Rabu, 1 Oktober 2014

/ Bisnis & Keuangan

Renyahnya Laba Bisnis Tepung Krispi

Jumat, 18 November 2011 | 11:23 WIB

KOMPAS.com - Banyaknya gerai yang menawarkan gorengan krispi menjadi ladang bisnis menarik para produsen tepung krispi curah. Mereka bisa mendulang omzet puluhan juta rupiah saban bulan. Produksi pun masih terus bertambah, karena usaha gorengan krispi, khususnya ayam goreng, masih terus berkembang, terutama di daerah dan luar Jawa.

Menjamurnya usaha gorengan berbalut tepung, seperti pisang goreng, jamur hingga ayam goreng tepung, makin meramaikan bisnis tepung bumbu garing. Munculnya usaha-usaha baru yang memakai tepung ini sebagai salah satu bahan baku, melambungkan permintaan tepung berasa gurih ini.

Salah satu produsen tepung bumbu garing tersebut adalah Asmi Ramadhan. Pemilik CV Rizki Mas Sejati di Tangerang, Banten yang memproduksi tepung krispi dengan merek Tepung99 sejak tahun 2010.

Dia memiliki pabrik pengolahan tepung di Kedoya, Jakarta Barat, Asmi yang juga pendiri Perhimpunan Pengusaha Fried Chicken Indonesia (Percik) ini menghasilkan tiga jenis tepung bumbu krispi. Yakni, tepung siap pakai, biang tepung, dan marinasi atau tepung krispi yang juga berfungsi mengasinkan makanan.

Namun, dari ketiga produk ini, biang tepung adalah produk yang paling laris. "Karena, biang tepung bisa digunakan untuk olahan apa pun. Harganya juga lebih ekonomis," ucapnya. Sekadar informasi, satu kilogram (kg) biang tepung bisa dicampurkan ke dalam 10 kg tepung.

Untuk membuat tepung ini, Asmi memakai beragam bumbu dapur dan rempah-rempah. Seperti tepung marinasi yang berbahan dasar garam, lada serta cabai bubuk.

Sedangkan untuk membuat biang tepung, ia selalu menyertakan rempah bubuk alami seperti lada, gula, garam, baking soda dan rempah lainnya. "Kami sama sekali tak pakai pengawet dan semua bahan baku adalah rempah alami," tandasnya.

Menurut pemuda 25 tahun ini, yang perlu diperhatikan dalam pembuatan tepung bumbu ini adalah takaran yang tepat. "Sebenarnya tak ada bumbu rahasia, yang ada hanyalah tangan-tangan yang andal saat meraciknya," jelasnya.

Harga jual tepung ini cukup terjangkau. Tepung bumbu krispi siap pakai Rp 13.000 per kg. Sedangkan untuk biang tepung dan tepung marinasi harganya sekitar Rp 35.000 per kg.

Saban bulan, Asmi sanggup memproduksi hingga 2 ton tepung bumbu krispi tersebut. Ia pun bisa merengkuh omzet Rp 70 juta dengan margin keuntungan sekitar 25 persen. "Peluang bisnis ayam goreng renyah masih terbuka lebar, terutama di daerah-daerah. Prospek bisnis tepung pun ini masih cerah ke depan," tandasnya.

Senada dengan Asmi, Setiawan, produsen tepung bumbu krispi McCrispy asal Gresik, Jawa Timur menyatakan, tren permintaan tepung bumbu krispi terus meningkat dalam setahun terakhir. Ia yang semula hanya memproduksi tepung untuk keperluan internal usaha, tergerak untuk membuka produksi tepung sejak enam bulan silam.

Lebih dari lima tahun, Setiawan menggeluti usaha ayam goreng tepung. Suatu saat, ia pun mendapat pesanan untuk membuat tepung. "Awalnya permintaan datang dari wilayah Gresik tapi perlahan mulai meluas hingga Surabaya dan sekitarnya," tuturnya.

Dengan harga jual Rp 14.000 per kg, Wawan bisa menjual hingga 1,5 ton tepung bumbu per bulan. Ia pun bisa mendulang omzet hingga Rp 22 juta tiap bulan.

Menurutnya prospek usaha ini cukup besar, tak heran jika persaingan di usaha ini tambah ramai dari hari ke hari. Setiawan memanfaatkan jaringan internet untuk memasarkan tepungnya.

Tak hanya pengusaha ayam goreng, McCrispy juga membidik konsumen rumah tangga. Sayang, Setiawan masih sulit menembus pasar ini karena konsumen ini sudah loyal pada merek tepung bumbu tertentu. "Padahal secara kualitas dan rasa produk kami tak kalah dengan merek papan atas tersebut," jelasnya.

Ia pun menjamin, bumbu tepungnya aman karena tanpa bahan pengawet. "Tepung kami mampu menjaga kadar kerenyahan makanan hingga waktu yang cukup lama," jelasnya. (Fahriyadi/Kontan)

 


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: