Kamis, 28 Agustus 2014

/ Regional

Australia Hentikan Ekspor

Peternak Sapi di Bantul Senang

Rabu, 8 Juni 2011 | 19:21 WIB

BANTUL, KOMPAS.com - Dihentikannya ekspor sapi dari Australia ke Indonesia selama 6 bulan, mendapat sambutan positif dari para peternak sapi di pedukuhan Kadirojo, Palbapang, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

"Ini bagus, karena nanti harga sapi lokal bisa naik lagi," kata Sudi Pranoto, peternak di Kadirojo, Rabu (8/6/2011).

Menurut Sudi Pranoto, anggota kelompok ternak sapi Andini Sakti, sekitar setahun ini harga sapi di wilayah Bantul anjlok hingga 50 persen. Peternak tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi yang merugikan mereka.

"Satu ekor api hanya laku Rp 4 juta sampai dengan Rp  6 juta, padahal sebelumnya Rp 9 juta hingga Rp 10 juta," ujarnya.

Hal yang membuat heran para peternak, harga sapi rendah tetapi harga daging sapi tetap tinggi berkisar Rp 55.000 sampai Rp 60.000 per kilogram.

Para peternak menilai, kondisi itu terjadi karena ulah para pedagang dan pelaku usaha pemotongan hewan. Mereka lebih memilih sapi impor yang harganya jauh lebih murah daripada sapi lokal.

Peternak lain, Saryadi, menambahkan, harga sapi lokal yang rendah membuat sebagian peternak sapi enggan untuk memelihara sapi lagi.

"Anggota kelompok ada 22 orang, tetapi saat ini hanya ada 7 orang yang bertahan memelihara sapi," kata Saryadi.

Para peternak di kelompok Andini Sakti ini berharap, meskipun hanya berlaku sementara selama 6 bulan, dihentikannya ekspor sapi ke Indonesia oleh Australia menjadi momentum bangkitnya lagi usaha peternakan sapi lokal. Peternak yang berhenti memelihara sapi, kini akan kembali tertarik untuk beternak sapi.


Editor : Agus Mulyadi