Selasa, 21 Oktober 2014

/ Bisnis & Keuangan

Dirut BNI: Intermediasi Perbankan Masih Dapat Diandalkan

Senin, 12 Desember 2011 | 13:31 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Utama PT BNI (Persero) Tbk Gatot M Suwondo menyebutkan, peran perbankan sebagai intermediasi masih dapat diandalkan. Kondisi ini tidak lain didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih baik.

"Data yang ada menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat mencapai 6,5 sampai dengan triwulan III-2011. Diprediksi, secara keseluruhan pada tahun 2011 akan tumbuh pada kisaran 6,5 persen," ucap Gatot dalam "Kompas 100 CEO Forum" di Jakarta, Senin (12/12/2011).

Hal yang mendukung pertumbuhan ekonomi itu adalah pertumbuhan ekspor dan konsumsi domestik. Keduanya ini mendorong pertumbuhan investasi.

Gatot pun menyebutkan, ekonomi Indonesia sendiri tetap terkena imbas krisis utang yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Diperkirakan, ekonomi Indonesia pun akan mengalami sedikit perlambatan. "Meskipun diperkirakan akan sedikit melambat (karena) krisis global, proyeksi ekonomi Indonesia pada tahun 2012 masih cukup prospektif. Diprediksi akan tumbuh 6,4  persen-6,7 persen," ucapnya.

"Prospektif ekonomi Indonesia tahun depan juga akan menjadi faktor pendorong yang signifikan bagi perbankan sebagai lembaga intermediasi, di mana bank akan selalu mengikuti perkembangan bisnis sektor riil," sebut Gatot.

Kondisi yang mendukung ini pun bisa dilihat berdasarkan data saat ini. Hingga kuartal III-2011, ucap dia, rasio kredit (loan to deposit ratio) tumbuh dari 35 persen pada tahun 2000 menjadi 81,3 persen pada kuartal III-2011.

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 25,3 persen (year on year) dan dana pihak ketiga tumbuh sebesar 18,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Gatot pun menyebutkan, pertumbuhan kredit sektor produktif masih mendominasi pertumbuhan kredit perbankan, yakni naik 26 persen. Sedangkan, pertumbuhan kredit pada sektor konsumsi sedikit lebih kecil dengan 23,7 persen. "Pertumbuhan kredit produktif dimotori kredit investasi 31,1 persen dan kredit modal kerja 24 persen," katanya. Menurut dia, pertumbuhan kredit investasi tersebut menandakan peran perbankan yang baik dalam mendorong sektor riil untuk melakukan pengembangan usahanya.

Perbankan juga, lanjutnya, masih cukup agresif dalam membuka cabangnya. Ini ditandai dengan kenaikan beban operasional terhadap pendapatan operasional dari 86,26 persen menjadi 87,14 persen dalam dua tahun terakhir ini.

Secara keseluruhan, terang Gatot, fundamental perbankan nasional masih cukup baik dalam menghadapi krisis global. Buktinya, rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 16,6 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,67 persen. Total modal perbankan pun sudah naik menjadi Rp 393 ,8 triliun. "Hal ini menunjukkan, secara internal perbankan Indonesia lebih siap menghadapi krisis yang mungkin terjadi," kata Gatot.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ester Meryana
Editor : Erlangga Djumena