Rabu, 3 September 2014

/ Liga Inggris

Dilema Tujuh Striker "Setan Merah"

Minggu, 17 Juli 2011 | 04:18 WIB

KOMPAS.com - Saat meraih treble winner di musim 1998/1999 lalu, Manchester United memiliki empat striker mumpuni yang saling bergantian menjadi penentu kemenangan timnya. Ada Dwight Yorke, Andy Cole, Ole Gunnar Solskjaer dan Teddy Sheringham. Saat ini, "Setan Merah" diyakini masih memiliki salah satu lini serang paling berbahaya di Eropa. Tidak cuma empat, Sir Alex bahkan punya tujuh stok striker dalam menyambut musim 2011/2012 mendatang.

Pada jendela transfer kali ini, MU telah mendatangkan tiga pemain muda berbakat dalam diri Ashley Young, David De Gea dan Phil Jones. Dengan kemungkinan Wesley Sneijder akan menyusul hadir di Old Trafford, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun nama striker dari seluruh pemain baru atau incaran MU saat ini.

Hal itu wajar mengingat berlimpahnya stok striker mereka saat ini. Ada Wayne Rooney, ikon klub yang performanya sempat menurun di awal musim lalu, tapi bisa kembali bersinar selewat musim dingin. Tendangan saltonya ke gawang Manchester City pada Februari 2011 jelas menjadi salah satu gol terbaik yang pernah Anda saksikan dalam dunia sepak bola. Sampai saat ini, ia telah mencetak total 147 gol bagi MU di seluruh kompetisi.

Keahlian Rooney bukan hanya dalam urusan mencetak gol. Ia adalah pemain yang terkenal dengan etos kerja tinggi, sehingga rajin mengejar bola dan turun ke belakang untuk membantu pertahanan. Visi dan intelegensinya dalam permainan juga di atas rata-rata. Ia dapat membaca arah permainan dengan cepat dan tidak segan untuk mengoper pada rekan yang berada dalam posisi lebih baik untuk mencetak gol. Hal ini membuatnya jauh dari kesan tipe pemain egois. Salah satu buktinya adalah 16 assist yang ia berikan pada rekan setimnya di musim lalu.

Kekurangan Rooney ada pada emosinya. Ia bisa meledak kapan saja ketika frustrasinya telah memuncak. Masih teringat kenangan saat ia diberi kartu merah oleh wasit Kim Nielsen pada pertandingan Liga Champions melawan Villarreal musim 2005/2006. Saat itu ketidakpuasannya akan kepemimpinan wasit membuat ia bertepuk tangan sarkastis di depan wajah sang pengadil. Kontan ia langsung diusir keluar dari lapangan.

Musim lalu ketika bertanding melawan West Ham United, ia berhasil membantu MU membalikkan keadaan dari tertinggal 0-2 menjadi unggul 4-2 dengan hattrick yang dicetaknya. Sayangnya saat mencetak gol ketiga, ia menumpahkan emosi dengan mengumpat kepada kamera, kejadian yang disaksikan oleh seluruh pencinta sepak bola dunia. Walau telah meminta maaf, tindakannya dianggap tidak pantas sehingga berbuntut pada larangan tampil untuk dua pertandingan selanjutnya.

Rooney saat ini juga berbeda dengan ketika baru pertama tiba di MU. Dahulu, ia rajin menusuk pertahanan lawan dengan dribel serta menembak langsung dari jarak jauh. Kecepatan lari tinggi dan kekuatan fisik yang luar biasa memungkinkannya melakukan hal itu. Tendangannya pun kencang dan berakurasi tinggi. Tentu para fans masih mengingat golnya ke gawang Newcastle United saat menghajar bola muntah yang terpantul keluar kotak penalti.

Saat ini, ia telah beralih menjadi seorang pemain tim yang rajin membuka ruang bagi teman-temannya. Tidak ada lagi tendangan jarak jauh kencang dan terarah dari kaki Rooney, yang ada adalah umpan lambung akurat ke sisi sayap untuk dimanfaatkan Nani atau Antonio Valencia menusuk sisi pertahanan lawan. Tidak ada lagi dribel cantik melewati dua atau tiga orang pemain, yang ada adalah umpan satu dua yang bisa merobek barisan lini belakang musuh.

Fabio Capello, pelatih timnas Inggris, juga mengatakan hal serupa. Ia mengungkapkan bahwa Rooney kurang egois di atas lapangan. "Ia bekerja dan berlari terlalu banyak. Ia membantu setiap orang di depan gawang. Ia sangat dermawan di lapangan. Atas alasan itulah, ia tak bisa mencetak banyak gol," kata mantan pelatih Real Madrid dan Juventus itu.

