Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 22:09 WIB
Dampak Krisis
Ekonom: Antisipasi Banjir Barang China
Ester Meryana | Erlangga Djumena | Rabu, 8 Februari 2012 | 13:52 WIB
|
Share:
Ilustrasi: Produk impor, terutama dari China, sudah lama membanjiri pasar domestik. UU Perdagangan diperlukan untuk melindungi produk domestik dari serbuan produk impor itu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Aviliani mengatakan, pemerintah perlu mengantisipasi arus barang impor dari China pada pertengahan tahun 2012. Sekarang ini, menurut dia, China belum terkena dampak yang berarti dari krisis utang yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat.

"Kalau melihat dampak Amerika Serikat dan Eropa ini belum sampai ke China ya. Kira-kira pertengahan 2012 harus dilihat lagi. Karena kalau China terkena imbas itu mereka akan buang barangnya ke sini, jadi mungkin impor kita akan tinggi lagi," sebut Aviliani, dalam acara Jakarta Food Security Summit, di Jakarta, Rabu (8/2/2012).

Apalagi, kata dia, China akan menjual barangnya lebih murah ke Indonesia. Dengan begitu, angka impor bisa melonjak. Sebagai solusi, ia berharap Kementerian Perdagangan dan kementerian terkait lainnya sudah bisa mengantisipasi barang impor dari negara Asia Timur itu. "Salah satunya dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) itu harus mulai diperketat (bagi barang impor) sehingga aliran masuknya tidak terlalu deras," pungkas Aviliani.

Untuk diketahui saja, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, China masih menjadi sumber terbesar impor Indonesia. Angka total impor Indonesia pun melonjak 30,69 persen pada tahun 2011 dari tahun sebelumnya. Sekalipun impor tumbuh cukup tinggi, neraca perdagangan nasional masih tetap surplus dengan 26,3 miliar dollar AS pada tahun lalu.