Selasa, 23 September 2014

/

INDUSTRI KECIL

Perajin Rotan Beralih ke Pasar Lokal

Jumat, 11 Maret 2011 | 04:09 WIB

CIREBON, KOMPAS - Agar bisa tetap bertahan hidup di tengah-tengah persaingan ketat dengan produk rotan China dan Vietnam di pasar global, perajin rotan di Cirebon, Jawa Barat, kini berupaya menyasar pasar lokal. Hal itu dilakukan sekaligus untuk menyiasati semakin melambungnya harga bahan baku rotan dalam lima tahun terakhir.

Arismunandar (22), perajin yang mengelola toko Teguh Mandiri Rotan di Jalan Tegalwangi, Desa Plered, Kecamatan Plered, Cirebon, Kamis (10/3), menuturkan, volume ekspornya turun drastis sejak 2005. Kondisi itu menyusul dibukanya keran ekspor bahan baku rotan melalui keputusan Menteri Perdagangan.

”Dulu, kami bisa mengekspor tiga kontainer per bulan. Kini, tinggal satu kontainer per bulan. Itu pun tidak rutin. Kami bahkan acap kali tidak memperoleh pesanan ekspor sama sekali,” katanya.

Perajin yang meneruskan usaha orangtuanya itu menuturkan, produk rotan Cirebon sukar bersaing di pasar dunia. Bahan baku untuk keperluan dalam negeri menjadi langka karena harus berebut dengan importir. ”Bahan baku menjadi mahal dan berimbas pada kenaikan harga produk. Sementara itu, pada saat yang sama, China dan Vietnam bisa menghasilkan produk serupa dengan harga lebih murah,” ujarnya.

Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komisariat Daerah Cirebon, mencatat, per Februari 2011 harga bahan baku untuk kerangka Rp 12.600 per kilogram (kg). Harga itu naik dibandingkan catatan pada April 2010, yakni Rp 10.000 per kg. Adapun harga bahan baku rotan untuk bahan anyaman Rp 18.800 per kg, naik dari harga sebelumnya Rp 14.500 per kg.

Arismunandar yang sebelumnya rutin mengirim produk rotan olahan ke Australia dan Amerika Serikat, kini fokus pada pasar lokal seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Lampung, dan Palembang. Ia bisa mengirim dua sampai tiga kontainer ke kota-kota tujuan itu.

Keuntungan di pasar lokal bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pasar dunia. Dari satu kontainer, omzet Arismunandar mencapai Rp 120 juta. Dari volume yang sama untuk pasar dunia, ia memperoleh Rp 70 juta-Rp 90 juta.

Kondisi serupa dialami Ono (35), pengelola toko Audy Rotan. Dalam sebulan, ia rata-rata mengirim dua kontainer ke Palembang dan Jakarta.

Ketua Asmindo Komdar Cirebon, Sumartja, menuturkan, peralihan ke pasar lokal tak bisa dihindari karena persaingan yang ketat di pasar dunia. Namun, peralihan ke pasar lokal belum sepenuhnya membangkitkan usaha rotan rakyat yang mati suri selama lima tahun terakhir.

Dulu, Cirebon bisa mengekspor 3.000 kontainer per bulan. Kini, tinggal 1.200 kontainer per bulan. Dari 511 perusahaan setempat yang mengekspor rotan, 320 di antaranya gulung tikar.

(REK)


Editor :