Kamis, 24 April 2014

/ Internasional

Hubungan Rusia-Suriah Amat Strategis

Senin, 13 Februari 2012 | 08:09 WIB

Baca juga

Kasus veto Rusia dan China terhadap rancangan resolusi Arab-Barat yang diajukan Maroko dua pekan lalu di forum Dewan Keamanan PBB menjadi isu utama yang terus diperbincangkan di berbagi forum di dunia Arab. Ada yang mendukung, tetapi lebih banyak yang mengkritik penggunaan hak veto itu.

Tindakan Rusia menggunakan hak veto tersebut dilihat sebagai bentuk dukungan tanpa batas terhadap Suriah, khususnya selama berkobarnya aksi unjuk rasa antirezim Presiden Bashar al Assad, 11 bulan terakhir ini.

Rusia juga terus menyuplai senjata ke Suriah. Rusia bulan lalu telah mengirim kapal perangnya ke kota pelabuhan Tartus di Suriah sebagai simbol dukungan terhadap rezim Presiden Assad. Pangkalan militer Rusia (dulu Uni Soviet) sudah dibangun di kota pelabuhan Tartus sejak tahun 1963.

Bagi Rusia, Suriah memiliki nilai strategis secara militer dan politik maupun ekonomi. Suriah adalah pasar senjata Rusia terbesar di Timur Tengah. Hampir semua peralatan militer Suriah adalah buatan Rusia.

Uni Soviet (sebelum bubar menjadi Rusia) adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Suriah pada tahun 1946. Hubungan Uni Soviet-Suriah semakin kuat setelah Presiden Hafez Assad, ayah Presiden Suriah sekarang, memegang kekuasaan di Damaskus pada tahun 1970.

Kontrak senjata

Setelah penasihat militer Uni Soviet diusir dari Mesir pada tahun 1972, Uni Soviet semakin mengandalkan Suriah yang diperintah partai sosialis Baath untuk memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah. Peralatan militer Uni Soviet semakin mengalir banyak ke Suriah saat itu. Uni Soviet juga menjadi jaminan bagi dukungan politik Suriah di pentas internasional.

Hubungan strategis Rusia- Suriah itu tergambarkan pula ketika Rusia pada tahun 2005 menghapus 75 persen utang Suriah kepada Rusia. Sebagian besar utang Suriah kepada Rusia berasal dari pembelian senjata buatan Rusia oleh Suriah. Utang Suriah terhadap Rusia saat itu mencapai 13 miliar dollar AS.

Meski Rusia terpaksa menghapus sebagian besar utang Suriah ke Moskwa, ekspor peralatan militer Rusia ke Suriah justru naik antara 7 dan 10 persen sejak saat itu.

Di tengah gencarnya aksi unjuk rasa antirezim Presiden Assad di berbagai kota di Suriah, Rusia saat ini justru mengirim 60 ton senjata, lengkap dengan suku cadangnya.

Rusia dan Suriah bulan lalu berhasil mencapai kesepakatan untuk menyuplai Suriah dengan 130 pesawat jet tempur tipe Yak-130 dengan nilai kontrak 550 juta dollar AS dan kontrak bisnis peralatan militer lainnya senilai 700 juta dollar AS.

Neraca perdagangan Rusia-Suriah saat ini mencapai nilai hampir dua miliar dollar AS, khususnya dalam kerja sama di bidang minyak dan gas.

Sejumlah pengamat mengatakan, dukungan tanpa batas Rusia atas Suriah saat ini hanya semata untuk menghentikan hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah. Rusia ingin menunjukkan bahwa Barat, khususnya AS, tidak bisa bergerak semena-mena secara sepihak.

Namun, bagi pengkritik, tindakan Rusia menggunakan hak veto, untuk menggagalkan rancangan resolusi Arab-Barat di forum DK PBB, lebih banyak membawa kerugian daripada keuntungan bagi Rusia. Kini banyak tangisan warga di Suriah yang merasa terancam setiap hari. Pemerintah Suriah seperti tidak peduli pada tuntutan sah rakyat soal demokrasi. (MTH)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: