Minggu, 26 Oktober 2014

/ Bisnis & Keuangan

Ricky Suhendar, Selalu Cari Tantangan

Rabu, 27 Juli 2011 | 06:24 WIB

KOMPAS.com - Sesuatu yang menantang, inilah yang dicari bahkan disukai oleh seorang Ricky Suhendar. Kini, ia menjabat sebagai Senior Product Marketing Manager Pocari Sweat. Jabatan ini dilakoninya sejak Juni 2010.

Dunia pemasaran sebenarnya telah ia tekuni sejak September 2007, di perusahaan PT Amerta Indah otsuka ini. Namun, ia mengawalinya dengan produk Soyjoy. Awalnya ia tidak bekerja di bagian pemasaran.

Ia lebih dulu bekerja sebagai area sales manager selama sekitar satu tahun, selama Januari 2005-September 2007, di perusahaan asal Jepang ini.

Pemegang gelar sarjana jurusan teknologi pangan Institut Pertanian Bogor ini juga pernah menjadi seorang jurnalis media cetak dan penyiar radio. "Kalau ke Washington DC karena saya mendapat tawaran untuk aplikasi beasiswa S2 (pascasarjana) saya. Jadi, saya pindah ke sana untuk mengejar administrasi termasuk kursus TOEFL. Selama 6 bulan di sana. Selama di sana, saya menjadi koresponden buat media saya yang di Indonesia," ujarnya. Namun,

ia gagal mendapatkan beasiswa tersebut, dengan alasan universitasnya mengurangi kuota. "Padahal udah 99 persen yakin bisa masuk, yah balik lagi ke Jakarta. Tapi tidak lanjut di pekerjaan jurnalisnya, tetapi masuk ke Unilever sebagai Teritory Sales Supervisor," ujarnya, menceritakan pekerjaan yang digelutinya sebelum masuk menangani produk Soyjoy dan Pocari Sweat.

Apa yang menarik dari dunia pemasaran? Dari sekian pekerjaan yang telah digelutinya, bagian pemasaran ternyata lebih disukainya. Dalam mendukung karirnya di bidang ini, ia pun melanjutkan studi pascarsarjana jurusan marketing di Universitas Trisakti, sebelum ia bekerja di PT Amerta Indah Otsuka. "Sembari kuliah kerja di Unilever (saya kuliah). Terus keluar (dari Unilever) untuk terusin kuliah," ungkapnya.

Pemasaran baginya merupakan bidang pekerjaan yang dapat memberikan banyak tantangan. Karena tantangan inilah yang menyebabkan dirinya memberanikan diri untuk keluar dari perusahaan Unilever. "Gila lo keluar dari Unilever," ujarnya menyebutkan tanggapan dari temannya saat keputusan itu diambilnya.

Namun, ia menyebutkan, mencari tantangan baru sebagai alasannya keluar, bukan karena nominal penerimaan ataupun jabatan. Bagaimana ia "menjawab" tantangan di setiap pekerjaannya? "Tantangan selama di Unilever lebih banyak yang saya create sendiri, karena di sana itu sistemnya sudah jalan. Jadi, karyawan kalau tidak mencari tantangan sendiri, ya begitu-begitu saja kerjaannya. Dan, saya tidak mau stay at comfort zone," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, ia beserta tim pun menciptakan saluran bisnis yang baru. Ia membuka distribusi baru ke toko bangunan. Proyeknya ini pun berhasil, sehingga mendapatkan penghargaan dari perusahaan berupa "enterprised award." "Hal-hal kecil lainnya yang saya lakukan seperti membuat parcel ice cream walls. Hal yang selama itu tidak terpikirkan oleh perusahaan. Tapi scope-nya hanya untuk Jakarta saja," sebutnya.

Dalam menjawab tantangan produk baru Soyjoy, ia melakukan program reality show online pertama di Indonesia, yaitu Soyjoy Healthylicious. Namun sebelum program ini hadir, ia terlebih dahulu melakukan digital campaign Soyjoy untuk Singapura. Memang selain menjadi Product Marketing Manager Soyjoy untuk Indonesia, ia juga menangani hal yang sama untuk Singapura. "Setahun sebelumnya, Soyjoy punya campaign 'GI-JOY.com' di Singapura. Digital campaign ini sukses banget dan mampu menciptakan buzz untuk seluruh Singapura, sampai TV besar seperti Channel News Asia sempat memberitakan campaign soyjoy ini," ujarnya.

Setelah itu, apa yang dilakukannya di Singapura ia adaptasi untuk Indonesia, dengan menciptakan Online Reality show. Hal ini dilakukan karena reality show sedang booming di Indonesia. "Dan belum ada yang melakukan secara online," tambahnya.

Lagi-lagi, kampanye ciptaannya ini kembali meraih keberhasilan. "Saya bisa katakan, ini adalah digital campaign dengan skala besar yang berhasil di jalankan di Indonesia," ungkapnya.

Setelah berhasil menangani produk makanan ringan tersebut, ia pun ditarik oleh perusahaan untuk menangani produk minuman isotonik Pocari Sweat. Saat itu, penjualan minuman isotonik, yang merupakan pemimpin pasar di kelasnya, terbilang stagnan. "(Tahun) 2010 tidak tumbuh sales-nya," tutur dia.

Terhadap pemasaran produk ini yang menjadi tulang punggung dari perusahaan PT Amerta Indah Otsuka ini, ia pun membawa "barang baru." Apa itu? Digital marketing! Menurutnya, sekalipun Pocari Sweat merupakan produk terkenal bahkan menjadi pemimpin pasar, gaya pemasarannya masih konvensional. "Saat saya dipercaya meng-handle pocari, saya langsung membuat gebrakan kegiatan marketing baru, yang saat ini lagi trend di Indonesia bahkan di dunia, yaitu digital marketing. Jadi, saya membuat facebook, twitter, website baru untuk pocari sweat, dengan desain yang bisa menarik users, menciptakan aktivitas di media sosial, banyak sekali saya nggak bisa sebut satu-satu," sebut dia.

Proyek pemasaran terbesarnya adalah saat ia menciptakan kampanye IONOPOLIS. Selain itu, ionopolis sebagai bagian dari upaya pemasaran pun dikeluarkan pada November 2010.

Ionopolis merupakan game jejaring sosial terpadu pertama di Indonesia dengan menggunakan tiga media, yaitu Facebook, Twitter, dan Foursquare. Upaya pemasaran ini pun terbilang sukses dengan menjaring peserta sebanyak 95.000 lebih. "Selama Januari-Juli 2011. Itu tumbuh 20 persen dari tahun lalu. Ya targetnya semester satu ini ditutup dengan bagus," sebutnya, yang bisa dianggap sebagai dampak kesuksesan dari program pemasaran tersebut.

Apalagi program tersebut menyasar kaum muda."Bukan pergeseran (sasaran konsumen Pocari). Dari dulu target Pocari adalah konsumen umur 15-35. Tetapi selama ini tidak ada keseriusan marketing Pocari menggarap segmen umur 15-25-nya. Nah, saat saya masuk, saya memberikan perhatian juga terhadap target tersebut (anak muda)," ungkap dia.

Ia menuturkan, potensi pasar dari kaum mudah sangat besar. Ia pun menyebutkan, pengeluaran konsumsi dari konsumen dengan rentang umur 15-25 tahun dapat mencapai angka Rp 200 triliun. Ini berdasarkan data survei Majalah Marketing bulan April 2011.

Untuk membidik konsumen khusus itu, sejumlah iklan Pocari pun belakangan ini menggunakan sejumlah hal yang berkaitan yang sedang disukai anak muda. Sebut saja, pemakaian pesepakbola Irfan Bachdim dan sepeda fixie dalam iklannya.

Ia menceritakan bagaimana perjuanganya dalam mendapatkan Irfan Bachdim untuk iklannya. "Saat itu kan lagi AFF, Irfan sangat sibuk, sementara saya kepengen iklan Pocari dengan Irfan ini cepet tayang di televisi dan harus yang pertama. Sebelum iklan Irfan dengan yang produk lain. Jadi, saya sampai datang ke kamar hotelnya di Hotel Sultan pagi-pagi, demi mendapatkan approval dan lain-lain," ujar dia. 

Oleh karena itu, ia menuturkan masyarakat lebih mengingat Irfan Bachdim dengan produk Pocari, bukan dengan produk lainnya.

Mudahkah meyakinkan manajemen untuk melakukan ini semua? Membawa sesuatu yang baru, ternyata tidak langsung mudah baginya untuk meyakinkan atasannya. "Tantangan bukan dari ide atau mikirnya gimana. Tapi bagaimana manajemen mau untuk melakukan ide-ide saya itu," ungkapnya.

Ia mengaku tidak mudah untuk meyakinkan manajemen dengan ide dan konsep yang dia punya. Apalagi, konsep pemasaran yang diajukannya adalah sesuatu hal yang baru dan berbeda. "Manajemen berharap komunikasi yang di sampaikan melalui televisi selalu dengan edukasi. Padahal iklan televisi yang hanya 30 detik tidak mampu untuk mengedukasi konsumen dengan jelas. Jadi, iklan televisi kita hanya sampaikan sesuatu yang menarik, yang bisa diingat konsumen, dengan tentunya tetap menjaga image Pocari Sweat," tambahnya.

Sementara itu, edukasi yang diminta manajemen dilakukan di lini pemasaran lain, seperti melalui publikasi, konferensi pers, advertorial, kegiatan below the line, termasuk menciptakan digital marketing melalui media sosial dan website. "Disitu kita tetap bisa memberikan edukasi mengenai pentingnya cairan dan ion tubuh," jelasnya.

Apakah dengan pencapaian ini telah membuatnya puas? "Kita berkontribusi, ada hasilnya, ya puas," ujarnya, sebagai tolok ukur dari keberhasilan dalam usahanya.

Dari apa yang telah dilakukannya ini, ia pun telah mendapatkan penghargaan Young Marketer Champion sebagai juara ketiga pada tahun 2010. Penghargaan ini didapatnya dari Markplus dan Majalah SWA. "Penghargaan dari SWA tentunya karena melihat achievement saya yang dilakukan sampai sekarang ini. Terutama saat kampanye SOYJOY Healthylicious dan Pocari Sweat (Ionopolis). Dua hal ini mungkin yang di anggap panitia sebagai achievement yang bagus, karena dua kampanye ini berhasil menciptakan buzz yang luar biasa khususnya di social media," sebutnya.


Editor : Erlangga Djumena