Minggu, 21 Desember 2014

/

ENERGI TERBARUKAN

"Smart Grid" untuk Efisiensi Energi

Kamis, 15 September 2011 | 04:13 WIB

Jakarta, Kompas - Menurunnya cadangan minyak dan gas serta harganya yang terus meningkat mendorong banyak negara mulai beralih pada pengembangan energi terbarukan. Hal ini diharapkan menekan penggunaan bahan bakar minyak dan gas. Usia cadangan migas diperkirakan tinggal 60 tahun.

Bersamaan dengan upaya itu, efisiensi energi tak terbarukan ditingkatkan, termasuk batubara pada pusat pembangkitan listrik. Hal ini dirintis beberapa negara dengan menerapkan sistem smart grid, jejaring teknologi informasi dan komputer yang memantau penggunaan listrik dan menginformasikan pada perusahaan pembangkit dan pengguna.

Dalam jumpa pers tentang Singapore International Energy Week (SIEW) 2011 di Jakarta, Selasa (13/9), Vincent Lee, Manager Conference SIEW, menjelaskan, Pemerintah Singapura telah menguji coba smart grid fase pertama di Universitas Nanyang. Tahun ini, fase kedua dilaksanakan di lokasi yang sama.

”Jaringan listrik pintar” itu memungkinkan pasokan listrik dari pembangkit listrik yang dibangun pelanggan ke jaringan milik perusahaan pembangkit listrik. Saat ini, telah ada pelanggan listrik, baik industri maupun masyarakat, yang mengoperasikan pembangkit sel surya atau kincir angin. Adanya pasokan listrik dari pelanggan memungkinkan terjadinya ”jual beli” antara perusahaan pembangkit listrik dan pelanggan.

Di Singapura, sistem pembangkitan hibrid yang memadukan energi surya dan angin tengah diuji coba di Pulau Ubin. Adapun smart grid, kata dia, juga mulai dimanfaatkan beberapa negara, seperti Australia, Jepang, Korea Selatan, India dan China.

Pengembangan pemanfaatan energi terbarukan secara komersial tengah dirintis di Indonesia. Kata Heru Setiawan, Sekretaris Tim Kerja Downstream Strategic Planning Pertamina, pihaknya tengah menyusun roadmap pembangunan pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan.

”Rencana ini sejalan dengan perubahan visi Pertamina yang berubah jadi perusahaan energi, bukan hanya perusahaan migas,” kata Heru. Sejalan dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, Pertamina akan membangun sembilan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (geotermal).

Pertamina juga menjajaki pembangunan pembangkit energi surya, angin, dan gelombang laut.

Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko PT PLN Murtaqi Syamsudin mengatakan, pihaknya telah mendorong penggunaan energi terbarukan, dalam hal ini energi surya di kawasan terpencil. Pada tahap pertama akan dibangun energi surya di 100 pulau terpencil. Implementasi rencana tersebut akan dilaksanakan tahun 2012.

Pembangkit energi surya ini berkapasitas terbatas, hanya untuk penerangan di rumah-rumah. Saat ini, ada sekitar 30 persen rumah tangga di Indonesia yang belum terjangkau listrik. Upaya pembangunan infrastruktur dasar untuk memberi akses listrik merupakan prioritas utama.

Adapun program smart grid masih dipelajari PLN, terutama tentang teknologi dan kemungkinan investasinya. Saat ini, pembangunan infrastruktur itu yang masih tergolong mahal, ujar dia.

(YUN)


Editor :