Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 19:05 WIB
Obligasi Yunani Kian Terpuruk
Orin Basuki | Nasru Alam Aziz | Rabu, 15 Februari 2012 | 19:50 WIB
|
Share:
AP Photo/Kostas Tsironis Seorang pria duduk termenung di tangga gedung Zappeion di Athena, Kamis (3/11/2011).

ATHENA, KOMPAS.com — Imbal hasil obligasi Pemerintah Yunani bertenor 10 tahun akhirnya menembus level yang dalam beberapa bulan terakhir ini berusaha dilewati, yakni 30 persen. Ini mengindikasikan semakin mahalnya biaya yang harus ditanggung Pemerintah Yunani dalam memperoleh uang segar dari pasar surat utang.

Pada Rabu (15/2/2012), tercatat imbal hasil obligasi yang diterbitkan Pemerintah Yunani untuk tenor 10 tahun ada pada level 30,18 persen atau terjadi lonjakan imbal hasil sebesar 0,26 persen dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya.

"Imbal hasil penutupan pasar hari ini menunjukkan obligasi Yunani untuk tenor 10 tahun ada di level 33,301 persen, bahkan sempat menyentuh level 33,31 persen," ujar pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, di Jakarta, Rabu (15/2/2012).

Sebelumnya, para menteri keuangan di zona Euro membatalkan pembicaraan rencana suntikan dana 130 miliar euro untuk Yunani pada hari Rabu. Itu terjadi karena mereka belum mendapatkan laporan tertulis dari pimpinan partai politik Yunani yang dapat mendorong pemangkasan anggaran belanja atau klarifikasi seluruh rencana penghematan anggaran di negara itu. Suntikan dana ini dibutuhkan Yunani untuk bulan depan agar terhindar dari kebangkrutan.

Meskipun demikian, menurut Yanuar, ada indikasi Yunani dibiarkan bangkrut karena bagaimana pun juga para pelaku pasar modal membutuhkan fluktuasi imbal hasil dan harga obligasi agar mendapat keuntungan. Apalagi, secara prinsip, perilaku kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) berbeda dengan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).

The Fed cenderung menyerap surat-surat utang di pasar melalui program "Quantitative Easing", kemudian menggunakan uang tersebut untuk menstabilkan pasar keuangan, bahkan sentor riil. Adapun ECB cenderung menolak lungsuran suntikan dana kepada anggotanya yang "sakit".

"Namun, secara teknikal, Yunani terkesan dibiarkan bangkrut dan menjadi sentimen yang memicu pembalikan arah ke pasar instrumen investasi lain," tuturnya.

Yanuar mencatat belum ada imbal hasil yang sedemikian tinggi seperti yang dialami Yunani selama ini. Sebelumnya, posisi terburuk yang dialami Indonesia, misalnya, hanya mengalami imbal hasil Sertifikat Bank Indonesia (SBI) maksimal 23 persen pada tahun 2002.