Kamis, 24 April 2014

/

Akar Krisis Pangan Dunia

Selasa, 16 Agustus 2011 | 03:33 WIB

Baca juga

Dalam pergulatan manusia selama hidupnya, mencari pangan adalah pergulatan yang paling tua. Riwayat pencarian pangan tentu saja ada sejak manusia muncul di muka bumi ini.

Pada zaman prasejarah tidak jarang pergulatan itu menghasilkan krisis pangan karena kebutuhan pangan manusia lebih besar dari yang disediakan alam. Munculnya teknik budidaya pada masa neolitik sekitar 5.000 tahun Sebelum Masehi diduga menjadi titik di mana manusia berusaha mengatasi krisis pangan.

Semula yang ada adalah teknik pencarian pangan yang berpindah dengan cara seperti berburu, kemudian berubah menjadi pertanian yang menetap hingga muncul apa yang disebut teknik budidaya.

Teknik budidaya itu hingga sekarang terus berkembang, tetapi pada kenyataannya problem pangan juga terus bermunculan. Dalam catatan sejarah, krisis pangan juga terjadi di Yunani kemudian di Romawi. Penduduk sampai berdoa kepada dewa untuk meminta pangan.

Sejarah krisis pangan di dalam Starving Nations-The Story: History of the Food Crisis memperlihatkan berbagai faktor penyebab krisis pertanian, krisis pangan, dan kelaparan dunia.

Pada abad pertengahan di Eropa, setiap generasi selalu diserang kelaparan. Penduduk miskin dikisahkan memakan anjing, kucing, dan juga burung mati yang jatuh.

Masa itu tercatat saat terjadi krisis pangan yang akut sehingga mengakibatkan kelaparan parah. Tahun 1315 hingga 1317, Eropa mengalami kelaparan yang kemudian disebut sebagai the great famine.

Kelaparan ini disebabkan oleh hujan lebat yang terus-menerus sehingga panen dan pengolahan tanah tidak mungkin dilakukan. Bila saja ada panen hasilnya sangat kecil. Keluarga petani kemudian bergantung pada stok pangan di lumbung-lumbung mereka.

Tahun 1317 kelaparan mencapai puncaknya. Hewan yang biasanya digunakan untuk mengolah tanah disembelih untuk dijadikan sebagai sumber pangan. Anak-anak muda dibuang oleh orangtuanya yang telah putus asa karena kelaparan.

Krisis pangan mulai berakhir setelah musim panas 1317. Cuaca mulai membaik sehingga tanaman bisa kembali dibudidayakan. Setidaknya 10 persen sampai 15 persen penduduk Eropa mati akibat kelaparan dan berbagai penyakit yang muncul karena gizi buruk.

Catatan sejarah krisis pangan lainnya terjadi pada awal dekade 1930-an. Krisis pangan ini terjadi di Ukraina tahun 1932-1933 yang berakibat sekitar 7 juta warganya atau sekitar 25 persen dari populasi yang ada meninggal dunia karena kelaparan dan malnutrisi.

Dari berbagai catatan, krisis pangan dan kelaparan di Ukraina lebih tepat akibat kekejaman penguasa dibandingkan sebagai akibat bencana alam. Setelah rezim komunis berkuasa di Rusia, mereka berusaha menguasai sejumlah negara tetangga. Mereka kemudian membentuk Uni Soviet.

Pasca-kematian pemimpin Uni Soviet, Lenin, pada tahun 1924 Joseph Stalin berkuasa. Pemerintahan Stalin berusaha menekan penduduk Ukraina yang ingin memerdekakan diri.

Untuk mencapai tujuan ini, Stalin menaikkan kuota pangan dalam program pangan yang diserahkan ke negara atau kolektivisasi. Tahun 1932, pengumpulan pangan di Ukraina dinaikkan hingga 44 persen. Untuk upaya ini, Komite Sentral Partai Komunis mengerahkan sekitar 100.000 agen.

Setiap bulan, Stalin terus meningkatkan kuota di tanah yang tergolong subur itu. Sekitar 75 persen lahan yang ada telah masuk ke dalam program kolektivisasi itu. Akibatnya, pangan tidak tersedia di Ukraina. Pada sisi lain hasil kolektivisasi itu menghasilkan keuntungan yang tinggi melalui ekspor pangan asal Ukraina. Hasil dari penjualan ini digunakan Stalin untuk Rencana Modernisasi Lima Tahun. Bila dihitung, jumlah produk yang dijual itu diperkirakan bisa menghidupi Ukraina selama dua tahun.

Akibat kebijakan itu, warga Ukraina kemudian mengalami kelaparan. Kelaparan makin parah karena bantuan pangan tidak mungkin dilakukan. Tentara Rusia menjaga perbatasan Ukraina untuk menutup bantuan pangan ke wilayah itu. Pada puncak kelaparan tahun 1933, dalam sehari ada 25.000 orang tewas.

Kejadian ini selalu ditutupi oleh Pemerintah Rusia. Negara-negara Eropa barat juga tidak pernah mempertanyakan kejadian ini. Negara-negara Barat tidak mau hubungan mereka retak karena kasus ini. Mereka memilih diam demi kepentingan penjualan peralatan dan mesin karena Rusia merupakan pasar mesin bagi negara-negara di Eropa barat.

Kesembronoan Uni Soviet dan kerakusan negara-negara Eropa barat mengakibatkan kematian 25 persen warga Ukraina hingga akhir 1933. Kelaparan berakhir setelah Stalin meraih tujuannya dan memperbolehkan pangan didistribusikan ke Ukraina.

