Jumat, 18 April 2014

/ Bisnis & Keuangan

Cadangan Devisa Menuju 120 Miliar Dollar AS

Kamis, 14 April 2011 | 12:20 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com - Cadangan devisa yang terkumpul di Bank Indonesia atau BI diperkirakan akan melonjak dari 105,7 miliar dollar AS hingga Maret 2011 menjadi 120 miliar dollar AS pada akhir tahun 2011. Ini dimungkinkan karena surplus neraca pembayaran yang terus meningkat hingga akhir tahun.

"Tren hingga akhir tahun adalah kenaikan cadangan devisa menjadi 120 miliar dollar AS. Ini membawa kabar gembira karena ketergantungan kita pada ekspor dan impor dalam menghimpun cadangan devisa tidak terus membesar," ungkap Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Bambang PS Brodjonegoro di Jakarta, Kamis (14/4/2011) saat menyampaikan perkembangan Ekonomi Makro Terkini dan APBN 2011 bersama Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati dan beberapa orang pejabat eselon I lainnya.

Menurut Bambang, cadangan devisa merupakan pertahanan keuangan lapis pertama yang dimiliki Indonesia. Manfaat terbesarnya adalah memberikan sinyal kepada dunia luar bahwa Indonesia memiliki pertahanan yang lebih kuat seiring penguatan cadangan devisa tersebut. "Selama ini, cadangan devisa kita difokuskan pada empat mata uang utama dunia, yakni dollar AS, euro, poundsterling, dan yen," ujarnya.

Saat ini, Indonesia sudah memiliki perjanjian pertukaran mata uang secara bilateral dengan beberapa negara (BSA) dan pertukaran sejenis secara multilateral. Pertukaran multilateral ini diperoleh dari perjanjian Ciang Mai Initiative yang dimultilateralisasi (CMIM).

BSA menyediakan tambahan cadangan devisa sebesar 18 miliar dollar AS. Adapun, pertukaran multilateral, yang berasal dari kesepakatan Ciang Mai Initiative yang dimultilateralisasi (CMIM) antara sepuluh negara ASEAN plus Jepang, Korea Selatan, dan China mencapai 13,68 miliar dollar AS.

Jadi total pertahanan yang dimiliki Indonesia saat ini adalah sekitar 137,38 miliar dollar AS. Ini belum termasuk cadangan devisa yang bisa saja diperoleh dari Dana Moneter Internasional (IMF). Namun, IMF sudah menjadi sumber cadangan devisa alternatif yang dihindari oleh sebagian besar negara-negara ASEAN, pasca krisis moneter 1997-1998. Negara-negara di Asia Tenggara trauma terhadap IMF, dan bersumpah tidak akan meminta pertolongan lagi pada IMF. 

 


Editor : Erlangga Djumena