JAKARTA, KOMPAS.com - Harga kopi Arabika pada perdagangan kemarin ditutup melemah melewati rata-rata pergerakan (moving average) dalam 40 hari perdagangan di tengah penyempitan kontrak Maret/Mei.
Pasar dilanda aksi short covering akan tetapi pada akhir hari perdagangan terjadi aksi spekulasi jual setelah gagal menembus level tertinggi pada perdagangan dua sesi sebelumnya.
Harga kopi Arabika di ICE untuk kontrak Maret d itutup melemah 4,9 sen atau 2,2 persen. Volume perdagangan untuk kontrak Maret mencapai 16.732 lot, sementara total volume untuk semua bulan mencapai 31.772 lot.
Sementara itu menurut informasi dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, Jumat (10/2/2012). harga kopi di Bandar Lampung diperdagangkan pada Rp.18.900/kg. Harga kopi di Bandar Lampung menurun Rp.1389/kg atau melemah 6.8% dibandingkan perdagangan tanggal 2 Februari 2012 .
Ekspor kopi robusta Indonesia ke Jepang senilai 1,35 juta dollar AS per tahun terhambat, menyusul rendahnya ambang batas residu pestisida karbaril yang diterapkan sejak 2009 oleh Pemerintah Negeri Sakura itu.
Kopi robusta yang ditolak masuk ke Jepang, kendati sudah berada di pelabuhan negara itu bisa mencapai 20-30 kontainer per tahun, dengan nilai sekitar 45.000 dollar AS per kontainer. Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) bersama pemerintah sedang mengupayakan agar ambang batas bisa direvisi, sehingga ekspor kopi robusta ke Jepang bisa kembali maksimal dan diharapkan penurunan sudah bisa dilakukan sebelum panen kopi pada Juni.
Pemerintah Jepang menerapkan ambang batas residu pestisida karbaril sebesar 0,01 persen , yang dinilai cukup rendah bagi eksportir kopi. Adapun, kopi robusta sering terkena karbaril.
Jepang merupakan pasar yang besar bagi Indonesia. Tiga negara terbesar pasar ekspor kopi Indonesia adalah Jerman, Jepang, dan A merika Serikat.
Meskipun Indonesia merupakan salah satu negara penghasil terbesar kopi, nyatanya masih melakukan impor berkisarn 40.000-50.000 ton kopi dari Vietnam pada tahun lalu. Pada tahun ini produksi kopi diperkirakan 600.000 ton, untuk pasar domestik 200.000 ton dan sisanya ekspor.
Volume ekspor tidak bisa dikurangi karena tingginya permintaan dunia terhadap kopi Indonesia.
