Sabtu, 2 Agustus 2014

/ Bisnis & Keuangan

Inspirasi Usaha

Easy Clean, Pelopor "Laundry" Kiloan

Kamis, 24 Maret 2011 | 16:04 WIB

Baca juga

KOMPAS.com — Padatnya penduduk dan permukiman di kota-kota besar telah melahirkan usaha penatu atau laundry di segala tempat. Bagaimana para penatu ini dapat bertahan di tengah persaingan yang begitu ketat tersebut?

Bagi Anda yang tinggal di Jakarta atau kota-kota besar lain, tidak sulit menemukan jasa penatu di sekitar tempat tinggal. Di satu kompleks perumahan, misalnya, penyedia jasa pencucian pakaian seperti ini bisa puluhan jumlahnya. Maka terjadilah ”perang” antartetangga dalam menjaring pelanggan.

Aditya Trituranta menyikapi hal ini dengan strategi pemasaran berbeda. Ia lebih suka membidik kalangan muda sebagai target usaha penatunya.

Berawal dari tahun 2002, pria yang kini masih aktif bekerja di maskapai penerbangan milik negara itu membuka rumah penatu di Yogyakarta. Ia sengaja menamai usahanya itu dengan unsur lokal.

”Namanya House of Laundry Benresik, itu usaha pertama saya di Yogyakarta,” kata Aditya saat ditemui Kompas.com di rumah penatunya, Jalan Rawa Buntu Utara, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (24/3/2011). Benresik dalam bahasa Jawa ditulis ben resik berarti supaya bersih.

Usaha tersebut diliriknya karena melihat pangsa pasarnya yang kebanyakan mahasiswa. Kebetulan lokasi penatu Benresik itu tak jauh dari kampus Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. Pelanggannya, ya, para mahasiswa UPN itu. ”Saya 'kan juga pernah jadi mahasiswa. Tahulah, gimana kondisi mahasiswa yang malas mencuci dan biasanya cenderung mencuci di laundry,” tutur Aditya.

Setelah setahun membuka usaha di Yogyakarta, Aditya mulai menjajaki kota lain untuk melebarkan sayap bisnis. Ia pun membuka rumah penatu di kawasan BSD City sektor 1.2, Kota Tangerang Selatan.

Usahanya bernama House of Laundry Easy Clean. Segmen pasarnya dibuat lain dari segmen pasar Benresik yang kini dikelola oleh adik Aditya. ”Kalau yang di Yogyakarta segmennya mahasiswa. Nah, yang di BSD City ini segmennya para keluarga dan eksekutif muda,” ujarnya.

Aditya mengakui, awalnya ia ragu dalam menetapkan pasar kalangan muda usia. Lagipula lokasi Easy Clean di BSD City berada di sekitar permukiman kelas menengah ke atas di mana keluarga di situ umumnya memiliki pembantu atau mesin cuci. Keraguan itu terbantahkan setelah ia menjalani semua rintangan dalam berbisnis penatu. Kini setidaknya ada 1.000 pelanggan yang menggunakan jasa Easy Clean. ”Saya selalu perhatikan tiga hal dalam usaha saya, yaitu kualitas SDM (sumber daya manusia), SOP (standard operating procedure), dan instrumen," katanya.

Di antara ketiga faktor itu, faktor sumber daya manusia merupakan faktor terpenting. ”Percuma juga kalau instrumen bagus, tapi SDM-nya kurang berkualitas, hasilnya pun kurang,” katanya menceritakan kunci keberhasilan rumah penatu Easy Clean. Karena faktor inilah, Aditya tidak takut bersaing dengan bisnis penatu lain di kawasannya.

Selain menyasar segmen kalangan muda, Aditya juga membuat perbedaan pada penatu Easy Clean ini. Waktu itu, bisnis penatu umumnya memasang harga layanan berdasarkan jumlah dan jenis pakaian yang dicuci. Aditya menabrak pakem ini dengan menawarkan jasa harga per kilogram pakaian. Konsep baru ini diklaimnya sebagai pelopor dalam bisnis bersih-bersih pakaian. ”Saya bilang pionir karena konsep kami laundry kiloan, kalau biasanya kan laundry per potong. Itulah keunikan kami,” tuturnya.

Hingga sekarang, omzet rumah penatu Easy Clean telah mencapai Rp 30 juta per bulan. Aditya mempekerjakan 17 orang untuk dua gerai Easy Clean di BSD City dan Villa Melati Mas, dua-duanya di kawasan Serpong.

Jasa pencucian baju per 5 kilogram pakaian dikenakan biaya Rp 16.000 atau rata-rata Rp 3.000/kg. Untuk mencuci pakaian hingga kering, dikenakan tarif Rp 29.000. Jika menginginkan pakaian rapi terseterika, dikenakan tarif Rp 40.000. Bagi para eksekutif muda yang selalu ingin tampil rapi dan formal, bisa ditambahkan gantungan pakaian seharga Rp 3.000 per biji. ”Rata-rata dua hingga 5 hari pengerjaan hingga selesai, tergantung kapasitas dan pesanan juga. Karena kalau kita overload, pastinya dibutuhkan waktu yang lebih lama,”ujar Aditya.

Aditya juga menawarkan konsep usaha waralaba (franchise) untuk penatu kiloannya tersebut. Saat ini sudah ada tiga tempat waralaba yang menggunakan nama Easy Clean, yakni dua Cibubur, Jawa Barat, dan satu di Kota Malang, Jawa Timur.

”Kalau yang tiga franchise itu, saya memberikan training untuk karyawan dan menjadi konsultan mereka. Jadi kepemilikannya tetap mereka pribadi,” ucapnya. Memberikan pelatihan dan konsultasi penatu kepada waralaba ini penting bagi Aditya demi menjaga citra Easy Clean dan layanan yang diberikan. Gerai Easy Clean buka tiap hari mulai pukul 06.00 hingga pukul 22.00.


Editor : Erlangga Djumena