MAKASSAR, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, berharap agar porsi ekspor terhadap produk domestik bruto (PDB) bisa meningkat ke depannya. Porsi ekspor terhadap PDB diharapkan bisa mencapai 35 persen dalam lima tahun ke depan. Sekarang ini porsi ekspor masih 26 persen. "Kita belum tahu ekuilibriumnya (porsi ekspor Indonesia yang pas terhadap PDB) itu dimana. Tapi tentunya ke depannya kita akan telaah apakah 26 persen ini terlalu rendah atau terlalu tinggi," sebut Gita kepada Kompas.com, di Makassar, Kamis (16/2/2012).
Gita menuturkan, Kementerian Perdagangan akan berusaha meningkatkan porsi ekspor terhadap PDB ini ke depannya. Akan tetapi, ia bilang pertambahan porsi ini tidak akan signifikan. Pasalnya, porsi ekspor yang rendah inilah yang menyelamatkan ekonomi Indonesia dari imbas krisis global. "Tapi justru posisi sekarang ini di 26 persen justru merupakan posisi yang menyelamatkan kitalah dari shock yang sedang dan telah terjadi di beberapa tempat di dunia," tambah dia.
Meningkatnya nilai ekspor pun diharapkan dia bukan karena bertambahnya kuantitas melainkan kualitas. Ada peningkatan nilai tambah dari barang yang diekspor. "Kalau kita lihat ke depannya tentu kita ingin sekali meningkatkan angka-angka dari 26 persen ini akan mudah-mudahan mencerminkan policy dan implementasi kita untuk meningkatkan nilai tambah. Jadi ekspor-ekspor kita kita itu bukan meningkatkan bukan hanya karena peningkatan volume tapi mudah-mudahan karena peningkatan nilai tambah yang dikandung dalam kuantitas yang kita kirim keluar itu," paparnya.
Lalu, berapa angka yang menjadi target Kementerian Perdagangan? Gita menyebutkan angka 30-35 persen diharapkan bisa tercapai dalam lima tahun ke depan. Ia tetap berpikir bahwa pemerintah harus tetap mempertahankan porsi konsumsi domestik yang besar terhadap PDB yang sekarang ini bisa 55-60 persen dari PDB. "Tapi saya rasa kenaikannya tidak terlalu siginifikan. Karena justru konsumsi domestik ini yang selama ini menyelamatkan. Dan itu akan kita freezer (pertahankan) ke depan. Saya rasa sekitar 30-35 persen. Itu angka yang akan kita coba ke depan," pungkasnya.
Sebelumnya, Redaktur Regional Oxford Business Group, Paulius Kuncinas, menyebutkan, perdagangan akan menjadi penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. "Sekalipun ekspor Indonesia masih rendah, tapi kami melihat Indonesia masih mungkin mencapai yang lebih baik dengan memanfaatkan peningkatan perdagangan global baik di jasa maupun barang," sebut Paulius dalam peluncuran laporan Oxford Business Group terkait ekonomi Indonesia 2012, di Jakarta, Selasa (14/2/2012).
Paulius menyebutkan, berdasarkan informasi ekonom Citi, total volume perdagangan global akan mencapai 112 triliun dollar AS pada tahun 2030. Sekarang ini, volume perdagangan masih sekitar 37 triliun dollar AS. Negara-negara berkembang Asia akan mendapatkan manfaat yang terbesar dari peningkatan volume perdagangan dunia. Manfaat yang lebih juga akan didapatkan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, seiring dengan hubungan dagang yang kian dalam dan integrasi rantai pasok regional.
