Sabtu, 22 November 2014

/

PENERBANGAN

Harga Tiket Pesawat Lokal di NTT Terlalu Mahal

Selasa, 12 Juli 2011 | 05:33 WIB

Kupang, Kompas - Harga tiket pesawat antar-kabupaten di Nusa Tenggara Timur dinilai sangat mahal. Padahal, penerbangan dari Kupang ke provinsi lain lebih murah meski jarak tempuhnya lebih jauh.

Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), John Umbu Detta, di Kupang, Senin (11/7), mengatakan, pihaknya sering mendapat pengaduan dari masyarakat terkait harga tiket pesawat lintas NTT yang mahal. Tiket dewasa rute Kupang-Tambolaka (Sumba Barat Daya) dan Kupang-Labuan Bajo (Manggarai Barat), misalnya, Rp 1,3 juta. Adapun rute Kupang-Rote Ndao yang hanya terbang selama 35 menit menggunakan pesawat Twin Otter dikenai tiket seharga Rp 750.000 per orang.

Sebaliknya, harga tiket pesawat Kupang-Jakarta Rp 800.000-Rp 1,3 juta dengan waktu tempuh empat jam. ”Masyarakat kecil selalu membandingkan harga tiket pesawat lintas NTT dan lintas provinsi. Terkesan ada perlakuan kurang adil terhadap daerah ini,” kata Detta.

Marcel Maran (43), guru salah satu SD di Flores Timur, membeli tiket pesawat Kupang-Larantuka seharga Rp 750.000.

Ia cepat pulang ke Flores Timur karena pembukaan tahun ajaran baru (2011/2012) dimulai, Senin (11/7). ”Saya terpaksa membeli tiket Rp 750.000 ke Larantuka dengan waktu tempuh 35 menit. Mungkin penumpang pesawat cuma 12 orang sehingga tiket harus mahal,” kata Marcel.

Customer Service Manager PT Trans Nusa Kupang Momi Surjatmoko mengatakan, harga tiket ditentukan pemerintah, bukan Trans Nusa.

”Harga itu ditetapkan pemerintah. Namun, saya tidak tahu cara hitung pemerintah untuk mendapatkan harga-harga tiket di setiap lintasan di NTT,” tutur Momi. PT Trans Nusa adalah salah satu pengelola penerbangan di sebagian besar wilayah NTT.

Sekretaris Dinas Perhubungan NTT Stefanus Ratoe Oedjoe mengatakan, harga tiket pesawat lintas NTT masih wajar. Operator penerbangan lokal sangat terbatas, sedangkan permintaan konsumen membeludak setiap hari.

Semakin banyak permintaan, harga pun makin tinggi. Ini berbeda dengan jumlah armada penerbangan dari Kupang ke kota lain di luar NTT, seperti Denpasar, Surabaya, Jakarta, atau kota lainnya. ”Harga tiket juga dipertimbangkan dengan jumlah muatan penumpang. Beberapa bandara di NTT memiliki landasan pacu tak lebih dari 1.000 meter sehingga pesawat jenis Twin Otter dengan jumlah penumpang 15-17 orang atau ATR berkapasitas 50-60 orang terpaksa mengurangi kapasitas penumpang untuk mempermudah proses mendarat dan berangkat dari bandara itu,” kata Oedjoe. (KOR)


Editor :