Jumat, 25 April 2014

/ Bisnis & Keuangan

Ketika Pedagang Kaki Lima Belajar Mengelola Uang

Kamis, 8 Desember 2011 | 07:53 WIB

Baca juga

KOMPAS.com — Meraih ilmu bukan hanya secara formal dan bagi kalangan tertentu. Laki-laki, perempuan, tua, muda, apa pun profesinya, berhak mendapat tambahan ilmu.

Selasa (6/12/2011), sekitar 250 pedagang kaki lima yang semuanya perempuan memperoleh ilmu mengelola keuangan. Mereka sangat antusias karena akan mendapat tambahan ilmu yang bermanfaat untuk meningkatkan taraf ekonomi.

Linda, anggota sekaligus pengurus Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) di DKI Jakarta, mengakui, ia pernah mendapatkan ilmu pengelolaan keuangan serupa. Kali ini, ia turut serta sebagai panitia acara.

Linda yang sehari-hari berjualan ikan di Muara Angke, Jakarta Utara, menuturkan, ia diajarkan cara memilah-milah uang yang diperoleh dari hasil berdagang. Misalnya, modal harus dikembalikan lagi dengan utuh. Kemudian, keuntungan juga harus dibagi-bagi, antara lain untuk tabungan, biaya hidup sehari-hari, dan dana cadangan. ”Pelatihan semacam ini bagus. Kalau sebelumnya semua uang tercampur sehingga bisa kepakai lagi. Sejak tahu ilmunya, enggak boleh campur lagi uangnya,” kata Linda.

Khodisah, pengurus APKLI, menambahkan, sejak memperoleh ilmu mengelola keuangan, ada rekan perempuannya sesama pedagang kaki lima menjadi lebih galak. ”Galaknya gini, kalau biasanya suami habis dua bungkus rokok dalam sehari, sekarang sudah bisa minta suami mengurangi rokok. Uangnya bisa ditabung,” kata Khodisah.

Ilmu itu langsung diterapkan oleh Linda, Khodisah, dan rekan-rekannya. Kini, ilmu keuangan itu tak hanya membuat sistem pembukuan para pedagang kaki lima menjadi lebih tertib, tetapi juga membuat penggunaan dana lebih tepat. ”Ada yang sebelumnya tidak punya tabungan, kini sudah punya. Bahkan ada yang punya asuransi dan investasi kecil-kecilan,” kata Khodisah.

Acara itu merupakan pertanggungjawaban sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) Asuransi Prudential Indonesia, yang bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Gumelar mengemukakan, dengan kemampuan mengatur keuangan,  kewirausahaan dapat lebih kuat. Khususnya bagi wirausaha perempuan, yang jumlahnya sekitar 60 persen dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Presiden Direktur Prudential Indonesia William Kuan menambahkan, perempuan di Indonesia banyak menjalankan usaha kecil. ”Meski demikian, yang memiliki akses pengetahuan keuangan baik masih sedikit,” kata Kuan.

Sebenarnya, langkah pengenalan terhadap lembaga keuangan ini sesuai dengan program Bank Indonesia (BI), yakni inklusi keuangan. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, sekitar 60 persen dari penduduk Indonesia atau 142 juta jiwa belum tersentuh lembaga keuangan.

Assistant Vice President Corporate Communication Prudential Indonesia Widyananto Sutanto mengakui, sampai kini Prudential belum bekerja sama dengan BI atau perbankan di Indonesia meskipun memiliki misi yang sama, yakni mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan kepada masyarakat. (IDR)

 


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: