Sabtu, 25 Oktober 2014

/

KUALITAS

Rafinasi Vs Gula Kristal Putih

Jumat, 29 Juli 2011 | 02:44 WIB

Tidak semua orang mengerti tentang gula rafinasi. Konsumen Indonesia lebih mengenal gula kristal sebagai gula pasir, tak peduli apakah dari jenis gula kristal rafinasi (baca: gula rafinasi) maupun gula kristal putih. Apalagi bicara kualitas.

Yang muncul justru anggapan keliru sebagian masyarakat bahwa semakin keruh warna gula kristal semakin manis rasanya. Namun, apa sesungguhnya perbedaan gula rafinasi dan GKP?

Gula rafinasi merupakan salah satu jenis gula sukrosa yang diproduksi melalui tahapan awal gula kristal mentah (raw sugar), meliputi proses pelarutan kembali (remelting), klarifikasi, dekolorisasi, kristalisasi, fugalisasi, pengeringan, dan pengemasan.

Rafinasi diambil dari kata refinery yang bermakna menyuling, menyaring, membersihkan. Karena melalui tahapan proses ketat, tak aneh bila gula rafinasi memiliki tingkat kemurnian tinggi.

Karena melalui proses pemurnian bertahap, gula rafinasi memiliki kadar keputihan (ICUMSA) 45. Jauh di atas gula ekstra spesial atau kelompok gula untuk makanan (food grade) dengan kadar ICUMSA 100 - 150.

Selain itu, kualitasnya juga jauh di atas gula kristal putih (GKP) dengan kadar ICUMSA 200-300. Karena melalui proses pemurnian lebih ketat, warna gula putih bersih dan lebih cerah. Butiran kristalnya lebih halus dan lembut. Tak heran bila industri makanan, minuman, dan farmasi lebih menyukai gula rafinasi meskipun diolah dari bahan baku raw sugar impor.

Tahap pertama proses pengolahan gula rafinasi adalah menghilangkan lapisan molases pada kristal gula mentah. Pencucian dilakukan dalam mesin sentrifugal. Lalu masuk tahap klarifikasi yang bertujuan membuang semua kotoran.

Untuk Indonesia, pembuangan kotoran menggunakan teknologi karbonatasi. Tahapan selanjutnya meliputi fosflatasi, karbonatasi, filtrasi, dekolorisasi, evaporasi, kristalisasi, sentrifugasi, pengeringan dan pendinginan, serta pengemasan.

Staf Ahli Asosiasi Gula Indonesia, Colosewoko, mengatakan, tahun 2011 impor gula mentah sebagai bahan baku gula rafinasi yang disetujui mencapai 2,42 juta ton. Selain mengimpor gula mentah untuk bahan baku gula rafinasi, pemerintah juga mengimpor gula rafinasi langsung untuk memenuhi kebutuhan gula industri.

Berbeda dengan gula rafinasi, GKP memiliki angka ICUMSA lebih tinggi. Gula ini dapat dikonsumsi langsung sekalipun soal higienitas kalah dibandingkan gula rafinasi. Di Indonesia, GKP mayoritas diproduksi pabrik gula BUMN dan PG swasta.

Kelebihan GKP bukan pada tingkat kualitas, seperti higienitas atau tingkat keputihan. Kelebihan GKP, seperti disebut Colosewoko, rasanya lebih manis dibandingkan gula rafinasi.

Selain itu, GKP juga berbahan baku tebu petani sehingga industri GKP menopang perekonomian nasional, terutama perekonomian pedesaan dan menyerap banyak tenaga kerja.

Sebagai gambaran, untuk setiap unit pabrik gula (PG) baru berkapasitas 10.000 ton gula per hari/TCD memerlukan lahan pertanaman tebu sekitar 20.000 hektar. Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, investasi untuk membangun satu unit PG baru sekitar Rp 2 triliun.

Data Dewan Gula Indonesia menunjukkan, saat ini terdapat 62 PG di Indonesia, 51 PG di antaranya milik BUMN. Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Arum Sabil mengatakan, total kapasitas PG yang ada sekarang 2,7 juta ton per tahun.

Selain nilai investasinya yang besar, industri GKP jugamenyerap banyak tenaga kerja. Secara sosial, setiap unit PG akan menyerap 25.500 tenaga kerja. (MAS)

 


Editor :