Sabtu, 19 April 2014

/ Bisnis & Keuangan

Andi Susanto, Melepas Posisi Manajer demi Bisnis Sendiri

Jumat, 6 Januari 2012 | 09:26 WIB

Baca juga

KOMPAS.com -  Melalui PT Megawastu Solusindo dan PT Megawastu Digital, Andi Susanto sukses mengembangkan bisnis penyewaan personal computer (PC) dan penyewaan kamera. Ia bahkan keluar dari pekerjaan karena keinginan berbisnis sendiri.

Sebelum menjadi pengusaha, Andi Susanto pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah media asing di Jakarta. Saat itu, tugas Andi adalah sebagai penyuplai data, seperti kurs mata uang, valuta asing, data perdagangan saham, dan juga bursa komoditas. Hampir sepuluh tahun lamanya Andi mengabdi di media itu. Ia pernah menempati berbagai posisi, mulai staf biasa hingga jabatan yang terakhir menjadi account manager.

Saat menjabat sebagai account manager itu, Andi banyak mengerjakan berbagai data penting yang menyangkut perbankan dan perusahaan. "Saya memang memiliki banyak pengalaman soal data," kata alumnus Universitas Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah itu.

Walaupun jabatan terakhirnya terbilang nyaman, namun pria berusia 42 tahun ini tak tertarik untuk meneruskan kariernya. Ia memilih mengundurkan diri pada tahun 2001 karena lebih tertarik berbisnis sendiri. Keputusan Andi membuka usaha sendiri sebenarnya adalah wujud cita-cita masa kecilnya, yaitu menjadi seorang pengusaha. Karena itu, begitu lepas dari status karyawan, Andi langsung menyusun konsep usaha yang bakal dijalaninya, yaitu usaha penyewaan PC. Begitu persiapan sudah matang, melalui bendera usaha PT Megawastu Solusindo, pada 2003, Andi mulai menawarkan jasa sewa PC. Perusahaan ini berdiri dengan modal yang berasal dari tabungan Andi dan sebagian lainnya utang bank. Pertama kali menawarkan jasanya, Andi menawarkan 80 set PC dengan enam unit server. Tapi tak semua PC itu laku disewa. "Meyakinkan klien dengan usaha baru itu ternyata sulit," kenang Andi.

Butuh tiga tahun bagi Andi meyakinkan para calon klien bahwa menggunakan PC sewaan itu lebih efisien bagi perusahaan. Sampai 2006 usahanya mulai stabil dan ia berhasil mendapatkan dua kontrak sewa jangka panjang dari perbankan. Seiring waktu, jumlah klien Andi terus bertambah. Hingga kini, tak kurang 10 klien sudah berada di genggaman Andi, baik klien perbankan maupun klien perusahaan. Setidaknya 300 PC kini sudah tersebar di berbagai usaha itu.

Andi menyewakan PC itu dalam bentuk paket. Satu set PC yang disewakan terdiri dari central processing unit (CPU), monitor, keyboard, mouse, berikut dengan software. Klien Andi yang kebanyakan dari perbankan memang bukan kebetulan. Seperti kata ahli pemasaran, berjualan akan lebih mudah kalau sudah mengenal calon pembelinya.

Jurus itu pula yang dipakai Andi. Saat ia masih bekerja di perusahaan media, Andi memang sudah banyak kenal dengan kalangan perbankan yang menjadi relasi perusahaannya. "Saya dulu bekerja dengan profesional, sehingga banyak relasi percaya dengan bisnis saya," klaim Andi.

Untuk merawat kepercayaan itu, Andi berusaha memberikan pelayanan terbaik. Ia menyiagakan tim reparasi PC selama 24 jam plus tenaga teknisi yang khusus menjaga data klien bila terjadi kerusakan PC. "Saya punya layanan pencegahan jika terjadi kerusakan, inilah nilai tambah bisnis saya," terang Andi.

Andi menegaskan, bisnis sewa PC ini memang bukan hasil pertimbangan semalam. Sebelum terjun ke bisnis ini, Andi sudah melakukan analisis kelayakan bisnis serta kesiapan pasar. Ketika itu, Andi sadar bisnis ini persaingannya ketat. Namun hasil analisisnya, tidak semua persewaan PC berani menawarkan jasa untuk kebutuhan divisi trading. "Peluang inilah yang saya ambil," katanya.

Menurut Andi, setiap perbankan memiliki divisi trading yang bertugas melakukan transaksi keuangan, termasuk transaksi kurs antarbank. Divisi ini biasanya butuh data historis agar mudah menganalisis pasar modal. "Saya unggul karena paham dengan informasi trading yang dibutuhkan perbankan itu," terang Andi. Untuk mendukung usaha itu, pada 2005 Andi mengembangkan software khusus yang bisa mempercepat proses transaksi. Ia menawarkan software itu khusus untuk membuat transaksi real time. "Intinya harus kreatif memberikan pelayanan sewa PC ini," jelas Andi.

