat ka rikit, daun taruju, gigi haruan, dan bintang bahambur.

Karena itulah, perajin setempat bisa mengenali mana sasirangan asli dan yang tiruan. Yaya, perajin sasirangan Azza, yang ditemui terpisah menuturkan produk printing yang akhir-akhir ini masuk ke Banjarmasin diduga berasal dari pabrik tekstil di Jawa, bukan dari China seperti yang berkembang selama ini.

Sejauh ini, menurut Yaya, serbuan produk printing itu belum banyak berpengaruh terhadap perajin sasirangan asli karena pembeli yang paham akan langsung membeli ke lokasi pembuatan.

"Sejauh ini belum ada pengaruh. Tidak tahu nanti karena warga yang mengenakan produk printing saat ini mulai banyak di jalanan," katanya.

 

 

 

 

 

 


Editor : yuli