KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan
MAKASSAR, KOMPAS.com — Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, dirinya bukan seseorang yang anti dengan kebijakan ekspor. Namun, ia lebih menginginkan agar ekspor diisi dengan produk yang punya nilai tambah atau mengalami pengolahan lebih lanjut.
"Saya bukan anti-ekspor. Tapi kalau ekspor bahan baku yang nilainya hanya Rp 10 perak (padahal bisa lebih)," ujar Gita dalam kuliah umum di Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis (16/2/2012).
Gita pun menceritakan, ketika dirinya bersama dengan sejumlah menteri memutuskan untuk melarang ekspor bahan baku rotan dengan keluarnya Peraturan Menteri Perdagangan akhir tahun lalu bukan tanpa maksud. Menurut dia, dengan kebijakan itu maka pemerintah akan berusaha membangun sentra produksi di sumber bahan baku, yakni Sulawesi dan Kalimantan. "Tidak hanya di Cirebon saja. Jadi policy tidak boleh kedengaran dan kelihatan Jawa centric," tambah Gita.
Selain itu, pemerintah juga tidak tinggal diam terhadap penyerapan bahan baku rotan ketika ekspor dilarang. Pemerintah, kata Gita, pun berkomitmen untuk menyerap bahan baku rotan secara maksimal. Jangan sampai rotan petani tidak laku di pasar karena tidak ada pembeli.
"Jangan sampai kita itu puas diri dengan desain-desain orang yang sudah berlaku dari 20-30 tahun yang lalu," tambahnya, terkait dengan pemberian nilai tambah pada rotan. Desain produk rotan nasional diharapkannya tidak kalah dengan desain negara-negara Eropa dan China.
"(Jadi) saya enggak pernah bilang anti-ekspor. Tapi saya pro ekspor apa pun yang punya nilai tambah," pungkas Gita.
