Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 00:00 WIB
Larangan BBM Bersubsidi Untuk Mobil Pribadi Lebih Aman
FX. Laksana Agung S | Robert Adhi Ksp | Minggu, 26 Februari 2012 | 14:10 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Komite Ekonomi Nasional Aviliani di Jakarta, Minggu (26/2/2012), menyatakan, pemerintah harus mewaspadai risiko melambungnya inflasi jika harga bahan bakar minyak (BBM) akan dinaikkan.

Kenaikan harga BBM senilai Rp 2.000 per liter dari harga sekarang akan menghemat anggaran subsidi sebesar Rp 26 triliun. Namun risiko inflasinya tinggi.
-- Aviliani

Larangan penggunaan konsumsi BBM bersubsidi khusus untuk mobil pribadi dinilai lebih kecil risiko inflasinya dibanding kenaikan harga BBM untuk semua kendaraan.

Menurut Aviliani, kenaikan harga BBM senilai Rp 2.000 per liter dari harga sekarang akan menghemat anggaran subsidi sebesar Rp 26 triliun. Namun risiko inflasinya tinggi.     

Sementara jika harga tetap dengan disertai kebijakan larangan konsumsi BBM untuk mobil pribadi akan menghemat dana subsidi sekitar Rp 40 triliun. Risiko inflasinya pun lebih kecil karena tidak menyangkut tranpsortasi secara luas.

"Kalau untuk kenaikan harga BBM, berat. Kenaikan harga akan mendorong inflasi dan berimbas pada masyarakat. Paling signifikan adalah mobil pribadi tidak boleh mengonsumsi BBM bersubsidi. Inflasinya tidak akan sebesar kenaikan harga BBM, dan dana penghematannya lebih besar," kata Aviliani.