Selasa, 2 September 2014

/

USAHA RAKYAT

KUR BRI Tanpa Agunan Diminati Pedagang Kecil

Sabtu, 7 Mei 2011 | 04:26 WIB

Banyuwangi, Kompas - Baru sebulan diluncurkan, jumlah penyerapan kredit usaha rakyat (KUR) tanpa agunan dari BRI di Banyuwangi mencapai Rp 7,5 miliar lebih pada pertengahan April 2011. Nilai kredit itu melebihi penyerapan kredit bergulir yang didanai APBD Banyuwangi senilai Rp 2 miliar tahun ini.

Berdasarkan data bidang Perekonomian Pemkab Banyuwangi, nasabah KUR saat ini 1.003 pengusaha kecil, di antaranya pedagang, perajin ikan asin, dan pemilik warung. Mereka mendapatkan plafon kredit berkisar Rp 1 juta-Rp 20 juta dengan bunga 12-13 persen per tahun.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Jumat (6/5), mengatakan, tingginya serapan KUR salah satunya dipengaruhi sosialisasi yang gencar dilakukan sebulan terakhir. ”Kami meminta semua perangkat desa, kecamatan hingga dai menyosialisasikan KUR, karena selama ini banyak warga yang tidak mengetahui fasilitas KUR tanpa agunan dari bank,” kata Anas.

Sebelumnya, Manajer Kredit Mikro Bank BRI Banyuwangi Piator Simanjuntak mengatakan, banknya bekerja sama dengan pemda untuk menyosialisasikan KUR. Pemkab ikut mendata calon nasabah dengan memberikan surat keterangan usaha di tingkat kelurahan. ”Namun keputusan pemberian kredit tetap pada bank,” kata Piator. Untuk KUR tanpa agunan ini BRI mengalokasikan Rp 50 miliar.

Suyati (44), pedagang sayur di Pasar Blambangan mengatakan, bunga kredit dari rentenir biasanya 20 persen. Beban bunganya pun berlipat jika ada tunggakan. Itu pun jumlah pinjaman tak sampai jutaan rupiah. ”Kalau mau pinjam sampai berjuta-juta harus ada jaminannya. Itu yang kami tak punya,” katanya.

Petani terjerat utang

Sementara itu, di Purwakarta, Jawa Barat, sejumlah petani setempat terjerat utang karena padinya rusak terserang hama. Modal ratusan ribu hingga jutaan rupiah telah keluar, tapi tanaman hancur tak terselamatkan.

Namen (40), petani di Desa Cijunti, Kecamatan Campaka, mengaku telah mengeluarkan modal Rp 2 juta untuk mengolah lahan, menyemai benih, membayar kuli, membeli pupuk, dan obat-obatan. Namun, padi yang seharusnya kini telah memasuki masa vegetatif, hancur terserang hama penggerek batang. Utang modal di kios sarana produksi serta sejumlah tetangga dan saudara pun tak terbayar.

Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BB POPT), meramalkan penggerek batang bakal mendominasi serangan OPT di sentra padi Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan pada musim tanam kedua 2011. Ketidakserempakan penanaman membuat sumber pangan selalu tersedia, dan siklus penggerek batang tak terputus.(NIT/MKN)


Editor :