KOMPAS/HERU SRI KUMURO
Ilustrasi pasar saham
JAKARTA, KOMPAS.com — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia kembali perkasa setelah melonjak melampaui level 4.000. Pada penutupan bursa sesi siang hari ini, indeks di tutup di level 4.009,17 atau menguat 55,89 poin (sekitar 1,414 persen) dibanding penutupan Selasa (16/8/2011).
Indeks sempat menyeruak ke posisi tertinggi sejak pagi tadi di level 4.008,2 sehingga semakin mendekati posisi tertinggi dalam 52 minggu terakhir yang bertengger di level 4.193 pada 1 Agustus 2011.
Kecenderungan penguatan hingga melampaui level 4.000 mulai terjadi sejak pukul 11.29 WIB. Saat itu indeks perkasa di level 4.006,89 atau menguat 53,62 poin (1,36 persen) di atas penutupan Selasa. Penguatan itu agak melorot pada pukul 11.44 ketika indeks berada di level 1.001,85, kemudian menguat lagi di level 4.005,45 pada pukul 11.54 hingga akhirnya bercokol di level penutupan itu.
Penguatan bursa domestik ini berlawanan dengan indeks di bursa Jepang. Bursa Jepang anjlok menyusul penguatan nilai tukar yen terhadap dollar AS yang terjadi terus-menerus. Pelemahan itu juga didorong oleh kekhawatiran pelaku pasar pada perekonomian Amerika Serikat (AS) yang kemungkinan tengah mengarah ke resesi lanjutan.
Beragam saham unggulan bergerak di bawah kinerja maksimalnya setelah data penjualan Dell cukup mengecewakan sehingga muncul kekhawatiran bahwa pelemahan ekonomi akan menekan pendapatan pada triwulan III-2011 dan mengarahkan saham-saham teknologi AS terguling. "Masalah terbesar bagi investor saat ini adalah kuatnya yen," ujar Manajer Portofolio Daiwa SB Investment, Koichi Ogawa.
Minggu ini, dollar AS diperdagangkan dalam rentang yang sangat sempit dengan posisi terendah dalam sejarah, yakni 76,25 yen per dollar AS. Batas itu akan diuji minggu depan oleh para pelaku pasar ketika mereka kembali dari liburan musim panas dan ketika para eksportir menjual dollar AS mereka. Penguatan yen akan membuat nilai para yang yang diekspor Jepang menjadi menurun dan menyebabkan laba mereka menurun. Dengan demikian, ada setidaknya sembilan bursa yang mengalami perlemahan dan hanya tiga bursa yang menguat, termasuk BEI.
Kondisi itu menempatkan indeks Nikkei 225 di level 8.969,24 atau turun 88 poin (0,97 persen), indeks Hang Seng berada di level 20.288,82 atau melemah 0,21 poin, lalu indeks CSI 300 China berada di level 2.872,77 atau melemah 13,24 poin (0,46 persen).
Adapun indeks TWSE Taiwan anjlok 176,3 poin ( 2,28 persen) di posisi 7.565,46; sedangkan Sensex (indeks sensitif di India) drop 91,89 poin (0,55 persen) di level 16.748. Bursa India lainnya, yakni Nifty, pun anjlok 30,9 poin (0,61 persen) ke posisi 5.025,7. Indeks Kospi Korea Selatan tenggelam 2,42 persen di 1.846. Begitu pun indeks Australia ASX 200 yang melorot 1,13 persen ke level 4.255,2.
Sementara itu, selain BEI, bursa yang bergerak hijau adalah SET Thailand yang menguat 6,97 poin (0,64 persen) ke level 1.100,48, sedangkan STI Singapura menguat 0,35 persen ke 2.838. Dengan demikian, BEI termasuk bursa yang mengalami penguatan tertinggi dibandingkan bursa di kawasan.
