Selasa, 21 Oktober 2014

/ Bisnis & Keuangan

Apakah Harga Emas Sudah Mencapai Puncaknya?

Senin, 25 Juli 2011 | 07:48 WIB

Terkait

KOMPAS.com — Pada 18 Juli lalu, harga emas mencapai rekor tertinggi pada 1,602 dollar AS per troy ounce. Kenaikan itu berarti sudah 10 kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun dibandingkan dengan total imbal hasil indeks Standard & Poor's yang hanya 32 persen, mudahlah dibayangkan bahwa kenaikan harga emas tampaknya sudah akan berakhir.

Akan tetapi, pengamat pasar mengatakan, kemungkinan besar harga emas masih akan terus meningkat. Jika berinvestasi pada dana tunai, investor tidak akan mendapatkan apa-apa. AS, Eropa, dan China menjaga tingkat suku bunga mereka tetap rendah. Harga mata uang kertas tampaknya akan merosot terus dengan kemungkinan gagal bayar yang akan dialami Pemerintah AS dan Eropa.

"Isu-isu itu dapat menjadi pendukung naiknya harga emas. Belum ada isu yang akan selesai," ujar David Wislon, analis komoditas pada Sociate Generale.

Jika kembali pada tahun 1980-an ketika harga emas mencapai puncaknya, tingkat inflasi naik 1 persen per bulan dan tingkat suku bunga melejit hingga 14 persen. Harga emas pun menjadi berlipat dua hanya dalam tempo dua bulan. Distributor emas internasional di Afrika Utara Krugrrands sampai kehabisa koin emas produksinya. Di AS, bankir bank sentral sibuk menepis rumor bahwa mereka akan kembali mengunakan emas standar.

Walaupun timbul antusiasme kenaikan harga emas yang dapat dilihat dari iklan televisi soal koin emas, sebagian besar analis sepakat eforia yang terjadi tidak akan seheboh tahun 1980-an.

Tanda lain pertanda kegairahan di pasar emas adalah kenaikan "tingkat suku bunga riil" atau tingkat suku bunga yang disesuaikan dengan inflasi. Ketika tingkat suku bunga riil negatif, uang tunai akan kehilangan nilainya. Para investor pun akan mengalihkan uang mereka ke aset yang lebih berisiko dan menambah aset lain seperti emas. Itu merupakan situasi selama kenaikan harga emas terakhir ketika tingkat suku bunga pada obligasi berjangka waktu 10 tahun jatuh dari 1,94 persen pada Januari 1977 ke minus 4,65 persen pada Juni 1980. Akan tetapi, tingkat suku bunga riil naik lagi pada tahun 1980 sehingga menghentikan laju harga emas. Jadi, selama tingkat suku bunga riil pada obligasi Pemerintah AS bertenor tiga bulan yang saat ini pada posisi minus 3 persen tetap negatif, harga emas masih akan terus melaju.

Pada masa lalu, kenaikan harga emas juga terhenti ketika para spekulator atau pembeli yang bertaruh bahwa harga emas akan naik mengurangi pembelian dan para pembeli fundamental yaitu para perajin emas, dan perusahaan pertambangan menjadi pembeli dominan di pasar emas. Pada Januari 1980, misalnya, penjualan Krugerrands turun 42 persen walaupun ada kenaikan harga emas.

Para investor juga harus memperhatikan perkembangan di Asia. China dan India merupakan konsumen 58 persen emas global sepanjang semester pertama 2011, menurut data dari World Gold Council. Angka tersebut naik dari 34 persen tahun lalu. Hal itu terjadi karena masalah inflasi di Asia. Di India, inflasi melonjak menjadi 8,7 persen pada Mei, sedangkan di China sebesar 6,4 persen. "Jika pembeli dari Asia sudah menurun, investor harus berhati-hati," kata Saeed Amen, seorang analis emas pada Nomura International Holdings.

"Sementara itu, yang harus diperhatikan juga saham-saham pada perusahaan tambang emas," ujar John Laforge, analis komoditas pada Ned Davis Research. Biasanya, emas diperdagangkan pada rasio 1,05 kali dari harga saham perusahaan tambang emas. Saat ini, rasionya menjadi 1,48. Artinya, perusahaan tambang emas masih berada di bawah harga pasar (undervalue). Saham perusahaan tambang emas turun 3,2 persen tahun ini dibandingkan dengan kenaikan sebesar 11,7 persen pada harga emas. Sebagian karena kenaikan harga minyak.

Rebecca Patterson, chief global strategist pada JP Morgan Asset Management, merekomendasikan investor hanya memegang sedikit emas saja, sekitar 1 sampai 2 persen dari aset mereka yang aman, termasuk dana tunai dan obligasi Pemeritah AS. "Setidaknya masih ada kekhawatiran tentang Eropa dan AS. Emas mahal, tetapi mahal untuk alasan yang bagus," ujarnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Erlangga Djumena
Sumber: