Rabu, 26 November 2014

/ Bisnis & Keuangan

GREEN BUSINESS

Meraih Untung dengan Mengolah Kaleng Bekas

Senin, 18 April 2011 | 09:22 WIB

KOMPAS.com — Dengan kreativitas, kaleng minuman bekas pun bisa diolah menjadi benda bernilai jual tinggi. Kaleng-kaleng bekas softdrink diubah menjadi miniatur sepeda motor atau binatang untuk pajangan. Seorang perajinnya bisa meraup omzet lebih dari Rp 10 juta per bulan.

Kaleng jelas bukan termasuk sampah yang mudah terurai oleh alam. Padahal, saban hari ada begitu banyak kaleng bekas, khususnya yang berasal dari minuman softdrink menyesaki tempat-tempat pembuangan sampah. Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada bumi kalau pembuangan kaleng bekas ini terus berlangsung.

Gifson Harianja pun menemukan cara unik memanfaatkan limbah kaleng-kaleng. Pria yang bermukim di Jatiwaringin, Bekasi, ini berhasil "menyulap" kaleng-kaleng bekas menjadi benda yang bernilai jual tinggi.

Awalnya dia melihat banyak kaleng bekas yang terbuang. "Saya berpikir kenapa tidak mencoba untuk merakit sebuah karya seni dari kaleng bekas itu," cerita Harianja.

Ia pun membawa kaleng-kaleng bekas ke tokonya. Sembari menunggui barang dagangan di tokonya, Harianja mengutak-atik kaleng yang dikumpulkan menjadi miniatur seorang pemulung. Tak disangka, tiba-tiba ada seorang yang melewati tokonya dan menawar hasil karyanya itu dengan harga Rp 25.000.

Sekarang, Harianja pun berkonsentrasi pada pembuatan miniatur dari kaleng bekas. Ia membuat miniatur vespa, patung tugu pancoran, motor Harley Davidson dan pesawat. Harga jualnya berkisar Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per unit.

Selain miniatur single, Harianja juga merancang miniatur kehidupan, seperti seorang pemulung atau orang tua yang sedang berjualan. Meski terlihat lebih rumit, harga jual miniatur kehidupan ini cukup murah, yakni Rp 80.000 per unit.

Proses pengerjaan produk miniatur kaleng bekas pun cukup sederhana. Harianja hanya menggunakan tang dan gunting pada proses produksi. Dia sendiri yang berperan mendesain model berbagai karyanya.

Ia pun membatasi bahan bakunya hanya kaleng bekas minuman. "Karena kaleng lain, semisal bekas susu, terlalu tajam dan susah dibentuk," ujarnya.

Harianja mengaku tak kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku kaleng bekas. Pasalnya, ia mempunyai banyak teman yang membuka usaha kafe. Alhasil, suplai kaleng bekas pun diperolehnya dari teman-temannya itu.

Sebagai tambahan, sering pula Harianja membeli kaleng bekas dari para pemulung. Ia pun sering menjual potongan kaleng yang benar-benar tak terpakai kepada mereka.

Ia pun memilih tak mewarnai sebagian hasil karyanya, karena, menurut Harianja, proses pewarnaan justru akan menghilangkan kesan daur ulang. "Nanti orang justru menebak miniatur ini dari kayu," ujarnya.

Dalam sebulan, Harianja mampu menjual 40 miniatur. Omzetnya pun mencapai Rp 2 juta. "Orang yang suka bisa langsung membeli empat sampai lima buah," ujar Harianja.

Lantaran hasil karyanya yang cukup unik ini, ada beberapa sekolah yang memintanya menjadi guru kesenian. Namun, Harianja terpaksa menolak karena tak ingin kiosnya terbengkalai.

Omzet yang lebih besar bahkan diperoleh Kusnodin, perajin miniatur kain bekas lainnya yang berlokasi di Yogyakarta. Dalam sebulan, ia bisa meraup omzet lebih dari Rp 10 juta.

Berbeda dengan Harianja, Kusnodin memilih membentuk miniatur binatang, seperti belalang, merak, burung elang, dan lainnya. Di bawah bendera Karya Baru, Kusnodin memulai usaha ini sejak tahun 1987.

Miniatur buatan Kusnodin ini bahkan sudah menembus pasar ekspor. Maklum, ia mempunyai distributor seorang warga negara Australia. Dari tangan distributor inilah, produk miniatur kaleng bekas ini dikirim ke Australia, Jepang, dan Belanda. "Saya hanya memproduksi saja," ujarnya.

Selain menyediakan miniatur dalam warna kaleng, Kusnodin juga menyediakan miniatur yang telah dicat. Maklum, Kusnodin punya kegemaran melukis. "Ini untuk memenuhi selera konsumen yang belum tentu suka warna kaleng," ujarnya.

Tak heran, rentang harga miniatur produksi Karya Baru ini cukup lebar. Banderol harganya Rp 125.000 hingga Rp 10 juta per unit. "Selain dari ukuran, patokan harga juga tergantung tingkat kerumitan saat pembuatan," jelasnya.

Kusnodin pun memberi contoh, ia pun pernah mematok harga hingga jutaan rupiah saat menjual miniatur elang. Ia mengklaim, miniatur itu sangat mirip aslinya.

Untuk mengerjakan berbagai pesanan yang mampir ke bengkelnya, Kusnodin bisa memperkerjakan hingga 60 karyawan. Tetapi jumlah karyawan berubah-ubah, tergantung order. Ia pun mengandalkan para pekerja yang berasal dari tetangga kanan kiri di lokasi bengkelnya, di Magelang.

Selain mendapatkan keuntungan, baik Harianja maupun Kusnodin mengaku senang karena dapat berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan. Karena tidak semua pabrik dapat mengolah kembali kaleng-kaleng bekas, di sinilah perajin berperan memanfaatkan kaleng bekas.

Harianja pun optimistis akan masa depan usahanya. Pasalnya, walaupun di Indonesia banyak yang menjual miniatur, biasanya bahan yang digunakan adalah kayu atau plastik. Sementara, perajin yang menggunakan kaleng bekas sebagai bahan baku masih sedikit. (Dharmesta/Kontan)


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: