Jumat, 31 Oktober 2014

/ Bisnis & Keuangan

Perencana Keuangan

Bebas dari Cengkeraman Utang

Rabu, 20 Juli 2011 | 11:10 WIB

KOMPAS.com - Masih ingat 10 pernyataan di artikel saya sebelumnya (Utang, Bermanfaat atau mencelakakan?”, Kompas.com, 31 Mei 2011)?, yang jika minimal ada 4 saja yang cocok atau sesuai dengan perilaku Anda saat ini, maka Anda sudah berada dalam masalah keuangan?

Apa sebetulnya masalah keuangan yang dimaksud? Bisa jadi kita sedang tidak sadar bahwa utang semakin menumpuk, karena kehilangan daya beli membuat kita harus melakukan beberapa perilaku dari 10 pernyataan itu.

Atau bahkan Anda sudah masuk lingkaran “setan” yang namanya terjerat cengkeraman utang? Tentunya tekanan psikologis pun sangat tinggi dirasakan. Tidak jarang kita mendapati berita orang berfikir pendek sampai bunuh diri gara-gara terjerat cengkeraman utang. Ngeri juga hantu blau yang namanya Cengkeraman Utang ini ya?.

Para pembaca yang budiman, terjerat cengkeraman utang bukanlah akhir dari segalanya. Selama kita punya kemauan untuk terbebas dari cengkeraman utang, yakinlah Sang Maha Pencipta akan memberi petunjuk dan kemudahan.

1. Merubah Gaya Hidup Finansial
Kendala terbesar dalam rangka tekad kita terbebas dari cengkeraman utang adalah merubah gaya hidup finansial kita. Gaya hidup finansial adalah dinamisasi hubungan antara pendapatan (income) dan bagaimana kita memanfaatkannya (spending). Perlu disadari bahwa gaya hidup finansial kita selama ini telah membawa kita terjebak dalam cengkeraman utang. Jadi milikilah tekad untuk mengubah gaya hidup. Mulailah dengan mengenali betul, apakah pola belanja kita selama ini lebih kepada memenuhi keinginan kita? 

Prihatinlah dulu untuk lebih memenuhi kebutuhan kita ketimbang keinginan kita. Paling tidak sampai kita terbebas dari cengkeraman utang ini kelak. Buatlah rencana perubahan gaya hidup finansial yang fokus pada efisiensi anggaran bulanan. Saya sarankan untuk dibuat secara tertulis.

2. Mengenali Struktur utang saat ini
Untuk mendapatkan solusi masalah secara optimal, syarat utamanya adalah kita harus tahu persis masalah yang dihadapi. Berapa jumlah utang yang masih tertunggak? Berapa beban bulanan yang harus tersedia untuk menyelesaikan utang-utang tersebut. Susunlah secara tertulis dan buat daftar prioritas dari jumlah utang yang terkecil.

3. Identifikasi kemampuan saat ini
Dari hasil tekad merubah gaya hidup finansial, kita tahu berapa kemampuan kita menyisihkan pendapatan kita untuk dialokasikan pada rencana pelunasan beban utang kita. Sehingga kita dapat menghitung berapa jumlah kekurangan dana untuk memenuhi kebutuhan minimum beban bulanannya. Bila sampai langkah ini, ternyata hasilnya kita sudah mampu membayar kebutuhan minimum beban hutang kita. Segera lakukan tindakan sesuai rencana dengan disiplin.Perlu diingat, bahwa menyisihkan pendapatan adalah kegiatan yang harus dilakukan lebih dulu sebelum kita memanfaatkannya lebih lanjut. Bila masih defisit, lanjutkan langkah berikutnya.

4. Negosiasi ulang dengan Pemberi Utang
Selalu ada jalan untuk meringankan beban utang kita melalui pendekatan dengan pihak pemberi pinjaman. Bicarakanlah kesulitan yang kita hadapi dan negosiasikan skema terbaik yang bisa diberikan pihak pemberi utang sebagai solusi, baik dari sisi penjadwalan ulang waktu pelunasan hingga pertimbangan kembali pembebanan bunga. Bila hasil negosiasi ini belum dapat memenuhi kebutuhan rencana pelunasan utang, kita bisa mencoba langkah selanjutnya.

5. Memanfaatkan aset yang ada
Jika kita masih memiliki aset, jalan termudah dalam memanfaatkan aset untuk mengurangi atau melunasi beban utang kita adalah dengan menjualnya. Namun sebagai konsekuensinya, kita kehilangan manfaat dari aset tersebut. Ada baiknya kita mempertimbangkan untuk memanfaatkan aset tersebut sebagai jaminan/agunan untuk utang baru. Sebagai catatan,  dana yang bisa dihasilkan harus bisa melunasi seluruh utang kita atau paling tidak sebagian besar (minimal 80 persen dari total beban utang).

Carilah skema utang baru yang memberikan peluang waktu pengembalian yang cukup panjang dan tingkat suku bunga serendah-rendahya untuk mendapatkan jumlah pinjaman yang cukup besar, dengan beban cicilan yang ringan. Langkah ini biasa disebut pengambil alihan utang (Debt Take Over). Bila tidak bisa secara langsung, saat ini ada pihak ketiga yang bisa membantu dan bertindak atas nama kita. Pihak ketiga ini yang akan berhadapan dengan bank (atau institusi finansial lainnya). Tentu saja ada fee yang harus dibayarkan atas jasa pengurusan ini.

6. Mencari pinjaman “LUNAK”
Mengingat masalah finansial cukup sensitif dan bersifat pribadi, langkah ini bisa dijadikan alternative terakhir. Pinjaman “LUNAK” yang dimaksud adalah dengan meminjam sejumlah uang kepada keluarga atau kerabat terdekat kita. Ajukan jangka waktu yang cukup panjang dan cicilan tanpa bunga. Bicara apa adanya kesulitan yang dihadapi. Berkomitmen penuh untuk menepati pelunasan yang kita janjikan. Mohon diingat, tali silaturahmi jauh lebih penting daripada uang.

7. Mempertahankan dan Mengembangkan Gaya Hidup Finansial yang Baru
Kita jangan cepat puas pada saat sasaran kita untuk bebas dari cengkeraman utang tercapai. (kalau sudah mampu membayar cicilan utang tepat waktu berarti kita sudah bebas dari cengkeraman bukan?). Lanjutkan gaya hidup yang sudah lebih baik ini untuk mencapai sasaran-sasaran finansial kita berikutnya. Tingkatkanlah nilai yang bisa disisihkan sesuai kemampuan. Kita akan terkagum-kagum akan kekuatan menyisihkan pendapatan diawal ini. Boleh jadi di suatu saat kelak, kita terkaget-kaget mendapati kemampuan finansial yang kita miliki.

Masih ada potensi untuk mengembangkan kemampuan finansial yang kita miliki, yakni dengan menggali lagi kemampuan kita untuk mendapatkan pendapatan lebih (pendapatan tambahan). Teruslah menggali potensi ini sesuai minat yang kita miliki. Kita bukan hanya akan terbebas dari cengkeraman utang, bahkan akan mampu mengejar cita-cita finansial kita. Semoga bermanfaat. (Budi Cahyadi, MM, CFP®/Financial Planner, TGRM Financial Planning Services)

 


Editor : Erlangga Djumena