Inilah 5 "Pejuang" Peraih Danamon Award - Kompas.com

Inilah 5 "Pejuang" Peraih Danamon Award

Kompas.com - 04/11/2011, 23:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Lima orang pejuang kesejahteraan Indonesia terpilih untuk meraih Danamon Award 2011 . Kelima orang tersebut yakni Khilda Baiti Rohmah "Si Pengolah Sampah", Karmono "Sang Penemu", Kemiskidi "Pemberdaya Wisata", Nureini "Pembina Istri Nelayan" dan Putu "Pengubah Paradigma."

Kelima peraih penghargaan ini terpilih dari 312 proposal yang masuk ke panitia. Dan, telah melalui empat kriteria penilaian, yaitu motivasi, hasil, jangkauan, dan keberlangsungan.

Pemberian penghargaan ini dilakukan di Balai Kartini, Jakarta, Jumat ( 4/11/2011 ). Pemilihan sendiri dilakukan dengan sistem pemungutan suara secara online dan pesan teks selama 30 September hingga 30 Oktober 2011 .

Terhadap lima orang pejuang kesejahteraan ini, Ketua Panitia Pelaksana Danamon Award 2011 , Zsa Zsa Yusharyahya, menyatakan rasa bangganya. "Mereka adalah pejuang kesejahteraan Indonesia yang sebenarnya," tutur Zsa Zsa, di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, visi para pejuang tersebut sejalan dengan Danamon yakni peduli dan membantu orang lain untuk mencapai kesejahteraan.

Dari kelima peraih penghargaan tersebut, Khilda Baiti Rohmah menjadi pejuang terfavorit pilihan masyarakat.

Berikut profil singkat kelima para pejuang kesejahteraan Indonesia.

Karmono, Sang Penemu

Karmono memulai usaha pembudidayaan buah belimbing sejak 1983 . Dan, ia pun berhasil mengembangkan varietas belimbing di tempat tinggalnya Demak, Jawa Tengah.

Latar belakang dari usahanya tersebut yakni untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia berpikir kalau hanya jadi guru SD, anaknya tidak bisa sekolah tinggi.

 Setelah berhasil dengan belimbing, ia pun membudidayakan buah jambu. Karmono pun memberikan bibit jambu secara gratis kepada siapapun yang mau menanam jambu.

Dalam eksperimennya, ia pun menemukan satu jenis varietas jambu unggulan yang diberi nama Jambu Merah Delima.

Kemiskidi, Pemberdaya Wisata

Tepatnya di Dusun Krebet, Bantul, Yogyakarta, Kemiskidi melakukan usaha membatik pada media kayu. Pada tahun 1994 , ia memulai kegiatan membina dan memberdayakan masyarakat perajin. Kemiskidi mengajarkan mereka membuat produk batik kayu.

Kini, ia pun mempunyai sanggar Mpok Darwis (Kelompok Sadar Wisata) yang berjumlah 46 kelompok. Bahkan telah berkembang menjadi Koperasi Sido Katon, untuk melayani para perajin.

Pria yang mengaku sempat kesulitan melanjutkan pendidikan karena ketidakmampuan orang tua, kini bisa memperoleh omset sebesar Rp 40-75 juta per bulan. Dengan rasa cinta pada kesenian yang tinggi, Kemiskidi pun bisa mempekerjakan 30 orang karyawan.

Khilda Baiti Rohmah, Pengolah Sampah

Berawal dari keprihatinan melihat pekerja yang mengangkut sampah, wanita muda asal Bandung ini pun akhirnya berupaya mengelola sampah untuk bisa menghasilkan barang-barang yang berguna dan bernilai. "Awalnya saya bertemu dengan pengangkut sampah yang punya pendapatan yang tidak cukup dan sampah yang terus menumpuk," ujar Khilda.

Berlokasi di Sukabumi, ia memisahkan sampah organik dan anorganik hingga mengembangkan minyak sampah sebagai energi alternatif dari sampah. Bahkan, Khilda pun bisa membentuk komunitas sampah.

Nureini, Pembina Istri Nelayan

Rendahnya tingkat pendapatan nelayan di Patingaloang, Sulawesi Selatan membuat Nureini tergerak untuk melakukan kegiatan yang menambah penghasilan masyarakat, khususnya untuk istri para nelayan yang menganggur.

Ia mengajak ibu-ibu tersebut untuk mengolah ikan menjadi produk makanan olahan. Kini, ia membentuk kelompok Fatimah Azzahra yang beranggotakan 200 istri nelayan.

Putu Suryati, Pengubah Paradigma

Dengan keterbatasan fisiknya, ia berupaya mengumpulkan orang-orang yang bernasib sama dengannya. Ia berikan keterampilan sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing orang. Adapun pelatihan yang diberikannya berupa bahasa Inggris, komputer, kerajinan tangan hingga kesenian.

Putu pun mendirikan Yayasan Senang Hati pada tahun 2003 . Kini, yayasan tersebut telah mendidik 49 orang untuk mandiri secara finansial.


EditorErlangga Djumena

Close Ads X