Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 22:15 WIB
Pasar Tunggu Yunani, Rupiah Belum Bergerak
| Erlangga Djumena | Kamis, 9 Februari 2012 | 10:10 WIB
|
Share:
kompas/heru sri kumoro Perbandingan nilai mata uang rupiah terhadap mata uang asing

JAKARTA, KOMPAS.com -  Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Kamis pagi belum bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp 8.870 per dollar AS.

Analis Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis (9/2/2012) mengatakan, pelaku pasar uang tengah menunggu hasil kesepakatan antara Yunani dengan parlemen terutama dengan partai oposisi terkait persetujuan pengetatan finansial sebagai kompensasi pinjaman. "Seperti lazimnya negara pasien IMF (dana moneter internasional), pada akhirnya sulit untuk tidak menyetujui kondisi ketat sebagai kompensasi pinjaman (dana talangan), begitupun Yunani," kata dia.

Ia menambahkan, Perdana Menteri Yunani tampaknya akan menyetujui letter of intent (LoI) IMF dengan memangkas pengeluaran secara permanen, menurunkan besaran pensiun, dan menurunkan upah minimum 20 persen. "Dipastikan ekonomi akan semakin kontraksi sebesar minus 4-5 persen untuk tahun ini. Namun PM Yunani masih juga belum bertemu dengan parlemen terutama dengan partai oposisi," kata dia.

Kemungkinan, lanjut dia, persetujuan pemerintah itu akan mendapat penolakan, dan Yunani akan menghadapi krisis politik berikutnya. Namun investor merespon positif perkembangan di Yunani ini.

Managing Research Indosurya Asset Management, Reza Priyambada menambahkan, kesepakatan antara yunani dengan Troika (Uni Eropa, Dana Moneter Internasional/IMF, Bank Sentral Eropa/ECB) terhadap penanganan utang Yunani dapat memicu mata uang resiko termasuk rupiah menguat hari ini.

Ia mengatakan, optimisme pelaku pasar uang terhadap Yunani dalam mendapatkan paket dana talangan (bailout) mendorong optimisme pelaku pasar. "Pelaku pasar kembali optimis terhadap penanganan utang Yunani, kondisi itu memicu pelaku pasar yakin krisis utang di Yunani akan terselesaikan," kata dia.

Ia menambahkan, optimisme itu akan memberi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah, penyaluran paket "bailout" kedua, juga turut mendorong permintaan untuk aset ber-"yield" lebih tinggi.

 

Sumber :
ANT