Kamis, 21 Agustus 2014

/ Bisnis & Keuangan

Pertumbuhan Ekonomi Sultra Tinggi

Kamis, 23 Juni 2011 | 21:03 WIB

KENDARI, KOMPAS.com — Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara selama tiga bulan pertama 2011 mencatatkan angka 8,94 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,5 persen pada periode sama. Sektor pertambangan yang tengah bergeliat menjadi pendorong terbesar laju pertumbuhan tersebut.

Data Bank Indonesia Kendari menunjukkan sektor pertambangan Sultra memiliki kontribusi terbesar pada pertumbuhan pada kuartal I 2011, yakni sebanyak 2,26 persen. Kontributor terbesar lainnya adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran (1,94 persen) serta sektor bangunan (1,45 persen).

Pertambangan juga muncul sebagai sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 38,5 persen. Adapun sektor lain yang juga tumbuh tinggi adalah keuangan (19,42 persen) dan bangunan (16,87 persen).

Pemimpin Bank Indonesia Kendari Lawang M Siagian mengatakan, pertumbuhan tinggi dari sektor pertambangan ini karena adanya kegairahan baru dalam bisnis pertambangan. "Ada perbaikan permintaan pasar dunia untuk bahan-bahan tambang," katanya.

Hal itu salah satunya, kata Lawang, tecermin dari peningkatan hasil pertambangan bijih nikel yang dikelola PT Antam di Sultra, perusahaan tambang terbesar di Sultra. Pada kuartal I-2011, PT Antam mencatatkan pertumbuhan produksi (year on year) sebesar 30,15 persen.

Peningkatan itu didorong meningkatnya permintaan dari Eropa, Korea Selatan, dan China, ujarnya. Selain nikel, Sulawesi Tenggara juga memiliki berbagai komoditas tambang lainnya, termasuk emas dan aspal.

Meski begitu, Lawang mengatakan dampak pertumbuhan pesat ini belum signifikan terhadap sektor tenaga kerja. Hal itu dikarenakan masih minimnya daya serap tenaga kerja di sektor pertambangan.

Dari data BI, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 45,34 persen dari total tenaga kerja Sultra yang mencapai 1.018.134 orang pada Februari 2011.

Adapun pertambangan yang dimasukkan dalam sektor lainnya bersama listrik, gas, air, dan keuangan hanya menyumbang 4,10 persen tenaga kerja.

Sebelumnya, Gubernur Sultra Nur Alam mengatakan rencana menjadikan Sultra sebagai Kawasan Ekonomi Khusus di bidang pertambangan akan mampu melesatkan pertumbuhan ekonomi Sultra hingga mencapai 12 persen pada 2028.

Hal ini juga didukung dengan ditetapkanya Sultra sebagai salah satu bagian dari Koridor Ekonomi Indonesia yang memiliki fokus khusus pada nikel.

Jika terlaksana, hal itu akan bisa membuka 1,5 juta lapangan pekerjaan baru di Sultra pada 2028, katanya. Pertambangan nikel yang selama ini hanya menjual bijih (ore) akan diubah menjadi pengolahan menjadi barang setengah jadi, yakni feronikel.


Editor : Benny N Joewono