Rabu, 23 Juli 2014

/ Laktasi

Air Susu Ibu

Pemahaman Ibu Menyusui Masih Rendah

Rabu, 2 Mei 2012 | 07:38 WIB

Baca juga

Jakarta, Kompas - Tingkat pemberian air susu ibu eksklusif di Indonesia masih rendah. Kondisi ini terjadi di semua daerah dan kelompok ekonomi masyarakat. Rendahnya pengetahuan tentang manfaat ASI dan gencarnya informasi susu formula membuat masa depan banyak anak Indonesia dikorbankan.

Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (1/5), mengatakan, pemberian ASI secara benar dapat mengurangi risiko ibu menderita berbagai penyakit, mulai dari kanker payudara, kanker rahim, kanker indung telur, rematik, keropos tulang, hingga kencing manis.

Pemberian ASI yang benar terdiri atas beberapa tahap, mulai dari inisiasi menyusui dini, pemberian ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan, pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berumur 6 bulan yang dibuat sendiri, dan menyusui hingga bayi berumur 2 tahun.

”Banyak ibu tak memberikan ASI dengan benar karena tak tahu manfaatnya,” katanya.

Riset Kesehatan Dasar 2010 menyebut, hanya 15,3 persen bayi umur kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif. Makin tinggi kondisi ekonomi keluarga, makin rendah tingkat pemberian ASI eksklusif. Tingkat pemberian ASI eksklusif tertinggi terdapat pada kelompok keluarga termiskin sebesar 34,7 persen.

Kondisi ini mengkhawatirkan karena harga susu formula tidak murah, tidak sebanding dengan pendapatan keluarga. Untuk menyiasati, banyak keluarga miskin mengurangi takaran susu formula sehingga susu lebih encer.

Ini berarti bayi kurang mendapat zat-zat gizi yang dibutuhkan. Pengurangan takaran susu bayi berdampak panjang bagi masa depan bayi. Kondisi ini tak akan terjadi jika pemberian ASI eksklusif berjalan baik.

Ahli gizi di Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Zainal Arifin, menambahkan, rendahnya pemberian ASI eksklusif di semua daerah dan kelompok ekonomi terjadi karena makin banyak ibu yang harus bekerja. Ibu bekerja bukan hanya terjadi pada kelompok menengah atas, melainkan juga kelompok menengah bawah.

Banyaknya kaum ibu menengah bawah yang harus bekerja terlihat di kawasan industri di sekitar Jakarta. Setiap pergantian jam kerja, banyak kaum ibu pergi atau pulang bekerja.

Kondisi itu juga terjadi kota kecil yang memiliki banyak industri, seperti Jombang. Perusahaan yang banyak mempekerjakan perempuan antara lain perusahaan rokok dan sepatu.

Hal ini berarti makin sedikit ibu yang bisa memberikan ASI eksklusif kepada bayinya selama enam bulan. Terlebih sesuai aturan, cuti hamil hanya diberikan maksimal tiga bulan.

Zainal mengingatkan pentingnya setiap perusahaan atau tempat kerja menyediakan pondok ASI atau tempat menyusui agar ibu dapat tetap menyusui bayi atau memerah susu dan menyimpan di lemari es untuk menjaga kualitas susu.

Diwajibkan


Meski kewajiban menyediakan tempat menyusui diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, pelaksanaan PP di Jombang dikuatkan dengan peraturan bupati. Perusahaan yang tidak menyediakan tempat menyusui bisa dikenai sanksi.

Kewajiban penyediaan tempat menyusui ini diberlakukan untuk semua perusahaan, tak bergantung pada jumlah pekerja perempuan.

Menurut Zainal, saat ini baru ada 10 perusahaan yang banyak memiliki tenaga kerja wanita yang menyediakan tempat menyusui. Masih banyak perusahaan yang belum menyediakan fasilitas tersebut.

Utami menambahkan, rendahnya pemberian ASI eksklusif diperparah adanya tenaga kesehatan yang belum memahami pentingnya pemberian ASI. Akibatnya, mereka justru mendorong pemberian susu formula ataupun makanan pendamping ASI instan kepada bayi.

”Memang ada sedikit faktor budaya yang menghambat pemberian ASI secara benar, tetapi yang paling gencar adalah informasi tentang susu formula,” kata Utami.

Selain itu, keberhasilan pemberian ASI juga sangat ditentukan peran suami. Saat ibu tenang dan berpikir positif, akan memicu hormon oksitosin yang membuat ASI yang dihasilkan ibu banyak. Sebaliknya, jika ibu tak tenang, baik akibat terlalu banyak pikiran di rumah maupun tekanan kerja, jumlah ASI menurun.

Menyusui juga akan mengurangi stres dan depresi ibu. Dari penelitian, ibu yang menyusui dengan benar, 4,8 kali lebih jarang menelantarkan atau melakukan kekerasan kepada anaknya. Pemberian ASI secara benar dapat mengurangi risiko ibu menderita berbagai penyakit.(MZW)

 


Editor : Asep Candra
Sumber: