Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 21:41 WIB
JEPANG
Surat Kabar, Tak Pudar dan Tetap Berjaya
| Kamis, 19 Januari 2012 | 03:01 WIB
|
Share:

Media cetak mungkin saja mengalami krisis di Barat di tengah kemajuan teknologi informasi yang pesat, tetapi tidak demikian di Jepang. Oplah media cetak tetap sangat besar. Jika perlu, media menggunakan cara abad pertengahan untuk menjangkau para pembaca.

Bencana tsunami, 11 Maret 2011, menimpa pesisir timur laut Jepang dan menewaskan atau menghilangkan 19.000 orang. Tsunami juga menimbulkan bencana nuklir Fukushima serta merendam percetakan Ishinomaki Hibi Shimbun. Surat kabar beroplah 14.000 eksemplar itu mempunyai berita terbesar di usia 100 tahun, tetapi tak bisa mencetaknya.

Para wartawan harian ini pun melakukan apa yang dilakukan rahib dengan Alkitab di biara Eropa pada Zaman Pertengahan, dengan menulis pesan lewat tulisan tangan. Ini adalah contoh kedekatan surat kabar dengan pembaca, yang di Barat telah lama terkikis. Ini memperlihatkan media cetak Jepang tak terpukul parah oleh media baru.

”Kami bertemu dengan staf malam itu untuk membicarakan apa yang dapat dilakukan,” kenang Hiroyuki Takeuchi, Pemimpin Redaksi Ishinomaki. ”Kami sepakat surat kabar lokal mana pun akan kehilangan tujuan hidup kalau tak memberi layanan ketika komunitasnya dalam krisis.”

Pendekatan back-to-basic merupakan gagasan dari Koichi Ohmi, redaktur pelaksana dan kolumnis harian itu. ”Ayo!” katanya kepada para wartawan. ”Kita masih bisa mengeluarkan surat kabar hanya dengan pena dan kertas.”

Mereka merobek kertas dari mesin cetak yang tak berfungsi, mengambil pena, dan menuliskan apa yang paling ingin diketahui warga yang selamat. Keadaan di distrik masing-masing, jadwal pembagian ransum, dan informasi layanan medis pun disajikan. Tanpa jaringan distribusi dan kendaraan, para reporter berjalan ke pusat evakuasi korban berlindung. Di sana, surat kabar bertulisan tangan itu mereka tempelkan.

Yukie Yamada, seorang perempuan berusia 44 tahun yang selamat, mengatakan, ”Setiap hari semua orang melongok ke koran dinding itu, dan kami memelototi setiap artikel. Surat kabar itu memberi apa yang kami butuhkan.”

Produksi koran dinding itu berjalan enam hari sampai aliran listrik pulih dan wartawan bisa mencetak koran dengan printer komputer standar. Takeuchi mengatakan, yang mereka lakukan adalah misi sosial koran di wilayah bencana.

Kesetiaan itu timbal balik. Menurut World Association of Newspapers, Jepang ada di urutan kedua soal penetrasi pasar media cetak. Sekitar 92 persen dari total penduduk membaca koran, atau nomor dua di dunia setelah Eslandia. Harian Yomiuri Shimbun, misalnya, beroplah 13,5 juta per hari. Surat kabar merupakan bacaan standar komuter Jepang yang berangkat dan pulang kerja dengan kereta. ”Model bisnis media cetak Jepang berbeda dibandingkan negara maju lain,” kata Tsutomu Kanayama, profesor kajian media Universitas Ritsumeikan, Tokyo.

Industri itu mengandalkan sistem pengantaran sampai ke rumah, bukan penjualan di kios koran. Faktor lain adalah fokus mendapatkan kepercayaan pembaca, serta mempertahankan hubungan dengan komunitas. ”Warga pergi ke surat kabar dan memercayai informasi mereka setelah bencana.”

Namun, para analis memperingatkan akan ada lebih banyak tantangan di masa depan. ”Apa yang terjadi di AS dan negara maju lain nantinya akan terjadi di Jepang dalam hal mendapatkan diversifikasi informasi,” kata Kanayama. (AFP/DI)