Selasa, 2 September 2014

News / Bisnis & Keuangan

Premium Naik, Harga Kebutuhan Pokok Bakal Ikut Naik

Kamis, 16 Februari 2012 | 01:12 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Eksekutif Indonesian Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani Mustika berpendapat, jika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi jenis premium pada April 2012 mendatang maka kenaikan harga bahan pokok akan sulit dibendung.

"Yang tidak bisa dibendung kenaikan tarif transportasi, ekspektasi pedagang soal harga kebutuhan pokok dan produk pertanian," kata Erani pada sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (15/2/2012).

Menurut dia, pemerintah akan kesulitan mengendalikan atau mengantisipasi efek tular dari kenaikan BBM. "Ini pengalaman menaikkan harga BBM pada tahun 2005. Harga beras, gula, dan lainnya berlipat naiknya sehingga tingkat inflasi tidak bisa dikendalikan," ujarnya.

Jika kenaikan harga premium Rp 1.500 per liter maka tingkat inflasi diperkirakan 9-10 persen. "Problem yang sering muncul adalah mafia komoditas, problem infrastruktur, oligopoli terhadap distribusi barang sulit dikendalikan," ujarnya.

Erani memperkirakan pemerintah akan menaikkan harga BBM bersubsidi jenis premium Rp 1.000 per liter. Saat ini harga premium Rp 4.500 sehingga jika dinaikkan Rp 1.000 per liter menjadi Rp 5.500 per liter.

Kenaikan harga premium tampaknya akan menjadi pilihan utama pemerintah daripada kebijakan pembatasan premium. "Perkembangan terakhir BBM bersubsidi akan dinaikkan. Terakhir cuma mau dilihat besaran kenaikannya antara Rp 500 sampai Rp 1.500 per liter. Tapi paling-paling nanti diambil jalan tengahnya Rp 1.000 per liter," kata Erani.

Menurut dia, kenaikan harga premium Rp 1.000 per liter bisa menghemat APBN Rp 40 triliun hingga Rp 50 triliun. "Yang saya tidak tahu apa transportasi publik dan sepeda motor kena kenaikan harga. Ini masih jadi perdebatan sampai sekarang," kata Erani.

Diakuinya, kenaikan harga BBM hingga Rp 1.500 per liter akan berdampak pada inflasi tahun 2012 yang diperkirakan tembus hingga 10 persen, suku bunga bank akan naik, tingkat pengangguran meningkat, dan pertumbuhan ekonomi bisa 5-5,3 persen. "Kalau pembatasan BBM yang dilakukan akan lebih rumit karena dampaknya bisa ke mana-mana. Semakin tidak realistis untuk diterapkan," ujarnya. (Hasanudin Aco)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Erlangga Djumena
Sumber: