Kamis, 30 Oktober 2014

News / Sains

Greenpeace Tuding APP Tebang Tanaman Dilindungi

Kamis, 1 Maret 2012 | 18:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Organisasi Greenpeace menuding perusahaan kertas Asia Pulp and Paper yang bernaung di bawah Sinarmas Group menghancurkan kayu ramin, spesies tanaman dilindungi berdasarkan Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).

Dalam konferensi pers, Kamis (1/3/2012) di Jakarta, Greenpeace menyatakan bahwa fakta tersebut didapatkan setelah investigasi yang berlangsung selama 1 tahun pada 2011 dengan mengunjungi pabrik Indah Kiat di Perawang, Sumatera.

Di tempat tersebut, Greenpeace mengambil sampel dari 46 gelondong kayu dan mengirimkannya ke sebuah laboratorium independen di Jerman. Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa sampel yang diambil mengandung ramin.

"Greenpeace menangkap basah Asia Pulp and Paper. Investigasi ini telah jelas-jelas menunjukkan bahwa mereka menggunakan ramin ilegal," ujar Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

Greenpeace menunjukkan bahwa APP melakukan penebangan hutan gambut, termasuk menebang ramin. Sejak tahun 2001, di mana penebangan ramin dilarang, setidaknya APP telah menghancurkan 180.000 hektar hutan atau dua kali luas Jakarta.

Sejumlah pihak yang menggunakan kertas APP, di antaranya vendor IT terkemuka di dunia yang juga memasarkan produknya di Indonesia, retail, dan food beverage dinilai Greenpeace juga terlibat dalam perusakan hutan.

Penghancuran hutan, menurut Greenpeace, tidak hanya mengurangi populasi ramin yang saat ini makin langka. Penebangan juga mengancam populasi Harimau Sumatera yang kini tinggal 400 ekor dan juga terancam oleh aktivitas perburuan.

Berdasarkan hasil temuan, Bustar mengharapkan APP melakukan perbaikan pada usahanya. Ia mengharapkan APP menghentikan penebangan dan tidak menggunakan kayu ramin, menjaga hutan alam yang tersisa serta berkomitmen menggunakan kayu hasil plantation.

"Perusahaan yang bernaung di bawah Sinarmas, Golden Agri Resources, sudah berkomitmen untuk tidak merusak gambut, melakukan Free Prior Infirm Concern (FPIC) pada masyarakat dan melindungi lahan bernilai konservasi tinggi. Kalau perusahaan Sinarmas lain bisa, harusnya APP juga bisa," jelas Bustar.

Menanggapi pernyataan Greenpeace, Aida Greenbury, Direktur Sustainibility APP, mengatakan bahwa APP tidak melakukan penebangan, tidak menggunakan spesies tanaman dilindungi, serta memiliki sistem lacak-balak yang baik untuk mendeteksi adanya spesies kayu dilindungi.

"Tapi kami tetap berterima kasih pada Greenpeace dan akan menindaklanjuti temuan ini dengan investigasi. Kita akan lihat apakah ada ramin. Lihat juga pada koordinat penemuan serta membaca lagi laporan Greenpeace," ungkap Aida saat dihubungi hari ini.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Tri Wahono