Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 18:19 WIB
Perdagangan Luar Negeri
Bea Keluar untuk Karet Tidak Tepat
Eny Prihtiyani | Marcus Suprihadi | Kamis, 9 Februari 2012 | 19:19 WIB
|
Share:
KOMPAS/HAMZIRWAN Ilustrasi: Seorang petani karet di Desa Alue Buloh, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, tengah mengumpulkan bahan olahan karet rakyat (bokar) di kebun.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketentuan bea keluar untuk komoditas karet dinilai bukan kebijakan tepat. Bea keluar untuk karet tidak akan efektif untuk mendorong hilirisasi karet.

Bea keluar tersebut hanya akan membebani petani meski menguntungkan bagi negara karena mendapatkan sumber pendapatan baru.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh, Kamis (9/2/2012), di Jakarta mengatakan, penerapan bea keluar untuk karet tidak akan efektif. Hilirisasi industri karet sulit dilakukan karena rata-rata produsen sudah memiliki kontrak jangka panjang dengan para pembeli di berbagai negara.

"Investasi dalam negeri untuk ban juga sulit. Jadi bea keluar sulit kalau diharapkan bisa mendorong hilirisasi. Kalau tujuan untuk menambah pendapatan pemerintah, bisa saja dilakukan, tapi akan menjadi beban bagi petani," katanya.

Dia mengatakan, sejauh ini wacana penerapan bea keluar untuk karet baru sebatas usulan Kementerian Perindsutrian. Sampai saat ini usulan tersebut belum ditindaklanjuti secara serius karena Kementerian Perdagangan menilai langkah tersebut kurang tepat.

Menteri Perindustrian telah menyampaikan usulan pengenaan bea keluar terhadap karet pada 23-24 Desember 2011 dalam kesempatan retreat kabinet.