Sabtu, 25 Oktober 2014

/ Bisnis & Keuangan

Harga Turun, Emas Kembali Diburu

Sabtu, 1 Oktober 2011 | 15:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pedagang emas awalnya was-was ketika harga emas melandai. Alay, pemilik Toko Lemabang Jaya dan Toko Palembang Jaya di Palembang, tadinya ingin membatasi penjualan perhiasan emasnya ketimbang merugi. Soalnya, beberapa stok miliknya dibeli saat harga masih tinggi. Tapi ia urung melakukannya karena banyak pembeli yang memburu emas di saat harganya rendah.

Jadilah ia melepas stoknya. "Perputaran uang harus jalan, mumpung banyak yang membeli. Jadi enggak begitu kejar untung gede," kisahnya kepada KONTAN, Kamis (29/9/2011). Namun, ia tetap mendulang untung dari larisnya penjualan. Laba juga datang karena banyak pembeli rela memborong emas dengan kadar dan berat yang lebih rendah.

Dia mencontohkan, perhiasan dengan kandungan satu suku emas (6,7 gram) dilego Rp 3 juta, dengan modal Rp 2,8 juta. Tapi, harga jual emas setengah suku lebih tinggi, mulai Rp 1,6 juta-Rp 1,7 juta. "Makin banyak yang beli  "kecil-kecil", kami bisa ambil untung," jelas dia.

Sepekan ini, Alay bisa menjual minimal 67 gram perhiasan per hari dan meraup untung sedikitnya Rp 2 juta sehari. Padahal, ketika harga tinggi, ia biasanya hanya bisa menjual 30 gram per hari.

Pedagang juga mereguk untung dengan menjual emas perhiasan berkadar rendah. Tadinya setiap selisih per kadar, ada perbedaan harga Rp 40.000–Rp 60.000. Tapi kini, harga jual emas berkadar 91 dibanderol Rp 3 juta per suku. Adapun harga emas berkadar 92 sekarang Rp 3,2 juta per suku. Artinya, selisih harganya menjadi Rp 200.000.

Satu-satunya kendala yang ia hadapi hanya distributor yang menahan pasokan emas. Namun, Alay tetap berupaya menyetok emas batangan.Dengan begitu, ketika harga emas melambung kembali, ia bisa meraup untung tambahan dari penjualan stok emas yang ia beli di harga lebih murah.

Gunawan, pemilik toko emas di Pekanbaru, juga mengalami lonjakan penjualan. Ia bisa menjual sedikitnya 100 gram emas sehari. "Ketimbang Agustus, penjualan naik lebih dari 50 persen," ujarnya. Pembeli kebanyakan berasal dari daerah ketimbang kota Pekanbaru.

"Harga tinggi saja masih dibeli, apalagi saat murah. Orang daerah beli murah supaya nanti pas emas tinggi mereka bisa jual," ucapnya.

Alay, Gunawan, dan pedagang perhiasan lain di daerah biasanya mengetahui fluktuasi harga emas dari internet, yaitu perdagangan komoditas London. Mulai pukul 09.00 WIB, informasi itu menyebar sampai pedagang daerah lewat telepon selular maupun BlackBerry. Uniknya, mereka baru mulai berjualan pukul 12 siang, setelah harga emas stabil. (Maria Rosit/Kontan)

 


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: