KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Pegawai bank menghitung uang dollar Amerika di bank Bukopin, Jakarta, Selasa (3/1/2012).
JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada Selasa pagi bergerak menguat 25 poin seiring dengan perkiraan intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar uang.
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa pagi bergerak menguat 25 poin ke posisi Rp 9.135 dibanding sebelumnya Rp 9.160 per dollar AS. "Nilai tukar rupiah menguat, penguatan itu diperkirakan intervensi BI yang masuk ke pasar dikarenakan rupiah sudah tertekan cukup dalam," kata pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan, tertekannya rupiah terhadap dollar AS hingga ke kisaran Rp 9.100 mendorong BI masuk ke pasar uang agar tidak tertekan lebih dalam lagi. "Terpuruknya rupiah dipicu sentimen dalam negeri terkait dengan kebijakan pemerintah akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM)," ujarnya.
Kebijakan itu memicu investor melakukan ’redemption’ di pasar keuangan dalam negeri. Hal ini membuat pelaku pasar tidak tertarik memegang rupiah. "Kondisi itu membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi jaga terhadap portofolionya untuk memelihara likuiditas dan melepas rupiah," ucapnya.
Analis pasar uang Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih menambahkan, tampaknya BI masuk ke pasar dikarenkan nilai tukar dalam negeri mendekati batas psikologis yang mudah tertekan. "Intervensi ini membuat mata uang domestik berpeluang menguat menuju kisaran antara Rp 9.080 s/d Rp 9.120 per dollar AS," katanya.
Ia menambahkan, sementara itu rencana kenaikan harga BBM tampaknya tidak akan mundur dari 1 April mendatang. Dengan kenaikan itu, inflasi berpotensi melesat di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 yaitu 5,3 persen. "Namun demikian pemerintah merasa yakin dapat mengelola inflasi tidak jauh dari target asumsi itu," katanya.