Saat ini melayani penyewaan komputer di 10 bank besar di Tanah Air. Andi mengaku, dengan tarif sewa Rp 500.000 hingga Rp 1 juta per bulan, omzet per bulan dari bisnis ini mencapai Rp 500 juta.

Melebarkan sayap bisnis

Setelah sukses di usaha penyewaan personal computer (PC), Andi Sudanto melebarkan sayap bisnis mendirikan penyewaan alat fotografi pada 2007. Dengan modal Rp 300 juta, bisnis penyewaan alat fotografi itu kini mampu mendulang omzet Rp 100 juta per bulan. Pelanggan Andi adalah para penggemar fotografi.

Dengan mengusung bendera PT Megawastu Digital, Andi menawarkan jasa sewa peralatan fotografi itu sejak 2007. Lewat situs sewakamera.com, Andi memasarkan beragam jenis kamera untuk disewakan, mulai kamera digital single lens reflex (DSLR) hingga kamera non DSLR, termasuk kamera untuk video.

Tak hanya itu, Andi juga memperkaya jasa sewa alat fotografi itu dengan beragam aksesori fotografi, seperti lensa, filter, flash, studio lighting, tripod, layar background, baterai, printer foto, hingga kostum untuk model foto. Keputusan Andi membuka jasa sewa kamera itu terinspirasi dari hobinya di bidang fotografi. Pria berusia 42 tahun itu menyenangi fotografi sejak 2004, kala itu ia aktif dalam kegiatan salah satu komunitas foto di Jakarta.

Di komunitas fotografi itulah Andi menemukan ide membuka usaha penyewaan alat fotografi. Ia melihat banyak peralatan fotografi yang dibutuhkan penggemar fotografi. "Saat itulah saya kepikiran membuat usaha penyewaan alat fotografi, apalagi saat itu penyewaan alat fotografi masih langka," terang Andi.

Walaupun ada yang menyewakan alat fotografi, tapi hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang. "Saat itu banyak fotografer hanya memanfaatkan pinjam-meminjam peralatan dari teman," terang Andi.

Sebelum memutuskan untuk membuka usaha sewa alat fotografi itu, Andi terlebih dahulu melakukan survei pasar. Hasilnya, Andi menemukan banyak penggemar fotografi tetapi tidak memiliki peralatan fotografi yang lengkap. "Kelompok inilah konsumen saya," ucap Andi.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Andi lantas mendirikan usaha penyewaan alat fotografi itu. Dengan modal Rp 300 juta, ia membeli beberapa buah kamera DSLR, lensa serta aksesori kamera secukupnya. Untuk mendapatkan pelanggan, Andi buka kantor di Jakarta dan kantor cabang di Bali. Ia sengaja buka cabang di Bali karena Bali adalah daerah tujuan wisata yang kerap jadi tujuan memotret bagi fotografer.

Setiap pekan, Andi melayani sedikitnya 100 penyewa kamera, lensa atau aksesori fotografi lainnya. Para penyewa itu berasal dari Jabodetabek dan Bali. Untuk harga sewa alat fotografi seperti kamera, Andi mematok tarif mulai Rp 130.000 per hari sampai jutaan rupiah. Harga tergantung dari jenis kamera yang disewa. Semakin berkualitas kamera itu tentu semakin mahal tarif sewanya.

Adapun tarif sewa lensa, Andi mematok seharga Rp 25.000 sampai dengan Rp 560.000 per hari, tergantung ukuran dan harga lensa yang disewakan tersebut. "Sekarang ini saya punya 200 ragam jenis lensa yang bisa disewakan," jelas Andi.

Dari jasa sewa alat fotografi tersebut, Andi setidaknya mampu mendulang omzet hingga Rp 100 juta per bulan. Omzet itu tidak hanya datang dari jasa penyewaan saja, tetapi juga dari denda keterlambatan sewa sampai dengan biaya ganti rugi jika terjadi kerusakan alat oleh si penyewa. Andi mencatat, sejak memulai usaha ia sudah melayani 4.000 pelanggan. "Kebanyakan dari mereka adalah fotografer profesional, tapi tentu ada juga yang amatir," ungkap Andi.

Menurut Andi, bisnis penyewaan fotografi akan terus berkembang seiring dengan perkembangan dunia teknologi informasi. Maraknya media sosial juga ikut mempopulerkan fotografi. "Semakin banyak penggemar fotografi, semakin berkembang juga usaha penyewaan kami ini," kata dia.

Namun begitu, untuk menekuni bisnis penyewaan alat fotografi memiliki risiko. Sebab, usaha penyewaan alat ini butuh modal besar karena harga alat fotografi tersebut terbilang mahal. Jika tidak hati-hati, alat yang akan disewakan itu bisa rusak atau bahkan raib dibawa oleh si penyewa yang tak bertanggung jawab. "Maka itu kami mewajibkan adanya identitas bagi si penyewa alat kami," kata Andi. (Hafid Fuad/Kontan)

 


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: