Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 21:42 WIB
Tiga BUMN Ini Dipuji Dahlan Iskan
Ester Meryana | I Made Asdhiana | Selasa, 24 Januari 2012 | 22:04 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Menteri BUMN Dahlan Iskan.

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan memuji langkah PT Perusahaan Gas Negara, PT Pertamina, dan PT Perusahaan Listrik Negara dalam menemukan solusi bagi penyediaan gas untuk operasi PT Pupuk Iskandar Muda.

Akhirnya mereka menemukan tadi suatu jalan keluar yang menurut saya terobosan "out of the box" yang sangat bagus.
-- Dahlan Iskan

Dahlan menyebutkan, ide awalnya, kilang gas alam cair (LNG) Arun yang merupakan penyuplai gas bagi PIM menggunakan receiving terminal. LNG Arun dijadikan gas untuk PIM agar perseroan ini bisa beroperasi penuh. Tetapi, ide ini tidak mungkin dilakukan karena merugikan bagi Pertamina dan PIM. Pasalnya, harga gas kemahalan bagi PIM sedangkan Pertamina rugi karena tidak bisa menjual gasnya.

"Akhirnya mereka menemukan tadi suatu jalan keluar yang menurut saya terobosan out of the box yang sangat bagus," kata Dahlan, usai menghadiri rapat pimpinan BUMN, di Jakarta, Selasa (24/1/2012).

Dahlan menjelaskan rencananya, jika disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan BP Migas, PIM akan mendapatkan gas dari perusahaan Exxon, di Aceh. Sementara itu, kebutuhan ekspornya Exxon akan dipenuhi oleh LNG dari Bontang, Kalimantan Timur. Ini dilakukan karena Exxon telah terikat kontrak untuk ekspor.

"Tapi kan Exxon sudah terikat kontrak untuk ekspor. Berarti nanti itu Exxon nggak bisa memenuhi kewajibannya. Itu kan nggak boleh. Nah itu di-swap (tukar). Nanti Exxon diganti LNG dari Bontang, sehingga ekspornya Exxon nanti dikirim dari Bontang saja," tutur Dahlan.

Akan tetapi, lanjut Dahlan, suplai gas dari Exxon ke PIM sebenarnya berlebih. Kelebihan itu nanti akan dipakai oleh PLN untuk menghidupkan listrik di Aceh. Rencana ini dinilai Dahlan sebagai suatu hal yang sangat brilian. Maka dari itu, ia berharap agar Kementerian ESDM dan BP Migas bisa menyetujuinya. "Ini nanti PIM-nya bisa hidup, listrik Aceh (pun) bisa cukup. Terus komitmen ekspor dari Exxon sendiri bisa terpenuhi," katanya.