Senin, 20 Oktober 2014

/ Bisnis & Keuangan

Antisipasi Inflasi, BI Utamakan Operasi Moneter

Selasa, 17 April 2012 | 20:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) akan mengutamakan operasi moneter dalam menghadapi ekspetasi inflasi yang mulai meningkat. Namun demikian, BI akan tetap menyiapkan langkah-langkah lanjutan, seperti mengkaji ulang besaran giro wajib minimum.

"Kita memang melihat adanya indikasi bahwa ekspetasi inflasi ini memang mulai meningkat. Anda bisa lihat indikator apakah dari survei penjualan eceran dari pedagang, survei ekspetasi konsumen maupun juga implied inflation expectation dari pelaku pasar keuangan memang ada indikasi ekspektasi inflasi itu meningkat," sebut Kepala Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam diskusi dengan wartawan di Kantor Bank Indonesia, Selasa (17/4/2012).

Dalam mengantisipasi ekspektasi inflasi yang meningkat, BI pun melakukan penguatan dalam operasi moneter. Perry menyebutkan, operasi yang bertujuan untuk mengendalikan likuiditas ini telah dilakukan mulai bulan lalu.

Dengan penguatan operasi moneter, BI berusaha menjaga suku bunga operasi moneter dan pasar uang sedikit bergerak naik, khususnya untuk tenor-tenor yang lebih dari satu hari.

Pada awal Maret, kata dia, suku bunga operasi moneter untuk deposit facility untuk tenor satu malam (overnight) sekitar 3,75 persen, dan untuk tenor sampai 9 bulan itu sekitar 3,8 persen.

"Dengan penguatan operasi moneter yang kita lakukan bulan lalu sampai sekarang kenapa kemudian suku bunga operasi moneter kita untuk yang deposit facility untuk yang satu hari masih kita maintain 3,75 persen, dan untuk yang tenornya 9 bulan itu sekitar 4 persen," paparnya.

Sekalipun ada sedikit kenaikan untuk suku bunga yang tenornya 9 bulan, Perry menyatakan, persentase sebesar 4 persen masih rendah. Dengan begitu, tidak ada alasan bagi bank untuk menaikkan suku bunga deposito atau suku bunga kredit.

Selain melakukan penguatan operasi moneter, kata dia, BI akan tetap menyiapkan langkah-langkah lanjutan. Langkah-langkah ini akan tergantung kebijakan pemerintah, misalnya terkait bahan bakar minyak (BBM) dan dampaknya terhadap inflasi.

"Langkah yang lain pengendalian likuiditas secara langsung di samping terus melakukan penguatan operasi moneter tentu saja langkah yang kita siapkan pengendalian likuiditas secara langsung melalui review giro wajib minimum. Itu yang sedang disiapkan. Diterapkan seperti apa dan bagaimana kita lihat bagaimana pemerintah mengambil keputusan kebijakan terkait BBM dampaknya terhadap inflasi seperti apa," pungkas Perry.


Penulis: Ester Meryana
Editor : Tri Wahono