Tandem Rooney musim lalu, Javier 'Chicharito' Hernandez, sukses menjalin kerja sama yang baik dengannya dan secara efektif menghasilkan 20 gol di seluruh kompetisi, kebanyakan dari bangku cadangan. Bintang muda asal Meksiko ini sukses mengatasi tekanan dan muncul sebagai idola baru fans "Setan Merah". Gol-golnya terhitung krusial dan menentukan, seperti tembakannya yang menembus gawang Petr Cech dan memupus harapan Chelsea dalam perebutan gelar juara liga di akhir musim.

Hernandez bahkan melanjutkan suksesnya dengan membantu timnas Meksiko menjuarai Piala Emas CONCACAF 2011. Ia sendiri menjadi top skorer dan pemain terbaik turnamen dengan tujuh gol yang dicetaknya. Harga sekitar tujuh juta pounds untuk memboyongnya dari Chivas Guadalajara terasa tak ada apa-apanya dibanding bakat besar yang ia miliki.

Kiprah Hernandez mengingatkan banyak orang pada penampilan legenda MU, Solskjaer. Dahulu, Solskjaer selalu sukses memaksimalkan peluang sekecil apa pun yang ia dapat, walaupun harus turun dari bangku cadangan. Salah satu golnya yang akan dikenang sepanjang masa adalah gol penentu kemenangan MU atas Bayern Muenchen di final Liga Champion tahun 1999. Ia masuk sebagai pemain pengganti dan sukses menjaringkan bola di menit 93. Di musim itu, ia juga sempat mencetak empat gol ke gawang Nottingham Forest hanya dalam rentang waktu 10 menit sejak dimasukkan sebagai pemain pengganti.

Di musim 2010/2011, Hernandez berhasil merebut hati fans dan pelatihnya secara perlahan-lahan. Awalnya ia hanya berperan sebagai super-sub yang masuk di menit-menit akhir pertandingan. Tapi, gol-gol krusial yang ia cetak berhasil membawanya masuk ke tim utama. Golnya ke gawang Valencia di menit 85, ke Wolves di menit 90 serta ke Southampton di menit 76, berhasil membantu MU meraih kemenangan. Di paruh kedua musim, ia sukses memarkir satu tempat di lini depan tim asuhan Sir Alex tersebut bersama Rooney.

Chicharito alias si 'kacang polong' memiliki penempatan posisi yang sangat bagus, beberapa gol berhasil ia cetak tanpa pengawalan karena ia berdiri di sudut mati pandangan bek lawan. Ia pun memiliki kecepatan untuk melewati lawan serta insting membunuh yang tinggi. Satu peluang sudah cukup baginya untuk dikonversi menjadi gol. Kekurangannya adalah fisiknya yang terhitung kecil untuk bertarung di liga sekeras Liga Inggris. Ia mencoba untuk menutupi hal itu dengan berlatih keras di gim setiap harinya.

"Aku bekerja sangat keras di Manchester. Aku bangun pada jam delapan pagi, sarapan, lalu berlatih. Di sana aku bekerja sangat keras dan berlatih lebih keras lagi di gim. Aku dididik orang tua seperti itu. Jika kau menginginkan sesuatu dalam hidup, maka kau harus bekerja keras. Aku tahu sepak bola ini pekerjaan, tetapi aku sangat mencintainya," ungkap Hernandez.

Kehadiran Hernandez sukses menggusur tempat Dimitar Berbatov di tim utama. Hal ini ironi karena dia adalah top skorer Liga Inggris musim lalu bersama Carlos Tevez dengan 21 golnya. Berbatov banyak dikecam orang sebagai pemain malas yang tidak konsisten. Beberapa orang juga mengatakan bahwa ia hanya bisa bersinar ketika bertanding melawan tim gurem. Hal itu bisa dilihat dari lima golnya ke gawang Blackburn Rovers, serta hattricknya ke gawang Birmingham City. Pengecualian terjadi saat ia mencetak hattrick ke jala Liverpool dan salah satunya dibuat dengan tendangan salto cantik.

Berbatov sendiri menyanggah anggapan banyak orang bahwa dirinya pemalas. "Aku orang yang rileks. Aku bermain sepak bola sesuai caraku, dan itu tak akan berubah, aku memilih untuk bermain seperti itu. Aku menyaksikan pertandingan dan melihat pemain yang panik saat memegang bola, dia juga terlihat sangat gugup. Tapi kadang aku sudah tahu apa yang akan kulakukan sebelum bola datang, itulah yang membuatku tenang," ungkap Berbatov.