Krisis pangan berikutnya terjadi di kawasan Benggala, India, pada tahun 1943. Saat itu wilayah tersebut dikuasai Inggris. Krisis pangan yang berakibat kelaparan ini bermula dari bencana angin ribut pada tahun 1942. Banyak wilayah penghasil pangan mengalami kerusakan parah. Pada saat bersamaan terjadi Perang Dunia II yang juga membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar. Akibatnya, terjadi inflasi yang tinggi.

Penguasa Inggris lebih memilih mengirim pangan asal Benggala itu ke Inggris atau kepada tentara India yang tengah bertugas di Timur Tengah meskipun pangan di Benggala sudah sangat minim. Para pedagang yang menguasai pangan ikut bermain dan malah berharap harga terus naik sehingga keuntungan banyak diperoleh. Warga Benggala makin tak bisa mendapatkan pangan.

Penguasa Inggris tidak merespons warga yang sudah putus asa karena prioritas pengiriman pangan tertinggi diberikan kepada warga Inggris.

Akibat krisis pangan dan kelaparan ini, setidaknya 1,5 juta hingga 3 juta warga Benggala meninggal selama masa itu. Kejadian di India ini merupakan akibat gabungan dari bencana alam dan pengabaian kenyataan kelaparan oleh penguasa.

Tahun 1958-1961, terjadi krisis pangan hingga kelaparan di China. Kejadian ini bermula ketika Mao aktif mendorong pembangunan ekonomi, khususnya dalam produksi logam. Ia bercita-cita dalam waktu dekat China bisa mencapai produksi logam bersama dengan Inggris. Untuk mencapai cita-cita ini, warga dipaksa bekerja di koperasi dan tanah-tanah kolektif. Untuk makin mendorong warga, pemerintah memberi pangan gratis bagi mereka yang bekerja.

Jumlah kematian selama tiga tahun itu mencapai 14-26 juta orang. Situasi ini parah karena China mengabaikan sektor pertanian dan membuat laporan-laporan palsu mengenai data-data produksi.

Tahun 1972 juga terjadi krisis pangan. Jutaan warga dunia mengalami kelaparan di setidaknya 40 negara. Panen di sejumlah tempat dilaporkan sangat tidak memuaskan. Kondisi ini diakibatkan situasi stok pangan dunia yang sangat rendah.

Saat itu, negara-negara produsen juga menutup pintu ekspor dan bantuan ke negara lain karena produksi sangat buruk. Sebagai contoh, bantuan pangan Amerika Serikat anjlok 50 persen. AS juga mengetatkan penjualan pangan sekitar 10 juta ton pada Uni Soviet. Presiden Gerald R Ford hanya memperbolehkan penjualan seperlima dari jumlah itu.

Pada tahun 1995-1997, diduga masih terjadi hingga sekarang, kelaparan di Korea Utara diperkirakan merenggut tiga juta nyawa. Kelaparan ini bermula ketika China dan Uni Soviet tidak lagi memberi subsidi pangan, secara keseluruhan pasokan pangan menurun drastis. Uni Soviet tidak lagi memberi subsidi karena negara itu telah runtuh menyusul perubahan politik di negeri itu.

Kasus di Korea Utara ini mirip dengan di China karena Korea Utara juga tengah berusaha mentransformasi ekonominya dari negara pertanian ke negara industri.

Sejumlah krisis pangan pada masa lalu memperlihatkan kelaparan tidak begitu saja menyebar ke negara lain. Akan tetapi, belakangan, setidaknya sejak 1972, dengan pembukaan pasar pada beberapa tahun yang lalu serta akibat stok pangan dunia yang tidak imbang dengan jumlah penduduk, menyebabkan krisis pangan cepat menyebar ke negara lain.

Krisis pangan global sempat memanas ketika akhir tahun 2007 stok pangan dunia terus menipis. Tahun 2008 terjadi kenaikan harga pangan yang sangat tinggi hingga negara-negara yang bergantung pada impor kesulitan untuk mendapatkan pangan. Secara rata-rata, kenaikan harga komoditas pangan mencapai 20 persen. Pada saat bersamaan, sejumlah negara produsen menutup pintu ekspor. Akibatnya, kerusuhan terjadi di sejumlah negara.

Karen M Jetter dari Pusat Isu-isu Pertanian, Universitas California, dalam salah satu makalahnya mengatakan, krisis pangan yang terjadi belakangan ini disebabkan oleh sejumlah hal, seperti kegagalan panen di sejumlah negara produsen pangan, produksi bioenergi yang meningkat (yang berarti mengalihkan pasokan bahan pangan untuk bahan baku energi), peningkatan harga bahan bakar, dan perubahan pertumbuhan ekonomi domestik dan global.

Krisis pangan tahun 2008 terjadi mulai dari Kamerun, Haiti, Banglades, Mesir, hingga Filipina. Krisis pangan telah menyebabkan kerusuhan, seperti di Mesir, Banglades, dan Yaman. Antrean orang yang membutuhkan makanan terjadi di sejumlah desa di negara tersebut. Krisis politik 2011 yang belakangan terjadi di Arab juga disebabkan oleh krisis pangan di beberapa negara di wilayah itu.

Sejarah krisis pangan dunia mengingatkan kepada kita bahwa kekurangan pangan dan kelaparan di seluruh dunia mempunyai penyebab yang bermacam-macam, mulai dari jumlah penduduk yang meningkat pesat, cuaca yang buruk, dan kesalahan manajemen dari pemerintah. Untuk itu, kalimat ”sejarah kembali berulang” perlu dicamkan karena dengan memahami sejarah yang ada kita bisa memahami krisis pangan yang tengah terjadi dan mencari jawabannya.(ANDREAS MARYOTO)


Editor :