Top skorer sepanjang masa timnas Bulgaria dengan 48 golnya ini juga memiliki sentuhan dan kontrol bola yang sangat baik. Bola sekencang apa pun bisa ia 'jinakkan' di kakinya. Ia juga gemar mencetak gol cantik seperti tendangan salto dan voli. Sayangnya, ia bukan striker klinis yang bisa dengan efektif memanfaatkan setiap peluang yang ada. Ia butuh dua sampai tiga peluang bersih untuk mencatatkan namanya di papan pencatat skor. Akan tetapi, kemampuannya untuk memberi umpan dan membangun permainan perlahan dari bawah membuatnya dihargai tinggi oleh Sir Alex. Tak terhitung assist yang telah ia berikan untuk memudahkan rekan mencetak gol.

Selanjutnya, ada nama Michael Owen yang akan selalu menghangatkan persaingan dengan pengalamannya yang segudang. Pencetak 40 gol untuk timnas Inggris ini adalah mantan legenda Liverpool yang beralih ke MU karena frustrasi mencari tim yang mau menampungnya bersama catatan buruk cederanya. Sejak pindah dari Real Madrid ke Newcastle United, ia secara konsisten keluar masuk ruang perawatan demi menyelamatkan kariernya dari sederetan cedera akut.

MU mau menampung Owen dengan syarat pembayaran gaji per pertandingan yang ia lewati. Sir Alex membutuhkan pengalamannya untuk membimbing pemain-pemain muda macam Danny Welbeck dan Federico Macheda. Selain itu, Owen juga kerap dimasukkan di menit-menit akhir pertandingan untuk mendobrak kebuntuan akibat tebalnya lini pertahanan lawan.

Di masa jayanya, Owen terkenal dengan kecepatan lari dan penyelesaian akhirnya yang luar biasa. Saat ini, kecepatannya sudah hilang ditelan usia dan cedera, tapi ia masih bisa mencetak gol dengan 'mata tertutup'. Salah satu gol krusialnya adalah golnya ke gawang Manchester City pada musim 2009/2010. Ia masuk dari bangku cadangan dan memastikan kemenangan MU dengan golnya di menit keenam injury time.

"Owen seorang predator. Dia juga melakukan sesuatu yang berbeda. Kami memiliki pemain seperti itu selama bertahun-tahun. Ruud van Nistelrooy adalah salah satu yang jelas, dan Andy Cole salah satu yang lainnya. Mereka datang dan berbahaya di kotak penalti," kata Ryan Giggs, rekan Owen di MU.

"Dari apa yang  kulihat selama bertahun-tahun, Owen merupakan pemain yang ketika kehilangan kesempatan, hal itu tidak akan mengganggu mentalnya sedikit pun. Beberapa pemain berusaha menjegalnya. Tapi, hal itu tidak menyulitkannya. Dia tahu akan mendapatkan kesempatan lain," kata pemain asli didikan MU itu.

Selain empat striker yang telah disebut di atas, MU masih punya tiga penyerang muda berbakat dalam diri Welbeck, Macheda dan Mame Biram Diouf. Musim lalu, Welbeck yang baru berumur 20 tahun, sukses menjalani masa peminjamannya ke Sunderland. Ia berhasil mencetak enam gol dan mendapat kepercayaan dari pelatih Steve Bruce di tim utama. Ia memiliki teknik yang bagus dan bisa memulai penyerangan dari sisi sayap atau pun sebagai targetman.

Sementara itu Macheda, 19 tahun, walau hanya mencetak satu gol ketika dipinjamkan ke Sampdoria, merupakan salah satu bakat terbaik Italia saat ini. Fisiknya tangguh dan mempunyai dua kaki yang sama bagusnya. Bila diasah dengan baik, ia bisa menjadi striker klinis yang menjadi tumpuan tim dalam tahun-tahun mendatang.

Diouf, pemain Senegal berusia 23 tahun yang didatangkan dari Molde, juga baru saja kembali dari masa peminjamannya di Blackburn. Di sana, ia sukses mencetak enam gol dari 30 pertandingan yang dijalani. Sir Alex telah memantaunya selama dua tahun sebelum merekrutnya ke MU. Ketika tahu ada beberapa klub yang tertarik mendapatkan jasa Diouf, pelatih asal Skotlandia itu segera bergerak cepat untuk menariknya ke Old Trafford. Hal itu rasanya sudah cukup menggambarkan betapa besar potensi yang Diouf miliki.

Tujuh striker yang MU miliki saat ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kombinasi antara pemain senior, matang dan miskin pengalaman terasa tepat bagi kelangsungan klub ke depan. Saat ini, mungkin saja Rooney, Berbatov dan Owen secara bergantian mengisi lini depan MU. Tapi ketika masa jaya ketiganya telah habis, fans "Setan Merah" tak perlu khawatir karena bakat-bakat muda terbaik Eropa telah siap untuk menggantikannya.


Editor : Aloysius Gonsaga